Apakah Aku Tidak Layak Untuk Di Cintai

Apakah Aku Tidak Layak Untuk Di Cintai
Bab 26


__ADS_3

Semenjak kejadian malam itu Wandi semakin menjauhi Vivian. Bagaimanapun Vivian melayaninya dengan baik, namun lelaki itu tetap tidak ingin di layani oleh wanita itu.


Hampir setiap pagi Vivian menyediakan baju ketika mau berangkat kerja namun Wandi tidak pernah memakainya. Dan Vivian juga mengirimkan pesan ketika lelaki itu tidak kunjung pulang. Namun lelaki itu mengabaikan pesan dari wanita itu.


Apalagi setelah ibunya Wandi telah kembali ke kampung. Wandi semakin semena - mena dengan Vivian.


Bagaimana dengan ibunya Vivian. Wandi sengaja membelikan wanita tua itu sebuah rumah. Dia sangat yakin jika ibu Vivian yang matre akan tertarik dengan pemberian rumah darinya. Dan benar saja wanita itu sangat senang pindah dengan syarat Wandi tetap memberikan uang saku kepada wanita itu.


Sementara itu Indri juga mendesak papanya agar cepat menikahi dirinya. Namun sampai saat ini dia masih belum bisa mendapatkan Wandi.


Indri juga masih aktif datang ke tempat Wandi beberapa hari terakhir ini. Dan saat ini dia sudah duduk di ruangan Wandi.


Sejak tadi Wandi mencoba mengusir wanita itu. Namun tentu saja itu tidak berhasil sama sekali.


Tiba-tiba Wandi mendapatkan ide tiba-tiba. Dia merasa ini waktu yang tepat untuk menyakiti hati Vivian.


Wandi menghubungi Vivian untuk meminta mengantarkan berkas yang memang tinggal di rumah. Sebenarnya Wandi tidak begitu butuh dengan berkas itu saat ini.


Mendengar Wandi membutuhkan bantuannya, Vivian lansung bergegas untuk membantu suaminya. Lalu dia menuju kantor Wandi dengan senang hati.


"Akhirnya dia membutuhkan aku juga." ucap Vivian dengan senang hati.


"Aku yakin lambat atau lain dia akan terbiasa dengan semua ini." ucapnya lagi sambil mengendarai mobilnya.


Vivian melangkahkan kakinya menuju ruangan Wandi. Dia tentu saja tau di mana ruangan lelaki itu karena sebelumnya sering berkunjung ke sana.


Vivian tidak menemukan sekretaris di mejanya. Dia lansung saja mengetuk pintu Wandi. Namun tidak ada jawabannya membuatnya berinisiatif membuka pintu ruangan itu sendiri.


Kakinya lansung gemetar saat membuka pintu ruangan lelaki itu. Berkas yang ia bawa jatuh ke lantai. Dan air matanya lansung berjatuhan.


Dia hanya mencoba menutup mulutnya saat melihat pemandangan di depannya. Vivian melihat Wandi sedang bercumbu dengan wanita lain.


"Ngapain Kalian?" tanya Vivian mendekati meja Wandi.


Wandi seolah baru melihat kedatangan Vivian. Dia lansung mendorong tubuh Indri sehingga terlepas dari pangkuannya.


Wandi mencoba memperbaiki bajunya yang sudah terbuka beberapa kancingnya. Begitu juga dengan Indri yang bajunya sudah nampak turun tidak karuan. Dia nampak kesal kepada Vivian karena menganggu kesenangannya.


"Eh kamu masuk nggak bisa ketuk pintu dulu, menganggu kesenangan aja." omel Indri menatap Vivian dengan marah.

__ADS_1


"Mas apa yang kamu lakukan mas? Kenapa kamu tega begini?" tanya Vivian tidak menanggapi ucapan Indri.


"Seperti yang kamu lihat, apa perlu aku perjelas." jawab Wandi tetap tenang tanpa menatap Vivian.


"Eh siapa kamu bertanya seperti itu kepada calon suami saya?" tanya Indri semakin marah karena di cuekin.


"Saya istri dari Wandi." jawab Vivian.


Wandi tersenyum mendengar jawaban Vivian. Dia berharap dengan jawaban ini, sekali tepuk dua lalat yang mati.


"Kamu jangan menghayal, sejak kapan pula Wandi menikah." Indri semakin mendekatkan diri dengan Vivian.


"Kamu tanya aja dia." jawab Vivian.


Indri yang kesal mendengar jawaban Vivian, lansung menghampiri Wandi di meja kerjanya.


"Sayang benar kamu telah menikah dengan dia?" tanya Indri dengan nada di buat - buat.


Wandi menganggukkan kepalanya membuat Indri semakin kesal. Dia tidak terima dengan pernikahan Wandi dengan wanita itu.


"Nggak mungkin, kamu pasti bercanda,kalau kamu nikah kenapa papa kamu nggak tau?"


"Lalu kenapa kamu melakukan yang tadi dengan aku?" tanya Indri lagi.


"Karena kita suka sama suka, kamu mau dan aku juga mau bersenang-senang dengan kamu." jawab Wandi.


Wandi memilih untuk meninggalkan keduanya karena barusan dia mendapatkan pesan dari Geby. Dia merasa saat ini keduanya tidak penting sama sekali.


Melihat Wandi pergi membuat Indri juga meninggalkan ruangan Wandi.


"Akan aku adukan ke om rudi." ucapnya dengan kesal.


Sementara Vivian hanya berdiri sambil memegang dadanya. Dia sungguh merasa tidak di hargai oleh suaminya. Bahkan lelaki itu sudah terang - terangan bermain wanita.


" Tidak ini pasti rencana dia agar aku sakit hati lalu aku menyerah, aku tau Wandi tidak seperti itu." Vivian berbicara sendiri.


"Jika begitu aku akan tetap bertahan sampai anak ini lahir." ucapnya lagi.


Vivian lagi - lagi menyadari kebodohannya yang mengaku sebagai istri Wandi. Dia tau pasti papanya Wandi akan menyuruh anaknya untuk menceraikannya. Dia yakin keluar besar Wandi tidak akan menerimanya sebagai menantu. Vivian tau betul siapa papanya Wandi dan keluarga besarnya.

__ADS_1


Vivian menghapus air matanya lalu berjalan meninggalkan ruangan Wandi.


Sedangkan Wandi telah sampai di tempat yang di janjikan dengan Geby. Wajahnya begitu senang saat bertemu dengan wanita pujaan hatinya itu.


"Kamu udah lama?" Tanya Wandi dengan gembira.


"Nggak juga, aku udah pesankan makanan kesukaan kamu." ucap wanita itu sambil tersenyum manis.


"Apapun yang kamu pesan pasti akan aku habiskan." jawab Wandi.


Geby menatap lelaki itu yang nampak begitu senang bertemu dengannya. Dia tau bahwa itu masih tidak bisa melupakannya.


"Gimana kabar kamu?" tanya Geby membuka pembicaraan.


"Alhamdulillah baik."


"Maafkan saya, saya begitu kekanakan kemaren."


"Tidak masalah, aku yang salah." jawab Wandi dengan cepat.


"Apakah kamu masih mencintai aku seperti dulu?" tanya Geby.


"Tentu saja, cintaku masih sama kepada kamu,dan siapapun tidak akan bisa bisa merubahnya." jawab Wandi lansung menyentuh tangan Geby diatas meja.


"Lalu bagaimana dengan pernikahan kamu?"


"Seperti yang aku bilang, setelah Vivian melahirkan aku akan menceraikannya." jawab Wandi dengan sangat yakin.


"Kalau begitu bagaimana jika kita kembali bersama, aku nggak bisa berpisah dari kamu, dan aku tidak bisa menunggu terlalu lama sampai wanita itu melahirkan." ucap Geby sengaja memasang wajah sedih di depan Wandi.


Wandi sebenarnya bimbang saat ini. Tapi dia juga tidak ingin kehilangan Geby.


"Baiklah, demi kamu aku akan lakukan apapun." jawab Wandi membuat Geby tersenyum senang.


"Makasih Ndi." ucap Geby.


"Kamu tidak perlu berterima kasih karena kita saling mencintai." jawab Wandi dengan setulus hatinya.


"Kamu akan merasakan bagaimana milik kamu di ambil oleh orang lain, aku tidak akan membiarkan kamu bahagia hidup di dunia ini." ucap Geby dalam hati sambil tersenyum senang.

__ADS_1


Wandi sangat senang setelah melihat senyum wanita yang ia cintai. Dia mencium tangan Geby dengan perasaan sayang.


__ADS_2