
Vivian baru saja kembali dari bekerja. Ia melihat jam telah menunjukkan pukul 9 malam. Vivian masuk ke dalam rumah dengan perlahan.
Dia merasa lega karena tidak menemukan siapa - siapa di ruang tamu. Lalu dia berjalan menuju kamarnya.
Dia membuka pintu kamar dengan perlahan. Dia tau jika Wandi belum pulang ke rumah karena ia tidak melihat mobil lelaki itu. Apalagi akhir - akhir ini lelaki itu sering pulang malam.
Vivian tau bahwa lelaki itu sengaja menghindar dari dirinya. Maka untuk itu dia bersedia bekerja sebagai pelayan di sebuah kafe.
Dia sudah mencoba melamar pekerjaan di mana - mana. Namun tidak ada perusahaan yang mau menerimanya.
Vivian sudah bekerja selama seminggu di sana. Namun sialnya tadi dia bertemu dengan Gito, pria pertama yang menjadi sugar Daddynya.
"Semoga dia nggak kembali lagi ke situ, kalau nggak mengganggu sekali." ucap Vivian menghembuskan nafasnya dengan kasar.
Jika bisa memilih, Vivian tidak ingin bertemu satupun lelaki di masa lalunya. Dia hanya ingin fokus dengan hidupnya di masa sekarang.
Dia juga merasa bersyukur bahwa ia tidak mengalami muntah - muntah selama kehamilannya. Sehingga dia tetap fresh dalam bekerja.
"Makasih nak nggak rewel." ucap Vivian mengelus perutnya.
Vivian nampak sudah segar setelah mandi. Dia merasa tubuhnya lengket sekali sepulang kerja.
Baru ingin merebahkan tubuhnya, pintu kamar terbuka. Di sana menapakkan Wandi yang baru saja pulang.
"Tumben jam segini udah pulang." ucapnya dalam hati.
Dia melihat masih jam 10 malam. Biasanya lelaki itu pulang jam 12 malam ke atas dengan alasan sibuk. Bahkan kadang lelaki itu memilih menginap di kantornya.
Vivian melihat wajah Wandi sangat kesal saat masuk ke kamar. Untuk itu dia berinisiatif untuk tidur terlebih dahulu sebelum kena getahnya.
"Kamu itu kenapa sih nyusahin orang saja." omelnya setelah duduk di tempat tidur.
"Gara - gara Kamu bekerja, ibu memarahi aku, bilangnya aku nggak kasih uang sama kamu, apa uang sebanyak itu masih kurang untuk kamu." ucap Wandi dengan nada agak tinggi.
"Aku bekerja bukan karena uang kamu kasih kurang, tapi aku ingin menunjukkan kepada kamu bahwa aku tidak bergantung kepada kamu, apalagi untuk menghabiskan uang kamu." jawab Vivian akhirnya duduk kembali.
__ADS_1
"Aku tidak perlu pembuktian kamu, bagiku kamu tidak akan bisa membuat aku sedikitpun simpati kepada kamu, bagiku selamanya kamu itu adalah wanita yang hanya ingin uang lelaki."
Vivian merasa marah saat mendengar ucapan Wandi. Entah kenapa dia tidak terima di rendahkan berkali-kali oleh lelaki itu.
"Saya memang mempunyai masa lalu, tapi jangan menyerang saya dengan masa lalu saya,dan setiap orang punya kesempatan memperbaiki masa lalunya." jawab Vivian.
"Merubah masa lalunya dengan menjadikan aku tumbalmu, karena dengan menikah denganku maka kamu tidak perlu mendekati om - om itu lagi kan?" ejek Wandi.
"Saya tidak memaksa kamu untuk menikah dengan aku, saya menikah dengan kamu karena ulah kamu sendiri, kamu yang membuat saya hamil, kamu memaksa saya waktu itu dengan kata lain memperkosa saya."
Mendengar Vivian mengatakannya sebagai pemerkaos membuat dia menjadi marah. Dia tidak terima di rendahkan oleh wanita itu.
"Hati - hati bicara ya, apapun yang kamu lakukan tidak akan membuat aku cinta kepada kamu, kita liat aja nanti." ucap Wandi merasa marah dan ia memilih masuk ke kamar mandi daripada mencekik wanita itu.
"Bagaimana jika kamu tergila-gila sama saya suatu saat nanti, jadi manusia jangan takabur." ucap Vivian menantang Wandi.
"Tidak akan, jangan mimpi."
Wandi masuk ke kamar mandi. Sementara Vivian duduk dengan emosi di rendahkan berkali-kali oleh suaminya.
"Lihat aja kamu, aku akan melakukan apapun untuk membuktikan bahwa kamu terlalu sombong menjadi manusia." ucap Vivian merasa percaya diri.
Dia memakai baju haram pemberian ibunya. Selama ini baju ini hanya tersimpan di dalam koper. Vivian menatap tubuhnya di kaca. Ia semakin percaya diri karena dia nampak sangat cantik.
Vivian mengoles wajahnya sedikit bedak agar tidak nampak pucat. Bibirnya di biarkan begitu saja karena sudah merah merekah. Dia tidak lupa memakai parfum pemberian ibunya.
Wandi lansung kaget saat melihat penampilan Vivian saat ini. Wanita itu nampak begitu cantik menggunakan baju tipis berwarna merah. Warna merah membakar kulitnya yang putih sehingga nampak begitu eksotis.
Vivian berjalan mendekati Wandi yang masih terdiam di tempat. Wanita itu tersenyum manis lansung menyentuh dagu Wandi.
"Apa yang kamu lakukan?" ucap Wandi mencoba menahan dirinya.
Dia mengakui bahwa dia tergoda dengan penampilan wanita itu. Di mana semua terlihat jelas dari penglihatannya.
"Aku hanya melakukan tugasku sebagai istri, apa salah?" jawab Vivian sambil tersenyum mendekatkan dirinya lebih dekat.
__ADS_1
Wandi mencium aroma tubuh Vivian memabukkan baginya. Selama sekamar dengannya, dia tidak pernah mencium wanita itu memakai parfum aroma seperti itu.
"Kamu menjauh, jangan pikir dengan begini maka akan membuat saya akan mencintai kamu." ucap Wandi mencoba mendorong Vivian agar menjauh dari dirinya.
Wandi sadar betul jika dia berada di dekatnya terlalu lama maka akan membuat imannya goyang. Wanita itu terlalu seksi untuk di lewatkan.
"Kenapa mendorong aku sih mas? Kamu boleh menggarap aku darimanapun, aku ini pasangan halal kamu." ucapnya merayu Wandi sambil mengusap pipi Wandi dengan lembut.
Wandi merasa gerah saat Vivian meliukkan jarinya di wajahnya sampai tubuhnya. Dia akui bahwa wanita itu sangat pandai merayu lelaki.
Hal itu membuat Wandi ingat masa lalu wanita itu. Terbayang wanita itu sedang di cumbu oleh berbagai macam lelaki.
Wandi lansung mendorong Vivian dengan keras sehingga membuat wanita itu terjerembab ke lantai.
"Auhhhh." Vivian mengadu kesakitan saat tubuhnya jatuh di lantai.
"Jangan kamu coba - coba merayu saya seperti wanita murahan, jika lelaki lain mungkin akan tergiur dengan cara kamu tadi, tapi bagi saya kamu tetap menjijikan."
"Menjijikan." ulang Vivian.
"Yah menjijikan, apalagi jika saya membayangkan tubuh kamu ini sudah di jamah oleh banyak lelaki." ucap Wandi masuk kembali ke kamar mandi.
Vivian merasa malu dengan dirinya sendiri. Dia sudah seperti wanita murahan namun lelaki itu hanya menganggapnya memang wanita murahan.
"Apa aku sehina itu ndi?" tanyanya sambil menangis.
Vivian kembali bangkit dari duduknya. Dia lansung melapisi bajunya dengan piyama. Lalu ia kembali masuk ke dalam selimutnya.
Dia menutup seluruh tubuhnya saking malunya. Dia bahkan tidak ingin melihatkan wajahnya kepada lelaki itu lagi.
Setelah memenangkan dirinya dari rayuan Vivian barulah ia kembali keluar dari kamar mandi. Dia sengaja menghindari wanita itu agar tidak berbuat yang aneh-aneh kepada wanita itu.
Wandi melihat Vivian menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. Dia berjalan menuju tempat tidurnya.
"Untung tadi pergi, jika tidak bisa jadi dia sudah aku tiduri lagi, aku ini lelaki normal, tidak mungkin tidak tergoda dengan tubuhnya." ucap Wandi dalam hatinya.
__ADS_1