
Vivian akhirnya keluar bersama El dan pengacaranya. Arum begitu senang saat melihat mereka berjalan menuju mobil.
Arum tidak tau apa yang dilakukan pengacara suaminya sehingga Vivian bisa di bawa pulang.
"Alhamdulillah akhirnya kakak bisa keluar." ucap Arum lansung memeluk Vivian.
"Terima kasih." ucap Vivian yang begitu terharu dengan kebaikan Arum dan suaminya.
"Tidak perlu berterima kasih kak, di masa lalu kakak juga pernah menyelamatkan aku dari kejahatan Reza." ucap Arum.
Mereka akhirnya membawa Vivian kerumah mereka untuk sementara. Awalnya Vivian menolak karena tidak enak dengan mereka. Namun Arum memaksanya untuk ikut.
El hanya diam mengikuti permintaan sang istri. Dia hanya takut kedatangan Vivian akan membuat rumah tangganya dalam sebuah masalah.
Sedangkan di tempat lain Wandi sedang menemui Geby. Dia sengaja menjemput Geby saat makan siang.
Namun sampai saat ini dia hanya diam melihat Geby. Dia tidak tau harus memulai darimana harus bicara. Apalagi saat melihat Geby yang makan dengan lahapnya.
Geby akhirnya menyadari bahwa lelaki yang duduk di depannya hanya duduk memperhatikan dirinya yang sedang makan. Dia juga bisa membaca pikiran lelaki itu.
"Kamu ingin bicara soal sama aku? tanya Geby menghentikan suapannya.
"Habiskan saja makan mu.," ucap Wandi takut mengacaukan selera makan.
"Nggak apa - apa, bicara aja." ucap Geby mencoba untuk relaks.
"Ibuku menyuruh aku untuk bertanggung jawab kepada Vivian." ungkap Wandi akhirnya berani bersuara.
Geby sungguh kaget mendengar ucapan yang di ucapkan oleh Wandi.
"kamu yakin?" tanya Geby tidak percaya apa yang di inginkan oleh ibunya Wandi.
"Aku menolak ibu, namun ibu mengancam aku Ge."
"Tapi kan belum tentu itu anak kamu." ucap Geby mencoba memprovokasi Wandi.
"Kata ibu jika terbukti setelah melahirkan bukan anakku maka aku boleh menceraikan dia.." jawab Wandi.
" Untuk itu aku minta kamu mengalah terlebih dahulu, hubungan kita diam - diam, setelah aku menceraikan dia barulah kita menikah." ungkap Wandi.
__ADS_1
"Jadi aku harus menunggu kamu sembilan bulan?"
Wandi menganggukkan kepala.
"Aku nggak mau, aku ingin kita berpisah setelah kamu menikah dengan dia." ucap Geby tidak ingin ada menjadi pihak ketiga, apalagi menunggu lelaki yang memilih wanita lain untuk jadi istrinya.
"Ayolah Ge, aku mohon, aku mohon tolong mengerti posisi aku, aku tidak mau kehilangan kamu, dan aku juga tidak ingin kehilangan ibu." ucap Wandi terus terang kepada Geby.
"Menikahlah seperti permintaan ibu kamu, dan aku bukan wanita yang suka menunggu, jika kita berjodoh maka kita akan bertemu lagi." ucap Geby lansung berdiri.
Dia tidak mau terlalu lama di sana mendengar Wandi memohon kepadanya.
Melihat Geby pergi membuat perasaan nya hancur. Dia merasa Vivian telah menghancurkan impiannya selama ini.
"Awas kamu Vivian, kamu wanita yang ku tolong tapi kamu yang menghancurkan aku, aku tidak akan membiarkan kamu hidup bahagia bersama aku." gumamnya penuh dengan amarah.
Karena Geby tidak setuju menunggunya, akhirnya Wandi mengambil keputusan. Dia akan menikahi Vivian sesuai amanat ibunya.
Namun pernikahan ini akan tetap ia rahasiakan. Dia tidak mau mempublikasikan hubungan ini. Karena bagaimanapun ia tau bahwa jejak digital Vivian sungguh jelek di masa lalu.
Wandi akhirnya mencoba menghubungi Vivian. Namun ponsel wanita itu tidak bisa di hubungi sama sekali.
Akhirnya setelah menimbang semuanya, Wandi mencoba menelpon El. Dia mengutarakan keinginannya kepada El.
El merasa lega karena akhirnya Wandi mau bertanggung jawab atas kehamilan Vivian. Dia berharap setelah ini wanita itu hidup dengan baik.
"Alhamdulillah, akhirnya Wandi setuju untuk menikahi kamu Vi." ucap El bercerita kepada Vivian dan Arum.
Arum merasa lega mendengar berita yang di sampaikan oleh sang suami.
"Alhamdulillah, semoga bahagia selalu kak." ucap Arum.
Vivian antara senang dan bingung. Dia senang karena akhirnya Wandi setuju menikahinya. Namun ia bingung kenapa lelaki itu terlalu cepat berubah.
"Aneh." ungkapnya dalam hati
"Terima kasih atas bantuan kalian, akhirnya aku bisa keluar dari masalah, mungkin baiknya aku izin menemui ibuku." ucap Vivian.
"Baiklah, tapi kakak yakin udah baikan?" tanya Arum.
__ADS_1
"Aku udah mendingan." jawab Vivian.
Vivian akhirnya mencari kendaraan untuk bisa kembali ke Bogor. Ketika di kendaraan, dia menghidupkan kembali ponselnya yang sengaja ia matikan.
Tidak lama setelah itu ibunya menelponnya. Dia juga bingung karena sang ibu memintanya menemuinya di alamat yang ia kirimkan.
Berdasarkan alamat yang di kirim oleh ibunya bahwa ibunya masih di Jakarta. Dia akhirnya turun dari kendaraan tersebut untuk mencari kendaraan menuju alamat yang di kirimkan oleh ibunya.
Vivian akhirnya telah sampai di depan sebuah rumah kontrakan perpetak. Dia menatap rumah itu dengan ragu.
Akhirnya dia memberanikan diri untuk mengetuk rumah yang sesuai dengan alamat di ponselnya. Ternyata benar yang membuka pintunya adalah ibunya.
"Gimana usaha Kamu?" tanya ibunya ketika Vivian baru masuk.
"Dia setuju menikah" jawab Vivian dengan pendek.Dia merasa capek dan meladeni sang ibu saat ini.
"Bagus kalau gitu biar ibu juga cepat pindah dari sini."ucap ibunya.
Vivian tampak kaget mendengar apa yang di utarakan oleh sang ibu. "Tapi aku belum bilang ibu akan tinggal bersama kami, bagaimana jika dia tidak setuju Bu?"
Sang ibu langsung menatap Vivian dengan penuh emosi. Dia sangat kesal dengan sang anak yang punya pemikiran seperti itu.
"Jika dia sudah setuju menikah dengan kamu, maka apa yang dia miliki juga melik kamu, dan masa dia akan melarang wanita yang melahirkan kamu untuk tinggal bersamanya."
Vivian hanya dia mendengar jawaban ibunya. Di pikirannya saat ini adalah hinaan yang akan keluar dari mulut Wandi.
"Ibu nggak paham siapa Wandi, aku aja nggak tau apakah Wandi serius menikahi aku." ujar Vivian tapi hanya di dalam hatinya.
Vivian akhirnya membaringkan tubuhnya di atas kasur yang ada di lantai. Yah kasur yang mereka punya hanya kasur lantai.
"Ibu dapat duit darimana untuk kontrak ini rumah?" tanya Vivian karena dia tau mereka sudah tidak punya apa-apa.
"Tentu aja hasil warung dan perabotan yang kita punya ibu lelang, udahlah jangan banyak tanya, cukup pikirkan pernikahan kamu dengan Wandi, jangan sampai gagal." ucap Ibunya juga membaringkan tubuhnya di sebelah Vivian.
"Tapi ibu tau dari mana soal..."
"Sudahlah, kamu tidur aja, ibu udah capek." jawaban ibunya membuat Vivian hanya diam.
Vivian melihat jam 20.30 di ponselnya. Dia wajar jika ibunya kelelahan karena banyak yang terjadi di hidup mereka belakangan ini.
__ADS_1
"Maafkan aku ibu, aku hanya jadi beban kalian, aku tidak bisa membahagiakan kalian di masa tua." gumamnya menatap punggung ibunya.