Apakah Aku Tidak Layak Untuk Di Cintai

Apakah Aku Tidak Layak Untuk Di Cintai
Bab 37


__ADS_3

Vivian telah sampai di rumah Bu Ros. Dia juga bingung kenapa Bu Ros memintanya untuk datang ke sana.


Dalam hatinya Vivian merasa takut bahwa Ros mengetahui kejadian malam ini. Dengan begini ia takut Ros akan memberhentikannya dari pekerjaannya.


Vivian tau tidak semua orang bisa menerima masa lalunya. Apalagi masa lalunya kadang muncul dan bisa menghancurkan reputasi bisnis seseorang.


Akan tetapi ketika melihat Vivian, justru wanita itu nampak tersenyum menyambutnya. Begitu juga dengan sang suaminya.


"Ada apa ini? Apa senyum ini kabar baik atau buruk?" tanya Vivian dalam hati.


Reno melihat Vivian begitu gugup saat melangkah masuk ke rumah tantenya. Vivian tidak seperti hari pertama datang.


"Wanita ini masa lalunya pahit sekali, tapi dia hebat mampu bertahan dengan pendiriannya." ucap Reno memuji Vivian dalam hatinya.


"Akhirnya kalian sampai juga." ucap Ros.


"ayo masuk, ini udah terlalu malam ya." ujar Tamrin tersenyum sumringah.


"Vivian nginap di sini saja, dan kamu boleh pulang sana." ucap Ros kepada Reno.


"Jadi setelah orangnya sampai, aku di usir begitu saja." jawab Reno tidak terima dengan pengusirannya.


"Baiknya kamu pulang, karena Vivian harus tidur, ini udah malam, besok kamu jemput dia pagi." kali ini Thamrin yang berbicara mewakili istrinya.

__ADS_1


Thamrin sangat berharap bahwa Vivian benar merupakan anaknya. Dia sudah tidak sabar untuk melakukan tes DNA untuk mengetahui hal tersebut.


Lalu mereka mengantarkan Vivian ke kamarnya untuk beristirahat.


"Beristirahatlah, besok Reno akan menjemput." ucap Thamrin sambil tersenyum.


"Terima kasih pak, buk." jawab Vivian.


Vivian membaringkan tubuhnya di atas ranjang empuk yang ada di kamarnya. Dia merasa lega karena dari yang ia tangkap bahwa tidak ada tanda - tanda dia akan di pecat.


Dia sangat berharap bahwa bu Ros dan suaminya memberinya kesempatan untuk membuktikan keahlian dirinya. Dia sangat yakin bahwa kali ini, apapun halangannya dia tetap akan menjadi sukses.


Vivian tertidur karena merasa sangat lelah. Dia hanya merasa sangat lelah saat ini.


Setelah itu Vivian turun ke dapur untuk membantu para pelayan. Dia beruntung setelah menikah dengan Wandi masih sempat belajar memasak dengan pelayan di rumah lelaki itu.


Melihat Vivian berada di dapur membuat pelayan merasa tidak enak hati. Namun Vivian mencoba meyakinkan pera pelayan yang di dapur bahwa ia hanya ingin membantu.


Kepala pelayan akhirnya membiarkan Vivian memasak sarapan pagi. Wanita itu nampak membuat nasi goreng.


Setelah selesai memasak, Vivian menyajikannya di meja makan. Dia hanya berharap Bu Ros dan pak Thamrin menyukai nasi goreng buatannya.


"Wow wanginya." ucap Bu Ros ketika berada di meja makan.

__ADS_1


"Ini masakan nona Vivian nyonya." jawab kepala pelayan kepada Bu Ros sambil tersenyum.


Bu Ros tersenyum mendengar penjelasan kepala pelayan. Dia bangga melihat Vivian yang sangat tau diri. Padahal dia tidak masalah kalau Vivian hanya tidur - tiduran di rumahnya.


"Wah ternyata ada lagi keahlian Vivian selain desain." ucap Bu Ros memuji Vivian.


"Biasa Tan, nggak tau enak atau tidak." jawab Vivian dengan merendah.


Pak Thamrin juga telah sampai di meja makan dengan baju yang rapi. Dia begitu sumringah pagi ini di mata Vivian.


"pa ini yang masak Vivian loh." Ros sengaja memberitahu sang suami. Entah kenapa dia merasa bangga sekali melihat Vivian pandai masak.


"Wah nggak sabar untuk mencicipi." ujar Thamrin yang lansung duduk dan membuka piringnya.


Vivian menuang nasi goreng ke piring Thamrin dan Bu Ros secara bergantian.


"Enak, persis seperti kamu yang enak masakan nasi gorengnya." ujar Thamrin menyuapnya dengan semangat.


"Iya, kamu ternyata banyak bakatnya." ujar Ros mengakui bahwa nasi goreng buatan wanita itu.


Mereka makan sambil bercengkerama. Vivian merasa lega saat tinggal bersama mereka.


"Vivian setelah makan kita duduk di ruang tamu ya, ada yang mau bapak tanyakan." ucap Thamrin.

__ADS_1


"Baik pak." jawab Vivian menganggukkan kepalanya. Namun hatinya tetap bertanya-tanya. Apakah yang di tanyakan oleh Thamrin?


__ADS_2