
Wandi baru saja kembali dari meeting bersama beberapa petinggi di kantornya. Dia menemukan sebuah kotak bekal di atas mejanya.
Wandi tentu bingung karena selama ini dia tidak pernah mendapatkan bekal dari siapapun. Termasuk dari Geby atau Indri.
Wandi memanggil sekretarisnya untuk menanyakan perihal makanan tersebut. Tidak lama sekretarisnya masuk ke dalam.
"Ini dari siapa?" tanya Wandi setelah sekretarisnya masuk.
"Ini dari pak Deri pak." jawab sang sekretaris.
"Oke makasih, kamu boleh keluar."
Sang sekretaris pun meninggalkan ruangan Wandi. Wandi merasa heran karena yang mengirimkan bekalnya adalah Deri.
"Dalam rangka apa ini anak mengirimkan aku bekal? apa dia kesambet?" tanyanya pada diri sendiri.
Wandi yang kebetulan belum makan membuka kotak bekal tersebut. Dia juga lagi malas keluar karena banyaknya pekerjaan yang akan ia kerjakan.
"Lumayanlah." ucap Wandi setelah menyantap bekal yang ada di dalam kotak tersebut.
Wandi senang karena bekal yang di bawakan Deri adalah kesukaannya. Dia memakan makanan itu dengan cepat karena akan ada pekerjaan yang antri di periksanya.
Setelah selesai makan, Wandi memeriksa beberapa berkas laporan dari beberapa anak buahnya.
Pintu ruangannya terbuka menampakkan Deri. Deri masuk sambil tersenyum senang.
"Wuih nampaknya sibuk banget." ucap temannya lalu duduk di hadapan Wandi.
"Jangan banyak bacot lah, ngapain kamu ke sini?" tanya Wandi menatap temannya itu sekilas.
"Nggak ada, aku hanya lagi bosan aja, gimana dengan bekal yang aku bawakan tadi?" tanya Deri membuat Wandi ingat perihal bekal tersebut.
"Lumayanlah, dalam rangka apa kamu membawakan aku bekal, terus itu siapa lagi yang masak? Atau kamu mau menyogok aku agar bisa mendekati adik aku?" tanya Wandi menatap Deri dengan tatapan menyelidik.
"hahaha, nggak juga sih, tapi kalau kakak ipar merestui biar aku makin gercep dekatin doi." ucap Deri tertawa mengingat lelaki di hadapannya tidak menyadari bekal itu dari siapa.
__ADS_1
"Aku tidak akan tertarik dengan sogokan kamu, apapun itu, ingat itu." Wandi mengingatkan temannya.
Deri hanya tertawa renyah mendengar ucapan temannya.
"Kamu nggak penasaran itu bekal dari siapa?" tanya Deri membuat Wandi menghentikan pekerjaannya.
"Emang dari siapa jika bukan dari kamu lagi?" Wandi balik bertanya.
"Itu bekal dari istri my, kebetulan aku bertemu di depan dan dia segan untuk masuk, jadi aku bawain aja sekalian ke sini." jawab Deri sambil tersenyum.
Mendengar penjelasan Dari membuat Wandi kaget. Wajahnya berubah seketika saat mengetahui itu bekal dari Vivian. Seingatnya Vivian tidak bisa masak sama sekali.
"Kenapa wajahnya seperti itu? Harusnya senang dong di antarin istri makan siang, kalau seperti ini aku juga nggak sabar pengin punya istri."ejek Deri membuat Wandi semakin meradang.
"Udah ah sana aku lagi sibuk, nggak ada waktu dengarin omongan kamu." ucap Wandi mengusir temannya itu.
Wandi hanya tersenyum melihat sikap temannya. Dia akhirnya meninggalkan ruangan Wandi karena tidak ingin lelaki itu mengamuk.
Wandi segera mengambil ponselnya untuk menghubungi Vivian. Dia begitu kesal dengan wanita itu, yang sok perhatian.
"Apa benar kamu antarin bekal ke kantor aku?" tanya Wandi to the points.
"Iya mas, kenapa?"
"Aku tidak suka dengan bekal yang kamu buat, rasanya sangat aneh, lagian aku ini bukan anak - anak yang harus di bekalin, jadi nggak usah sok perhatian, karena sampai kapanpun kamu itu tidak akan layak menjadi istri aku." ucap Wandi lalu menutup telepon genggamnya secara sepihak.
Entah kenapa dia begitu marah saat mengetahui Vivian datang ke kantornya untuk mengantarkan bekal. Dia tidak menyangka wanita itu akan datang ke kantornya.
"Apa dia ingin semua karyawan tau bahwa dia istri aku, benar - benar licik, ternyata seseorang itu nggak akan berubah jika itu sudah punya tabiat jelek." ucapnya mencoba menenangkan dirinya.
Sedangkan di kamar berumur 5 x 6 meter, Vivian nampak sedang menangis. Hatinya begitu sakit saat mendengar perkataan Wandi. Dia juga bingung kenapa Wandi berubah kasar kepadanya, apalagi setelah menikahinya.
"Apa aku seburuk itu mas? Apa aku memang tidak layak untuk kamu cintai mas?" tanya Vivian berbicara sendiri.
"Walaupun demikian mas,aku tetap akan menjadi istri yang baik untuk kamu,.aku tidak akan menyerah dengan pernikahan ini demi anak kita mas." ucapnya lagi.
__ADS_1
Setelah itu, Vivian memang tidak datang ke kantor untuk mengantarkan bekal untuk Wandi. Namun ia lansung memberikan kepada suaminya di depan sang ibu mertuanya. Hal itu membuat Wandi semakin kesal dengan Vivian. Karena Wandi tau tujuan Vivian memberikan di depan sang ibu.
Hampir setiap hari seperti itu, sehingga Wandi akhirnya terbiasa memakan bekal yang di buatkan oleh Vivian. Tapi walau bagaimanapun sikap Wandi tetap dingin kepada wanita itu.
...****************...
Ibu Vivian nampak menghampiri anaknya yang sedang di kamar. Dia sangat kesal dengan anaknya yang tidak kunjung memberikan uang kepadanya selama menikah.
Vivian begitu kaget saat melihat sang ibu masuk ke kamarnya tanpa mengetuk pintu. Dia hanya takut jika Wandi melihat hal tersebut, lalu lelaki itu akan mengatakan yang tidak - tidak tentang dirinya.
"Ibu ngapain di sini?" tanya Vivian berdiri dari tempat duduknya menghampiri sang ibu.
"Kenapa kamu begitu panik sekali ibu masuk ke sini?" tanya ibunya dengan nada tidak suka melihat kecemasan anaknya.
"Kamu ini bodoh apa gimana? Sudah hampir sebulan menikah dengan Wandi, tapi aku sama sekali tidak kamu beri uang sama sekali, kamu itu pelit atau memang Wandi tidak memberi kamu uang sama sekali?" tanya ibunya mengintrogasi anaknya.
Vivian terdiam karena tidak tau harus menjawab apa. Dia memang tidak pernah di beri uang saku oleh lelaki itu semenjak menjadi istrinya.
"Maaf Bu, aku nggak enak minta duit sama Wandi, aku...."
"Dasar anak bodoh, sampai kapan kamu seperti ini." hardik ibu Vivian.
Lalu ibunya menyadari saat ada bantal dan selimut di atas sofa.
"Jadi selama ini kamu tidur di sofa? kenapa kamu bodoh sekali? Kamu itu istri sah dia, kamu bisa goda dia, lelaki akan luntur imannya jika ada wanita yang menggodanya, kalau seperti ini terus, kamu tidak akan bisa mendapatkan suami kamu." ucap ibunya menasehati Vivian.
"Maaf Bu, aku tidak akan melakukan hal seperti itu."
"Kenapa? kamu istri sah dia, nggak ada yang melarang istri menggoda suami, malahan dapat pahala." ucap ibunya mencoba menghasut sang anak.
Setelah itu ibunya keluar dari kamar Wandi dan Vivian. Dia kesal saat keluar dari sana karena mengetahui anaknya tidak dapat uang saku sama sekali.
"Aku harus cari cara agar Wandi memberikan aku uang." gumam ibunya saat berjalan menuju kamarnya.
Wandi melihat bahwa ibu mertuanya baru keluar dari kamarnya. Dia tambah kesal melihat ibu dan anaknya yang menurutnya sangat tidak tau diri.
__ADS_1