Apakah Aku Tidak Layak Untuk Di Cintai

Apakah Aku Tidak Layak Untuk Di Cintai
Bab 46


__ADS_3

Akhir - akhir ini Wandi merasa di lema. Diapun tidak tau apa penyebab lelaki itu begitu di lema.


Dia masih memikirkan hubungannya dengan Vivian. Karena dia merasa belum pernah menceraikan wanita itu. Sementara status pernikahan mereka secara hukum telah bercerai.


" Apa yang aku harus lakukan? Apa aku lanjut menikah dengan Geby atau kembali kepada Vivian?" tanyanya sambil bergumam sendirian.


"Tapi entah kenapa aku merasa kasian dengan Vivian, dia harus kehilangan anak dan suami berbarengan."


Wandi memikirkan semua sambil mengendarai mobilnya. Siang ini dia menuju rumah Geby untuk menjemput wanita itu.


Geby tersenyum manis saat melihat mobil Wandi telah sampai. Hari ini mereka akan pergi untuk mencari baju ke butik.


Geby bahkan sengaja memilih butik Vivian untuk menunjuk kepada wanita itu. Dia ingin wanita itu merasakan sakit hati.


Geby begitu sakit hati kepada wanita itu mengingat bahwa wanita itu pernah menjadi simpanan papanya.


Walaupun rumah tangga mama dan papanya baik - baik saja,namun Geby tetap tidak terima. Dia yakin semua berawal dari wanita itu yang merayu papanya. Karena baginya papanya adalah lelaki yang baik


Mereka telah sampai di Ros butik. Walaupun butik itu di kelola oleh Vivian, namun butik itu masi belum ganti nama.


Wandi sebenarnya enggan memilih butik ini. Namun Geby sangat bersikeras memakai jasa butik ini karena bagus.


"Ayo sayang." ucap Geby sambil menggandeng tangan Wandi.


Mereka masuk kedalam butik depan mesra. Para karyawan butik tersenyum melihat kemesraan calon pengantin baru ini.


"Aduh mesranya calon pengantin baru." ucap Nita memuji keduanya.


Geby tersenyum manis mendengar ucapan salah satu karyawan butik itu.


" Jika dia melihat kemesraan kita, pasti dia akan sakit hati,lalu menangis di sudut ruangan." tawa Geby dalam hatinya.


"Ah biasa aja, semua calon pengantin yang datang ke sini rata - rata romantis, beberapa bulan setelah menikah baru deh tau rasanya." ucap mbak Wati mengejek dalam hatinya.


Karena sebagai wanita yang telah menikah, dia tau betul bagaimana pasangan yang telah menikah beberapa bulan.


"ibuk Viviannya ada?" tanya Geby dengan wajah ramahnya.


" Ada perlu apa mbak? Jika untuk memilih gaun bisa dengan kamu saja." jawab mbak Wati tidak kalah ramah.


"Saya ingin ibuk Vivian merancang lansung gaunnya untuk saya, beliau pasti tau gaun seperti apa yang cocok dengan tubuh saya." jawab Geby.

__ADS_1


"Mbakkan belum melihat koleksi gaun kami, di sini banyak model loh mbak, sungguh cantik - cantik, mbak tidak akan menyesal." Nita ikut menimpali.


"Saya malas, saya maunya lansung dengan ibu Vivian." jawab Geby.


Nita menyipitkan matanya dengan curiga. Mengingat dia pernah menghadang lelaki yang menjadi calon suami wanita itu.


"Siapa mereka? Beberapa hari yang lalu lelaki ini memaksa masuk ke ruangan Vivian, lalu hari ini wanitanya yang memaksa." tanyanya dalam hati.


"Sepertinya mereka pasangan yang cocok, sama - sama pemaksa." jawab Nita lagi namun di dalam hatinya.


Geby menyerngitkan keningnya melihat karyawan di depannya nampak melamun. Sedangkan Wandi juga merasa tidak enak hati jika yang mendesain baju pengantin mereka adalah Vivian.


"apakah ini nggak sadis namanya? Kenapa harus Vivian yang mendesain baju pengantin, bagaimana jika Vivian belum melupakan sakit hatinya." ucap Wandi dalam hatinya.


"mbak kok melamun aja, gimana apakah bos kalian ada di sini? Apakah kami bisa menemuinya?" tanya Geby yang mulai kesal melihat tingkah laku anak buah Vivian.


"baik mba mba, mari saya antar ke ruangan Bu Vivian." ucap Nita dengan ramah.


Mbak Wati hanya menatap kepergian mereka sambil mengejek lewat mulutnya. Dia melihat betapa arogannya wanita itu. mbak Wati sendiri tau bahwa wanita itu adalah dokter kandungan yang cukup terkenal.


"kok ada yang dokter kandungan seperti itu? Kasian pasiennya." gumam Wati berbicara dengan karyawan lain.


Karyawan lain tertawa mendengar ucapan mbak Wati. Karena ada di antara mereka yang pernah datang ke dokter Geby. Namun sikap wanita itu jauh berbeda dengan hari ini.


Pintu ruangan Vivian di ketuk oleh Nita. Nita membuka pintu tersebut setelah Vivian menyuruh masuk.


"maaf Bu, ada tamu yang ingin di layani lansung oleh ibu." ucap Nita membuka pembicaraan.


Vivian melihat jam tangannya. Sebenarnya siang ini dia ada janji dengan seorang kliennya. Namun karena klien yang lain sudah di depan pintu, Vivian merasa tidak enak untuk menolaknya.


"Suruh masuk nit." jawab Vivian.


ketika melihat pasangan yang masuk membuat Vivian kaget. Dia tidak menyangka bahwa tamunya itu adalah Gaby dan Wandi.


Dia merasa sedikit menyesal untuk menerimanya. Dia sangat yakin bahwa keduanya mempunyai tujuan yang tidak baik.


"Untuk apa mereka ke sini? Padahal masih banyak desainer bagus - bagus di kota ini." bathin Vivian ingin rasanya ia menangis saat ini juga.


"kami tidak di suruh duduk?" tanya Geby dengan wajah senyum mengejek.


Vivian menyadarinya dan lansung menyuruh keduanya duduk. Ketika Nita ingin kembali ke tempatnya, Vivian mencoba untuk menahannya.

__ADS_1


"Nita tolong aku di sini ya?" ucap Vivian sedikit memberikan sebuah perintah.


"baik Bu." Nita makin yakin dengan apa yang ada di benaknya.


"Kamu ini mau menikah, jadi saya ingin mbak membuatkan sebuah gaun sesuai dengan tubuh saya, mbak pasti tau gaun seperti apa yang cocok dengan tubuhnya saya." ucap Geby begitu semangat menjelaskan kepada Vivian.


"Baik berdiri mbak."


Vivian menyuruh Geby untuk berdiri. Dia mencoba mengambil kain lalu melilitkan kain yang di anggap cocok dengan tubuh dan kulit wanita itu.


Tidak begitu lama, baju darurat itu telah selesai. Vivian mencoba mendekor agar baju itu mengembang dengan baik.


"bagaimana dengan ini? Saya rasa desain seperti ini sangat cocok dengan tubuh mbak." ucap Vivian kepada Geby.


"Bagaimana sayang? Cantik nggak?"tanya Geby sengaja memanggil Wandi dengan sebutan sayang. Dia yakin bahwa wanita yang berdiri tidak jauh dari tempatnya.


"Iya bagus." jawab Wandi mencoba seadanya. Dia takut nanti akan membuat Vivian semakin sakit hati.


"baik Bu, nanti saya akan kirimkan sketsanya." jawab Vivian mencoba menuliskan sesuatu di buku catatannya.


"Baik kabari saja lewat saya, kalau boleh, minta izin saya ke kamar,, karena saya sudah kebelet banget."


"Baik Bu, mari ikut saya." Geby berjalan mengikuti karyawan di sana. Dia sebenarnya sengaja meninggalkan mereka. Agar dia bisa mendengar apa yang aka mereka bicarakan.


Benar saja, setelah keluar dari kamar mandi,Geby lansung mendapati mereka sedang berdebat.


"Bagaimana dengan hubungan kita vi? tanya Wandi kepada Vivian.


"Tentu saja hubungan kita sudah selesai, tidak ada yang perlu di bahas lagi."


"Bagaimana selesai, aku belum pernah menceraikan kamu, itu semua tingkah Indri."


"Bagi aku hubungan kita sudah selesai, tidak ada yang perlu di bahas lagi, dan kamu silahkan lanjutkan pernikahan kamu."


"Bagaimana sudah selesai sedangkan aku tidak pernah menceraikan kamu, aku tidak bisa hidup jika masa lalu aku belum selesai." ucap Wandi.


*Bagi aku semua masa lalu kita sudah selesai, jadi stop membahas itu lagi, fokus dengan pernikahan kamu." ucap Vivian dengan tegas.


"Dan satu lagi, kamu boleh bertanya kepada yang ahli agama, kamu pernah berniat dan mengatakan bahwa jika anak kita lahir maka kamu akan menceraikan aku, dan anak itu sudah tidak ada lagi, maka menurut saya talak sudah jatuh." jawab Vivian penuh dengan keyakinannya.


Geby merasa sedikit kesal karena Wandi masih ingin bersama wanita itu. Hatinya begitu sakit karena saat ini ternyata dia bukan prioritas Randi.

__ADS_1


"Awas saja Kamu Vivian,aku akan buat kamu lebih merasakan sakit lebih dari ini." ucap Geby dalam hatinya.


__ADS_2