
Vivian membawa mobilnya dengan kecepatan yang tinggi. Dia mengendarai mobilnya sambil menangis. Dia merasa begitu sakit saat mengetahui Wandi sedang bersama dengan Geby.
Vivian berpikir mereka akan putus,namun faktanya mereka tetap bersama. Dan Vivian tidak paham juga kenapa Wandi juga bercumbu di kantornya dengan Indri.
"Kenapa aku menangisi lelaki macam itu? Bukannya lebih baik dia memilih wanita itu, masa aku mau bertahan dengan lelaki yang memang suka gonta-ganti pasangan." ucapnya mencoba menenangkan dirinya.
Namun nyatanya dia tetap sakit hati. Dadanya terasa sesak karena Wandi tidak bisa mencintainya dengan tulus.
"Nak apa mama memang tidak layak untuk di cintai papa kamu?" tanya Vivian menatap perutnya sambil mengelusnya dengan tangan kirinya.
Tiba-tiba Vivian kaget saat ada sebuah motor yang menyebrang tiba-tiba. Vivian yang panik lansung banting stir ke kiri.
"Brukkkkk."
Vivian menabrak trotoar dan ia juga di tabrak oleh mobil yang di belakangnya.
Vivian terhempas ke depan dan kepalanya mengenai stir mobil. Tiba - tiba dia merasakan perutnya sakit yang tidak tertahan.
"Auu sakitnya, tolong." ucapnya dengan lemas.
Warga yang menyaksikan itu lansung berlari menuju mobil putih itu.
"Ayo di bantu, sepertinya seorang wanita."
"Mobil yang di depan cepat tolongin, ada darahnya." teriak warga.
"Panggil ambulans secepatnya." perintah salah seorang.
Sementara di tempat lain, Wandi nampak sangat menikmati waktunya bersama dengan Geby. Geby juga merasa senang karena Vivian sudah mengetahui bahwa dia dan Wandi sedang menjalin hubungan. Dia sangat yakin saat ini Vivian sedang merasakan sakit hati.
Deri masuk ke ruangan Wandi tanpa mengetuk pintu. Dia terkejut saat melihat Wandi sedang membelai kepala Geby. Wanita itu nampak sedang berbaring di paha Wandi.
"Kamu kebiasaan masuk nggak ketuk pintu." omel Wandi.
"Ini ada apa? Aku nggak bermimpi kan?" tanya Wandi mengucek matanya.
__ADS_1
Dia tidak menyangka Geby akan semurahan ini. Dia tau bahwa Geby mengetahui tentang pernikahan Wandi dan Vivian. Geby nampak duduk merapikan rambutnya.
"Aku dan Geby memutuskan kembali." jawab Wandi.
Geby tau bahwa tatapan Deri tampak tidak menyukai hubungan mereka. Dia juga paham saat ini Deri memandangnya seperti wanita rendahan karena menjadi orang ketiga dalam hubungan Wandi dan istrinya.
"Bagaimana dengan istri kamu, kalian bisa kembali jika hubungan kamu dan Vivian sudah selesai." jawab Deri.
"Dan kamu Ge apa nggak bisa menahan diri, kamu mau di cap orang ketiga atau lebih parahnya pelakor?" tanya Deri tanpa basa-basi lagi kepada Geby.
"Bukan aku orang ketiga, aku dan Wandi sudah bersama sebelum Wandi dengan dia, dalam hubungan ini dialah yang menjadi orang ketiga." jawab Geby dengan lantang.
"Kamu jangan menyalahkan Geby begitu, dia tidak salah apa-apa, kami saling mencintai." jawab Wandi tidak terima Deri menyalakan Geby seperti ini.
Deri mengusap wajahnya dengan kasar. Dia sudah tidak tau lagi bagaimana cara menasehati keduanya.
"Bagaimana dengan istri kamu, dia adalah korban nafsumu, dan kamu berjanji dengan Tuhan, itu bukan main - main." ucap Wandi mulai tersulut emosi.
"Aku akan bertanggung jawab kepada anaknya, apakah itu nggak cukup, sepertinya kamu nggak usah ikut campur urusan aku deh." Wandi pun tersulut emosi mendengar nasihat Deri. Apalagi posisinya Deri menyalakan dia dan Geby.
"Kamu kan dokter kandungan, seharusnya kamu bisa membuktikan itu anak Wandi atau tidak,dan kamu pasti tau kapan waktu yang tepat untuk bisa melakukan tes DNA." jawab Deri masih tidak mau kalah.
"Kamu...."
"Sudahlah, sepertinya nggak guna juga aku kesini, toh kamu juga tidak akan peduli juga." ucap Wandi menunjuk Wandi.
"Maksud kamu apa?"tanya Wandi dengan sinis.
"Kamu lebih baik tunggu polisi menghubungi kamu aja." jawab lelaki itu membalikkan badannya.
"Jika kamu tau sesuatu kenapa bukan kamu aja yang memberi tau, kenapa harus polisi?" tanya Wandi dengan lantang.
"Apa Vivian mengadukan perselingkuhan ini kepada polisi?" tanya Geby dalam hatinya.
"Aku melihat ada yang memposting kecelakaan, dan ku liat itu plat mobil kamu yang di gunakan Vivian." ucap Deri lalu berlalu pergi.
__ADS_1
Wandi dan Geby begitu kaget mendengar berita itu. Wandi merasa kuatir bagaimana dengan keadaan Vivian. Begitu juga dengan Geby. Dia memang ingin menyakiti Vivian, namun mendengar berita tersebut, dia merasa tidak nyaman.
Tidak lama setelah itu ponsel Wandi berdering. Dan nomor tersebut adalah nomor tidak dikenalnya.
Ternyata apa yang di katakan Deri apa benarnya. Polisi menyampaikan bahwa mobil yang di bawa Vivian mengalami kecelakaan.
"Ayo kita ke rumah sakit." ucap Geby dengan cepat.
Tanpa pikir panjang Wandi mengikuti langkah Geby. Mereka menuju rumah sakit yang di sebutkan oleh polisi. Dan kebetulan itu adalah salah satu rumah sakit milik keluarganya.
"Semoga tidak terjadi apapun sama anaknya ya Allah." ucap Wandi dalam hatinya.
Geby melihat Wandi tampak begitu kuatir. Bahkan lelaki itu tampak tidak fokus menyetir mobil. Dalam perjalanan ke rumah sakit sudah lebih sepuluh kali Wandi mengumpat pengendara yang lain.
Geby melihat bahwa ini sebenarnya bentuk cinta Wandi kepada wanita itu. Walaupun lelaki itu berkata tidak, namun saat ini nampak sekali lelaki itu sangat mengkuatirkan Vivian.
"Ini seperti Dejavu, dulu Wandi juga begitu kuatir saat Vivian keluar dari rumahnya, dia takut Vivian akan di ganggu oleh Beni lagi." ucap Geby dalam hatinya.
Mereka berlari menuju ruangan Vivian dirawat. Saat membuka pintu kamar inap, mereka melihat Vivian masih belum sadar.
"Gimana keadaannya dok?"
Sang dokter jelas mengenali Wandi sebagai anak pemilik rumah sakit itu. Dan dia juga mengenal Geby sebagai dokter kandungan.Namun dia tidak tau apa hubungannya dengan pasien yang sedang di tanganinya.
"Maaf pak, dia siapanya bapak?" tanya sang dokter wanita itu.
"Dia istri saya, bagaimana dengan anak saya?" tanya Wandi dengan cemas.
"Maaf pak, janin yang ada dalam kandungan ibu ini tidak bisa kami selamatkan karena ibu mengalami pendarahan yang hebat." jawab sang dokter.
Wandi menarik rambutnya ketika mendengar berita seperti ini. Walaupun dia sangat menolak kehadiran Vivian, namun dia tidak ingin kehilangan anak itu, walaupun dia belum yakin bahwa janin itu miliknya.
Geby mencoba menenangkan Wandi. Sebagai dokter kandungan,dia sering melihat pasiennya seperti itu jika terjadi apa - apa dengan janin yang di kandungan sang istri.
"Maafkan aku Ge, aku.... Aku...." Wandi merasa bersalah kepada Geby saat ini.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, kamu wajar bersedih karena bisa jadi itu memang anak kamu." jawab Geby.