Apakah Aku Tidak Layak Untuk Di Cintai

Apakah Aku Tidak Layak Untuk Di Cintai
Bab 18


__ADS_3

Suasana rumah sakit begitu hening. Saat ini Vivian sendiri di rumah inap karena dia sendiri menyuruh Arum untuk pulang istirahat. Dia tidak ingin merepotkan wanita itu, apalagi status wanita itu mempunyai suami.


Tiba-tiba pintu di ruangannya terbuka. Menampakkan sosok beberapa orang lelaki yang masuk menggunakan baju seragam dinas.


"Selamat pagi, apakah benar anda ibu Vivian?" tanya salah satu dari mereka.


"Iya pak, ada apa pak?" tanya Vivian dengan bingung.


"Anda kami tahan dengan tuduhan melakukan penganiayaan terhadap nona Gea, untuk itu kami akan membawa anda untuk di minta keterangannya."


Vivian sungguh kaget saat dirinya di laporkan oleh Gea. Dia tidak menyangka wanita itu akan melaporkan dirinya kepada pihak berwajib.


"Mana surat tugasnya pak?" tanya Vivian.


Vivian sangat tau kalau polisi menangkapnya lansung berarti polisi sudah mendapatkan visum dan barang bukti sebagai acuan.


Polisi pun menyerah surat tugas yang ada di tangannya. Vivian membaca itu hanya pasrah.


"Ada apa ini?" tanya El bingung saat melihat polisi di ruangan Vivian bersama seorang dokter.


"Saudari Vivian kami tahan karena melakukan tindakan penganiayaan terhadap saudari Gea." jawab salah seorang polisi.


Arum kaget mendengar jawaban sang polisi. Dia tidak menyangka Gea akan melakukan hal seperti ini.


"Bapak nggak bisa membawa teman saya seperti ini, dia masih di rawat dan kenapa tidak di panggil terlebih dahulu sebelum di tangkap." ucap Arum tidak terima karena dia saat itu berada di tempat kejadiannya.


" Berdasarkan ketentuan Pasal 17 KUHAP tersebut, dapat dipahami bahwa jika seseorang yang dilaporkan ke Polisi kemudian langsung ditangkap tanpa dipanggil terlebih dahulu berarti Penyidik sudah menemukan bukti permulaan yang cukup, tentunya setelah dilakukan pemeriksaan saksi-saksi. Dan sebaliknya, jika seseorang yang dilaporkan Polisi itu tidak langsung ditangkap melainkan dilakukan pemanggilan terlebih dahulu berarti Penyidik belum menemukan bukti permulaan yang cukup atas peristiwa tindak pidana yang dilaporkan. Karena penangkapan hanya dilakukan dengan dasar bukti permulaan yang cukup." jawab salah seorang polisi.


"Dan sebelumnya kami sudah berdiskusi dengan dokternya, menurut dokternya keadaannya sudah membaik dan sudah bisa pulang hari ini."


"Tapi pak dia adalah korban juga, saya saksi di sana." ucap Arum.


"Anda bisa jelaskan di kantor polisi."


El hanya diam menyaksikan Vivian di bawa oleh polisi. Sementara Vivian sudah pasrah ketika polisi membawanya.


"Apakah ini takdir hidupku? Apakah di sana tempat akhir tujuanku?" tanyanya dalam hati.


Arum bisa merasakan bagaimana pedihnya penderitaan wanita itu.


"A kenapa diam saja? Lakukan sesuatu." desak Arum.


"A akan hubungi pengacara a, biar dia yang urus karena akan lebih paham."


"Aa tolong bantu dia, bagaimanapun dia sedang menuju kebaikan, jika dia tertekan bisa - bisa dia melakukan hal yang di luar pemikiran kita." ucap Arum.


El pun akhirnya menghubungi pengacaranya. Setelah itu dia meminta pengacara tersebut untuk bertemu dengannya di kantor polisi.


"Ayo kita ke sana." ajak El kepada Arum.

__ADS_1


Sedangkan Alby dan Gea sedang tersenyum senang saat melihat Vivian di bawa ke kantor polisi.


"Bagaimana jika El dan Arum membantunya?" tanya Gea kepada Alby.


"Setidaknya wanita itu akan shock, aku tidak akan membiarkan wanita itu senang - senang setelah menghancurkan keluarga ku." ucap Alby.


Mereka akhirnya meninggalkan rumah sakit. Hal tersebut di saksikan lansung oleh Rio. Rio memang tidak sengaja melihat keduanya di rumah sakit. Dia saat ini sedang menjenguk bosnya Kevin.


"Kenapa Alby begitu jahat sama Vivian, padahal dia yang mengejar - ngejar Vivian, aku harus menemui Nirma." ucap Rio yang tidak ingin Alby semakin jahat dan semakin bertindak terlalu jauh


Rio tau betul bagaimana Nirma bisa bercerai dengan Beni. Walaupun Vivian pernah menjadi simpanan Beni, namun Nirma masih memaafkannya. Yang membuat Nirma geram adalah Beni yang tidak pernah sadar dengan sikapnya. Selalu bermain perempuan, apalagi setelah Vivian pergi. Lelaki itu tidak cukup dengan satu simpanan lagi, namun selalu mencari wanita yang berbeda tiap malamnya.


Rio begitu lama tidak bertemu dengan Nirma. Dia juga sudah lama tidak berkomunikasi dengan wanita itu. Namun dia merasa ini masalah urgent yang takutnya menghancurkan Alby.


Rio mencoba menelpon wanita itu dengan ragu. Dia ragu apakah wanita itu mau menemui dirinya.


...****************...


"Jadi Alby mengetahui salah satu simpanan Beni saat Beni masih menjabat di kantor?" tanya Nirma setelah mendengar cerita Rio.


Mereka sengaja bertemu di salah satu restoran tempat mereka makan dulunya.


"Iya, dan sepertinya Alby tidak terima karena wanita itu bekas simpanan papanya, jadi dia melampiaskan marahnya sama wanita itu karena dia tidak mungkin bisa memiliki wanita itu."


Nirma semakin bingung kenapa anak itu mencintai wanita yang sama dengan papanya.


Rio menganggukkan kepalanya karena ia begitu melihat bagaimana cintanya Alby kepada Vivian saat itu.


"Siapa wanita itu?" tanya Nirma pemasaran dengan wanita yang di sukai oleh anak dan bapak itu.


"Dia sekretaris papanya Alby sebelum kamu pecat."


"Vivian." tebak Nirma.


Melihat Rio menganggukkan kepalanya membuat Nirma tidak percaya akan hal itu. Dia melihat Vivian sangat baik kepadanya. Dia juga mengakui bahwa wanita itu memang sangat cantik. Kecantikannya membuat banyak lelaki yang memimpikannya untuk menjadikan istri.


"Jadi wanita itu Vivian, aku sungguh tidak menyangka.," ungkap Nirma.


"Aku tau perceraian kamu tidak sepenuhnya salah Vivian, walaupun dia pernah menjadi salah satu wanita simpanan mantan kamu itu, tapi papanya yang punya banyak wanita, jadi tolong kamu stop agar Alby tidak melakukan hal yang bisa membuat dia semakin berbuat terlalu jauh."


Nirma menatap lelaki yang duduk di depannya. Walaupun dua tahun mereka berpisah, namun di hatinya masih ada lelaki itu.


"Kamu semakin dewasa dan tampan." ucap Nirma dalam hatinya memuji lelaki yang ada di hadapannya.


"Baiklah, nanti aku akan bicara dengan Alby, terima kasih atas infonya." ucap Nirma.


Setelah bertemu dengan Rio, Nirma lansung menuju kantornya. Dia lansung menuju ruangan Alby. Dia juga tidak ingin Alby melakukan hal yang merugikan dirinya sendiri. Apalagi Alby adalah anak yang baik selama ini. Dan lelaki itu juga calon pemimpin di perusahaannya.


Saat membuka pintu ruangan Alby, Nirma sungguh kaget saat melihat seorang wanita ada di pelukan Alby. Dia mengenal wanita itu sebagai teman anaknya. Namun dia tidak menyukai apa yang ia liat saat ini.

__ADS_1


"Alby apa yang kamu lakukan?" tanya Nirma masuk dan menutup pintu.


Alby lansung mendorong Gea sehingga wanita itu jatuh dari pelukannya. Dia tidak menyangka bahwa mamanya akan kembali k kantor dan masuk ke ruangannya.


"Ma.. Ini... Ini.."


"Apa yang kalian lakukan? Apakah kalian pikir kantor ini tempat mesum?" tanya mamanya dengan nada marah.


Melihat Gea saat ini membuat Nirma begitu tidak menyukai wanita itu. Dia sangat yakin wanita itu pembawa hal buruk terhadap anaknya.


"Kamu juga, sebagai perempuan kenapa murahan sekali, mau aja di sentuh oleh lelaki yang nggak ada hubungan dengan kamu." ucap Nirma menunjuk Gea.


Nirma tau bahwa mereka berdua tidak ada hubungan apapun. Karena setau Nirma mereka hanya teman.


"Mama kok gitu ngomong sama Gea?" kali ini Alby mencoba membela Gea.


"Apa yang di bawa oleh perempuan ini hanya pengaruh buruk untuk kamu, dia rela memberikan tubuhnya kepada kamu untuk menarik kamu menjadi miliknya, apa wanita seperti ini yang kamu mau?"


Tanpa sadar Alby menggelengkan kepalanya. Yah dia sangat tidak menyukai Gea sejak dulu karena mulutnya yang ember.


"Kenapa aku bisa memeluk dia tadi? hampir saja aku menciumnya." ucap Alby dalam hatinya.


Gea yang melihat Alby menggelengkan kepalanya merasa kesal. Dia sudah berusaha selama ini untuk mendekati Alby. Dan selama ini dia juga sudah berusaha untuk memikat Alby, termasuk dengan melakukan hal ini di ruangan Alby.


Dia merasa jika bisa menyenangkan Alby maka lelaki itu tidak akan pernah lepas dari dirinya lagi. Namun dia begitu kesal karena sang mama lelaki itu masuk dan memarahinya.


"Kamu keluar dari sini, karena saya mau bicara dengan anak saya, dan jangan datang lagi kesini, atau security yang akan menarik kamu keluar dari sini." ucap Nirma mengusir Gea.


Gea beranjak dari tempat duduknya karena kesal dengan ucapan wanita itu. Dia rasanya ingin menjawab atau menjambak rambut wanita itu karena menganggu rencananya.


"Untung kamu calon ibu mertua." gumamnya dalam hati.


Setelah Gea pergi barulah dia berbicara dengan Alby. Dia juga meminta kepada Alby agar tidak menggangu Vivian lagi.


"Darimana mama tau Vivian?" tanya Alby saat mamanya membahas Vivian.


"Rio memberi tau mama."


"Jadi mama masih bertemu dengan lelaki itu? Apa mama nggak tau malu bertemu dengan lelaki yang umurnya jauh di bawah mama? cukup memalukan punya mama seperti mama yang sepertinya haus belaian seorang lelaki."


Nirma lansung menampar sang anak karena ucapannya.


"Tega kamu mengatai mama seperti ini, mama bertemu dengan dia sekali ini dan itu membahas sikap kamu yang keterlaluan, itu semua pasti pengaruh Gea." ucap mamanya.


"Dan kamu juga tau perceraian mama bukan karena Vivian tapi masih banyak lagi wanita lain, papa kamu tidak bisa tidak berganti wanita tiap malam, mamanya takut papa kamu akan membawa penyakit untuk mama." ucap Nirma menjelaskan kepada Alby.


"Jangan kamu ganggu Vivian lagi karena menurut cerita Rio dia sedang belajar menjadi wanita baik, jika kamu memang mencintainya harusnya kamu dukung dia, walaupun kamu tidak pernah bisa memiliki dia." ucap Nirma setelah itu dia keluar dari ruangan Alby.


Sedangkan Alby hanya terdiam duduk di tempat memikirkan ucapan sang mamanya.

__ADS_1


__ADS_2