Apakah Aku Tidak Layak Untuk Di Cintai

Apakah Aku Tidak Layak Untuk Di Cintai
Bab 15


__ADS_3

Vivian nampak ragu untuk melanggengkan kakinya menuju rumah mewah itu. Dia merasa malu untuk bertemu dengan lelaki itu. Karena dia yakin lelaki itu tidak akan mau menikahinya. Tapi saat ini dia tidak punya pilihan selain mencobanya. Apalagi setelah ancaman sang ibu.


Langkah kakinya terhenti karena melihat dua orang yang di kenalnya keluar dari rumah Wandi. Dia adalah Geby dan Wandi.


"Mereka udah bersama?" tanyanya pada dirinya sendiri.


Melihat kebahagiaan keduanya membuat Vivian mundur. Dia merasa ini bukan waktu yang tepat untuk bicara dengan lelaki itu.


Vivian bersembunyi saat mobil Wandi melewatinya. Dia tidak ingin mereka melihat kedatangannya.


Vivian akhirnya berjalan menjauh dari rumah Wandi. Dia melangkahkan kakinya namun tidak punya tujuan saat ini.


" Kak Vivian." Vivian menghentikan langkahnya saat mendengar ada yang memanggilnya. Dia memutar tubuhnya dan melihat Arum yang sedang berjalan mendekati dirinya.


Entah mengapa melihat wanita itu membuat Vivian merasa tidak menyukainya. Dia tau bahwa wanita itu yang memberi tau Alby mengenai hubungannya dengan Beni.


Vivian bahkan sama sekali tidak menyangka bahwa Arum akan mengatakan hal yang ingin di tutupinya. Ia terlalu percaya dengan wanita itu.


"Kak Vivian mau kemana?"


Arum menatap Vivian yang nampak pucat. Entah kenapa dia merasa pandangan Vivian juga aneh terhadap dirinya.


"Maaf aku lagi sibuk, lain kali saja kita bicara." ucap Vivian merasa malas untuk bicara dengan Arum saat ini.


Dia takut dirinya tidak bisa menahan dirinya dari emosi. Dia takut memaki wanita itu di sini. Namun dia berpikir dengan baik bahwa itu bukan salah wanita itu. Itu salah dirinya di masa lalu.


"Kok kakak melamun?" tanya Arum lagi.


"Ayok kita cari tempat duduk dulu, biar kita ngobrol, kamu sepertinya lagi ada masalah." ungkap Arum.


"Nggak perlu, nggak ada yang perlu kita bicarakan." ucap wanita itu lebih memilih pergi.


" Kak jangan pergi." Arum mencoba memanggilnya.


"Arum mau kemana?" tiba-tiba Arum menyadari bahwa yang memanggilnya adalah sang suami.


"A kita harus kejar kak Vivian, aku melihatnya tadi dan dia seperti dalam masalah." jawab Arum menjelaskan kepada suaminya.


El juga masih melihat wanita itu berjalan terburu-buru. Namun ia merasa enggan untuk ikut campur masalah wanita itu. Apalagi wanita itu pernah menjadi masa lalunya.


"Nggak usah yang, dia mungkin ada urusan,jadi terburu-buru."


"Nggak, dia seperti sedang ada masalah besar, kita harus membantunya." ucap Arum memaksa suaminya.


El hanya menggelengkan kepalanya melihat tindakan istrinya. Sang istri berjalan cepat untuk mengejar Vivian.


Arum merasakan bahwa Vivian sedang ada beban. Sebagai sesama wanita , dia merasa sangat yakin sekali.


Vivian mencoba melangkah kakinya dengan cepat. Dia melihat Arum dan El berusaha mengejarnya.


"Aku harus bisa lepas dari mereka, bagaimanapun aku tidak siap untuk bertemu dengan mereka." ucapnya sambil berlari.


Karena ia melihat kebelakang, ia tidak menyadari menabrak seseorang.

__ADS_1


"Mbak jalan hati - hati dong." ucap seorang wanita dengan marah.


"Maaf mbak, maafkan saya." ucap Vivian mencoba meminta maaf.


"Coba mbak liat, gara - gara kecerobohan mbak, minuman saya tumpah, dan ibu mengenai baju saya, mbak bisa ganti nggak? Saya hari ini ada interview, bagaimana dengan baju saya yang kotor seperti ini." Wanita di depannya tampak memperpanjang masalah.


"Aduh gimana ini? Aku harus pergi sebelum mereka sampai." ungkap Vivian dalam hati.


Vivian malah tidak menjawab perkataan wanita tadi. Dia nampak sibuk melihat kebelakang dengan panik.


"Mbak dengar saya bicara nggak?" tanya wanita itu dengan nada ngegas.


"Mbak...Mbak..saya."


"Apa? Mau lari dari tanggung jawab."


Wanita itu tampak kesal sekali. Dan akhirnya Arum sampai di tempat Vivian.


"Ada apa ini mbak?"


"Nggak usah ikut campur, ini urusan saya dengan mbak ini, dia telah mengotori baju saya dengan menabrak saya." ucap wanita itu.


"Tapi dari yang saya liat mbak tadi juga sibuk main hp, jika mbak nggak main hp sambil jalan, maka nggak mungkin mbak dan teman saya ini tabrakan, ini berarti sama - sama salah." ucap Arum yang memang sempat melihat keduanya dari jauh.


"Kamu...."


"Kamu apa? Jadi urusan baju mbak silahkan mbak selesaikan sendiri, ayo kak." ajak Arum menarik tangan Vivian.


Vivian tidak bisa lagi menghindari Arum. Sementara El hanya diam mengikuti langka kedua wanita itu.


"Kamu ada masalah kak? Ayo cerita sama kami agar kami bisa bantu." ucap Arum membuka pembicaraan.


"Nggak ada masalah apa - apa."


Arum tau wanita ini dalam sebuah masalah, dan dia juga pernah melihat video wanita itu yang sempat viral di amuk ibu - ibu.


"Apa kak Vivi nggak nyaman ada a El?" tanya Arum dalam hatinya.


"Aa bisa pindah tempat sebentar?" bisik Arum kepada El.


El membulatkan matanya ketika istrinya menyuruhnya pindah tempat demi wanita yang pernah menjadi mantannya.


Arum menatap mata suaminya dengan memohon. El akhirnya pindah ke meja lain. Yang tidak jauh dari meja Arum.


"Kakak mungkin nggak nyaman dengan Aa El, sekarang kakak boleh cerita apapun." ucap wanita yang duduk di depan Vivian.


Vivian heran dengan sikap Arum yang terlihat memaksa. Entah dia senang atau sebal dengan wanita itu saat ini.


"Kenapa terlalu kepo dengan urusan saya? Mau cerita ke Alby?" tanya Vivian.


Arum melihat ada kemarahan di mata Vivian. Namun dia tidak tau apa tau yang membuat wanita itu marah kepadanya.


"Apa maksudnya kakak?"

__ADS_1


"Udahlah rum, kamu nggak usah pura - pura polos lagi, aku tau bahwa kamu yang sengaja menyebar cerita masa lalu ku ke Alby, dan kamu liat bagaimana Alby menghancurkan aku kemarin?" ucap Wanita itu dengan berapi-api.


"Dan karena mulut kamu yang ember, semua orang tau tentang masa lalu aku, dan pekerjaan aku serta kehidupan aku saat ini berantakan, semua karena kamu."


El yang tidak sengaja mendengar ucapan Vivian merasa tidak terima. Dia berdiri dari duduknya lalu menghampiri meja Vivian.


"Jaga bicara kamu, Jangan seenaknya menuduh istri aku macam-macam, semua yang terjadi dengan hidup kamu saat ini, itu adalah karma kamu di masa lalu, semua orang juga akan tau pada akhirnya siapa kamu di masa lalu, kamu pikir orang - orang yang berhubungan dengan kamu di masa lalu akan diam saja melihat kamu bahagia." ucap El sungguh sangat melukai hatinya.


"Aku tau semua karma yang aku terima, tapi jika istri kamu tidak bercerita kemana - mana, cerita ini nggak akan sebesar ini, apakah kamu yakin para pengusaha yang pernah memakai aku akan mengakuinya sendiri?"


El ingin menjawab lagi ucapan Vivian, namun Arum melarangnya untuk berbicara.


"Sebenarnya apa yang di lakukan Alby kak, apa yang dikatakan Alby? Jujur aku tidak pernah membahas masa lalu kakak kepada siapapun dan aku juga tidak tau masa lalu kakak karena a El tidak pernah cerita apapun tentang kakak di masa lalu." ucap Arum dengan jujur.


Vivian mencari kebohongan di mata wanita itu. Namun ia tidak menemukan sama sekali.


"Alby tau bahwa aku pernah menjadi simpanan papanya dari kamu, dan dia sangat marah sehingga menghancurkan aku, bahkan semua ibu - ibu di lingkungan ku, mungkin semua di negara ini membenci aku, jadi kemana aku harus pergi jika semua menolak aku." akhirnya Vivian mengeluarkan air matanya.


"Jadi video yang viral itu akibat Alby kak?" tanya Arum tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Ia tidak percaya bahwa Alby sekejam itu.


"Lalu apa yang membawa kakak ke lingkungan sini? Ini kan tempat tinggal kak Wandi?" tanya Arum.


Vivian tidak bisa untuk bicara kepada Arum. Dia merasa malu jika harus mengatakan untuk apa dia mencari Wandi.


"Aku hanya ingin mengambil barang-barang ku yang masih ada di sana, tapi aku melihat Wandi tidak di rumah, hanya itu saja." jawab Vivian dengan bohong.


"Kenapa aku merasa Vivian sedang berbohong?" bathin El namun ia tidak bisa melakukan apapun.


"Baiklah, kalau kakak ada masalah bicaralah dengan kami, kami akan membantu, dan untuk masalah Alby aku akan menemuinya, dia telah berbohong sama kakak, karena aku tidak pernah tau apa-apa masa lalu Kakak." ucap Arum menjelaskan.


Vivian menganggukkan kepalanya. Dia percaya dengan apa yang di katakan oleh Arum.


"Wow ternyata ada wanita simpanan om - om di sini."


Vivian maupun Arum dan El melihat ke arah sumber suara. Vivian melihat seseorang wanita yang tidak di kenalnya sama sekali.


"Gea kamu bicara apa?" tanya Arum kesal mendengar temannya bismcata seperti itu kepada Vivian di depan umum.


"Kenapa kamu marah seperti itu kepada aku? Itukan fakta yang sebenarnya." ucap Gea.


"Kamu harus hati-hati bicara, jangan sembarangan." ucap Arum kesal dengan Gea. Selama ini Gea memang ceplas-ceplos, namun ia tidak suka jika wanita itu sampai menyakitkan hati orang lain seperti ini. Apalagi mempermalukan orang lain di depan umum.


" Kamu itu siapanya dia sampai membela dia seperti itu? Bukannya dia juga yang hampir merebut suami kamu dulu." ucap Gea tidak mau kalah. Bahkan saat ini dia begitu jengkel dengan Arum yang sok menjadi pahlawan.


"Hahaha, kami salah, justru aku yang merebut El dari kakak ini,.jika nggak tau apa - apa jangan sok tau." jawab Arum mencoba menyudutkan Gea.


"Kamu memang teman aku, tapi aku tidak akan membiarkan kamu mempermalukan orang lain di tempat umum, apalagi dengan cerita kamu yang tidak benar." ucap Arum lagi.


Vivian jadi tau siapa wanita itu. Namun dia hanya diam menyaksikan keduanya.


"Aku faktanya karena yang memberi tau aku lansung sumbernya yaitu om Beni, om Beni tidak ingin dia menjadi menantunya, om Beni lebih menginginkan aku untuk menjadi menantunya." ucap Gea dengan sombongnya.


Vivian baru menyadari bahwa wanita itu ternyata menyukai Alby.

__ADS_1


"Jadi kamu sengaja memfitnah Arum agar mendapatkan apa yang kamu mau?" tanya Vivian to the poin.


"Iya, biar Alby membenci kamu karena kau tau Alby sangat mempercayai omongan Arum, dan buktinya sekarang dia sangat membenci kamu sebenci - bencinya." ucap wanita itu dengan senang.


__ADS_2