
Vivian baru saja membuka matanya. Dia kembali mengingat apa kata dokter setelah sadar dari pingsannya. Dia memegang perutnya yang sudah kehilangan janinnya.
Kata - kata dokter masih terngiang-ngiang di telinganya bahwa janinnya keguguran karena pendarahan hebat. Vivian merasa sangat kehilangan sekali.
Dia melihat Wandi dan Gaby sedang tertidur di sofa ruangannya. Hatinya semakin sakit saat melihat keduanya tertidur sambil berpelukan.
"Dasar nggak punya perasaan, bisa - bisanya mereka tidur seperti itu tanpa memikirkan perasaan orang lain, lagian ngapain mereka di sini." gumam Vivian sangat kesal kepada keduanya.
Vivian terdiam sambil memikirkan apa langkah yang akan diambilnya. Vivian merasa dia harus mengambil sikap. Dia tidak ingin menjadi wanita lemah lagi.
"Aku harus bangkit dari keterpurukan ini, semua orang pasti punya masa lalu,namun tidak semua orang punya kesempatan untuk memperbaiki dirinya dengan baik." gumamnya lagi.
"Aku harus minta tolong sama Rio, sepertinya dia bisa membantu aku." Vivian ingat Rio sahabatnya yang bertemu dengannya tempo hari.
Wandi terbangun dari tidurnya, dia melihat Vivian yang sudah siuman dan melamun dengan air mata berlinang. Wandi mencoba melepaskan pelukannya dari Geby dengan perlahan. Dia berjalan menuju tempat tidur Vivian.
Vivian lansung mengusap air matanya ketika menyadari bahwa Wandi sedang berjalan menuju tempat tidurnya.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Wandi setelah duduk di kursi sebelah kanan tempat tidur Vivian.
"Kamu liat sendiri kan, apa penting bertanya seperti itu? Apa mungkin seorang ibu akan baik - baik saja setelah kehilangan anaknya." jawab Vivian dengan ketus.
Wandi mengerti kenapa wanita itu sangat ketus kepadanya. Walau bagaimanapun Vivian tidak pernah berbicara tidak sopan kepadanya sejak dulu.
"Harusnya aku yang bertanya, bagaimana apakah kamu senang melihat aku kehilangan anak aku?" tanya Vivian sambil tersenyum mengejek.
"Aku....aku..."
"Mari kita bercerai." ucap Vivian memotong pembicaraan Wandi.
Wandi sangat kaget mendengar perkataan yang keluar dari mulut Vivian. dia tidak menyangka bahwa wanita itu akan mengucapkan kata-kata itu.
"Vi kamu belum sembuh, kamu jangan bicara yang aneh - aneh dulu."Wandi tidak ingin menyakiti hati wanita itu saat ini. Entah kenapa ingin rasanya lelaki itu memeluk wanita yang ada di depannya itu. Dia sangat ingin menenangkan wanita itu dengan mengatakan tidak apa-apa.
"Aku merasa lebih cepat lebih baik, apalagi ini yang memang kalian tunggu - tunggu kan, sekarang kamu tidak punya tanggung jawab lagi, setelah kita bercerai kamu bisa menikahi pacar kamu secepatnya." ucap Vivian dengan wajah memerah. Saat ini dia mencoba untuk menangis. Dia berjanji tidak akan menangis di depan lelaki manapun termasuk Wandi.
"Vi kita bisa bahas ini nanti setelah kamu sembuh."
"Jika kamu tidak mau mengurusnya, biar aku yang akan mengurusnya nanti, sekarang lebih baik kalian tinggalkan ruangan ini, jika tidak pergi dalam 10 menit maka aku yang akan pergi." ancam Vivian tidak main - main.
__ADS_1
Wandi melihat kemarahan di mata wanita itu. Dia tau bahwa wanita itu begitu terluka. Dan dia sadar dialah penyebab utamanya.
"Vi jangan begitu, aku akan di sini nungguin kamu, ini udah terlalu malam juga, nggak mungkin Geby pulang sendirian." jawab Wandi dengan berhati-hati.
"Ya sudah biar aku yang pergi, aku tau kamu nggak tega bangunin dia." ucap Vivian mencoba bangkit dari tidurnya.
Walaupun kesakitan, mencoba menahannya. Dia tidak peduli lagi dan merasa sudah tidak tahan lagi untuk berhadapan dengan Wandi dan Geby.
Melihat Vivian yang bangkit dari tidurnya membuat Wandi mencoba menenangkan wanita itu.
"Vi jangan seperti ini."
"Lepaskan tangan kamu dari tangan saya, kamu lupa bahwa saya ini hanya wanita kotor." Vivian mencoba melepaskan infusnya di tangannya.
Melihat darah yang keluar dari tangan Wandi membuatnya panik. Dia segera memanggil dokter dan perawat.
Perawat masuk ke dalam kamar inap Vivian. Mereka segera memeriksa apa yang terjadi.
"Permisi pak, biar kami tanganin dulu." ucap perawat kepada Wandi.
"Saya nggak mau sus jika lelaki ini dan perempuan itu keluar dari kamar ini." jawab Vivian membuat para susternya bingung karena yang mau di usir adalah anak pemilik dari rumah sakit mereka bekerja.
"Ada baiknya bapak mendengarkan pak karena kondisi ibu ini masih lemah." ucap para suster mencoba menjelaskan kondisi saat ini kepada Wandi.
"Baiklah kami akan pergi." ucap Wandi akhirnya mencoba untuk mengalah.
Wandi lansung membangunkan Geby yang masih tertidur walaupun suasana agak ribut. Geby mengucek matanya saat mendengar Wandi membangunkannya.
"Mari kita pulang." ajak Wandi.
"Emang Vivian udah baikan?" tanya Geby membuat Vivian mencibir dalam hatinya.
"Nggak usah sok peduli dengan saya." ucap Vivian dalam hatinya.
Wandi tidak menjawab pertanyaan dari Geby. Dia lansung mengemas barang-barangnya.
"Ayo kita pulang." ajak Wandi.
Geby tidak membantah lagi dan hanya mengikuti langkah kaki Wandi. Dia sangat ngantuk dan capek karena seharian bekerja.
__ADS_1
Dia sebenarnya baru saja masuk ke ruangan itu setelah selesai melakukan operasi Caesar. Karena Wandi memintanya untuk menemaninya di sana.
"Ndi kenapa kamu ninggalin Vivian sendirian? Apa nggak apa-apa ndi?." tanya Geby setelah mereka berada di dalam mobil.
Wandi hanya diam tanpa menjawab pertanyaan Geby. Saat ini pikirannya ke Vivian yang sangat menolak dirinya. Dia juga ingat bahwa wanita itu bersikeras untuk di ceraikan.
"Aku kenapa seperti ini? Harusnya bukannya ini momen yang ku tunggu - tunggu." ucap Wandi di dalam hatinya.
"Tapi aku tidak terima jika dia yang meminta cerai, harusnya aku yang mengucapkannya, jika seperti ini seolah aku tidak ada harga dirinya." ucapnya lagi dalam hatinya.
Geby sangat kesal karena lelaki itu hanya diam tanpa menjawab pertanyaannya. Dia tidak tau entah apa yang ada di pikiran lelaki itu saat ini sambil menyetir sehingga mengabaikannya.
"WANDI." panggil Geby dengan suara yang lebih keras lagi.
Wandi lansung sadar dari lamunannya. Dia menatap Geby dengan sekilas sambil tersenyum.
"Iya kenapa sayang? Kok pakai teriak - teriak segala."
"Kamu sih, aku dari tadi ngomong malah di cuekin." ucap Geby mulai kesal.
"Ngomong apa? Maaf aku lagi fokus nyetir." Wandi mencoba mencari alasan agar wanitanya tidak tersinggung.
Dia tidak ingin wanitanya tau bahwa saat ini dia sedang memikirkan Vivian.
"Kamu kenapa diam aja, kamu mikirin apa sih?" tanya Geby mencoba mencari tau apa yang ada di pikiran lelaki itu.
"Nggak ada apa-apa."
"Kamu memikirkan Vivian?"
Wandi menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Kamu kenapa begitu kejam sekali, walaupun kamu tidak menginginkan dia, tapi setidaknya kamu di sana merawatnya." ucap Geby.
"Dia mengusir kita." jawab Wandi membuat Geby lansung kaget.
Dia tidak percaya bahwa wanita itu akan mengusir Wandi dari ruangan itu.
"Kamu serius? Mungkin dia begitu karena melihat aku." jawab Geby mengerti bagaimana perasaan Vivian. Karena bagaimanapun wanita itu istri dari lelaki itu.
__ADS_1
"Dan dia juga meminta cerai."
Geby tidak tau harus gembira atau tidak. Tujuan awalnya memang ingin menyakiti wanita itu. Dia sangat ingin membalaskan dendam atas apa yang di lakukan oleh Vivian. Namun saat ini dia merasa bahagia sama sekali.