
Semenjak Rudi dan istrinya pulang, Vivian hanya diam saja tanpa berbicara sedikitpun. Bahkan wanita itu sudah tidak tidur lagi di kamar Wandi.
Dia sangat kesal kepada Wandi yang tidak membelanya sama sekali. Bahkan dia masih ingat bagaimana tajamnya ucapan mama tiri Wandi kepadanya.
Dan yang membuat sakit hati Vivian adalah ketika Wandi menjelaskan semuanya kepada Papanya. Mama tiri Wandi menuduh dia melakukan trik kotor untuk mendapatkan Wandi.
Vivian sudah berusaha menjelaskan semuanya namun tidak ada yang percaya bahwa itu adalah trik kotor. Karena yang mereka tau Indri berasal dari keluarga terhormat, jadi tidak akan mungkin melakukan trik kotor seperti dia.
Mendapatkan tuduhan seperti itu, Vivian sangat geram dengan Wandi. Dia tau bahwa lelaki itu tidak mencintainya. Namun dia sangat berharap setidaknya lelaki itu mengatakan yang sebenarnya.
"Sudahlah aku gak akan berharap lagi , dia sendiri tadi sudah bicara kepada papanya akan menceraikannya dalam waktu dekat." ucap Vivian berbicara sendiri.
Dia menatap perutnya yang sudah membesar. Sudah hampir dua bulan menikah namun tidak ada perubahan sikap lelaki itu.
"aku akan pergi dari rumah ini secepatnya, sebelum dia menceraikan aku." ucapnya lagi sambil berdiri di depan kaca.
"Mama akan jadi Papa sekaligus Mama kamu,Mama akan buat hidup kamu menjadi lebih layak, kamu nggak usah kuatir hidup berdua dengan mama, mama janji akan bekerja dengan rajin." ucap Vivian sambil meneteskan air matanya.
Jika dulu dia mencoba bertahan karena anak di dalam perutnya, namun saat ini hatinya sudah yakin untuk tidak memiliki hubungan dengan laki manapun.
"mama hanya berharap kepadamu, apapun nanti yang kamu dengar dari masa lalu mama tolong kamu abaikan, Mama tidak mau kamu membenci mama karena masa lalu mama." ucapnya lagi.
Setelah itu Vivian mengambil kertas - kertas yang ia desain. Dia mencoba menggambarkan beberapa desain baju.
Walaupun selama ini dia tidak ada pengalaman di bidang desainer, tapi dia akan mencoba.
Nampak belakangan ini Vivian nampak rajin mempelajari tentang desain baju.
Vivian nampak fokus walaupun dia kelelahan saat ini. Yah dia memang bekerja paruh waktu sebagai pelayan. Selain itu dia juga mengambil sampingan sebagai driver taksi online.
Wandi masuk ke dalam kamarnya dan tidak menemukan Vivian. Dia merasa aneh karena terakhir - terakhir ini wanita itu sering menghabiskan waktu di kamar sebelahnya.
"Apa sih yang dia lakukan di sana?" tanya Wandi dalam hatinya.
__ADS_1
"Ah untuk apa aku menanyakan dia, biar aja dia mau ngapain di sana, ngapain aku pedulikan dia." ucap Wandi akhirnya masuk ke kamar mandi.
Untuk saat ini dia agak lega karena dia akan menceraikan Vivian lebih cepat dari janjinya. Dia sudah punya alasan untuk bisa berpisah dari Vivian secepatnya jika ibunya memarahi dirinya. Lalu dia tidak akan menikah dengan Indri sesuai janjinya kepada papanya, dia akan menikahi Geby kekasih hatinya saat ini.
"Kali ini aku akui bahwa aku ini sangat pintar, dengan begini bisa menyingkirkan dua lalat sekaligus."ucapnya sambil tersenyum puas.
Setelah selesai mandi, dia masih belum melihat Vivian di kamarnya. Wandi nampak memainkan ponselnya untuk menelpon sang kekasih.
Lalu dia melihat pintu terbuka menampakkan sosok Vivian masuk. Melihat Vivian masuk, bukannya menutup telpon. Tapi dia malah sengaja meninggikan volume suaranya.
"Udahlah sayang, kamu tidur sana lagi, atau kamu masih kangen sama aku?" tanya Wandi.
Vivian sempat melirik lelaki itu sekilas. Perasaannya tidak bisa di gambarkan saat mendengar lelaki itu sengaja menelpon wanita lain di depannya.
"Apa itu Indri? Tapi kenapa dia sengaja melakukan di depan aku, seolah - olah aku itu makhluk tak terlihat." ucapnya dalam hati.
Vivian merasa tidak peduli lagi dengan urusan lelaki itu. Setelah mengambil sesuatu akhirnya dia kembali meninggalkan kamar itu.
Wandi merasa heran saat melihat wanita itu meninggalkan kamar. Nampak wanita itu sepertinya tidak berpengaruh sama sekali.
"Apanya yang aneh sayang?" tanya Geby dari seberang sana.
"Sikap Vivian."
"Emang dia kenapa?" tanya Geby semakin penasaran.
"Nggak tau aneh aja, beberapa hari ini dia nampak sibuk di kamar sebelah." jawab Wandi.
"Kamu udah nggak sekamar dengan diakan?"
"Masih sih, tapi dia tidur di sofa, ini untuk menghindari laporan dari mata - mata ibu di rumah ini."
"Aku nggak mau kamu menyentuh dia, tapi aku ada cara agar bisa membuat dia sakit hati sama kamu." ucap Geby sambil tersenyum.
__ADS_1
"Apaan yang?"
Geby menyebutkan apa yang akan di lakukan oleh Wandi. Awalnya Wandi tidak mau melakukan ide gila Geby. Namun wanita itu akan merajuk jika tidak melaksanakan apa yang ia mau.
"Baiklah yang, untuk kamu apa yang nggak bisa di lakukan." jawab Wandi menyetujui rencana Geby.
Namun Wandi tidak akan melakukannya malam ini. Dia akan melakukan nanti dengan hati - hati.
Namun seketika dia tertawa terbahak-bahak sendiri. Karena dia baru sadar bahwa idenya Geby akan membuat Vivian akan pergi secepatnya tanpa ia harus menceraikannya.
dengan begitu dia yakin udah dilakukan karena Wanita itu sendiri yang memilih pergi.
...****************...
Sudah beberapa malam ini Vivian tidak tidur di kamar Wandi. Hal itu membuat Wandi sulit untuk melakukan rencananya untuk Vivian.
Bukannya fokus pada rencananya, namun ia malah merasa sepi saat tidak melihat wanita itu. Walaupun dia tidak menyukai Vivian sebagai istrinya, namun terkadang dia merasa wanita itu sebagai hiburannya di malam hari.
Rasanya ketika melihat wanita itu rasa penatnya berkurang. Dan terkadang dia juga merasa lucu saat melihat wanita itu berbicara Apalagi jika wanita itu sedang menonton film kesukaannya.
Bgeitu juga dengan pagi hari, Wandi tidak lagi menemukan wanita itu menunggunya di meja makan untuk sarapan. Wanita itu selalu berangkat pagi-pagi meninggalkan rumah.
"Kemana dia pagi - pagi begini?" tanya Wandi bingung sendiri dengan apa yang di lakukan oleh wanita itu.
Biasanya dia tidak begitu peduli, namun entah kenapa saat ini dia begitu kepo dengan apa yang di lakukan oleh wanita itu.
Wandi kembali ke lantai dua untuk melihat apa yang di kerjakan oleh wanita itu akhir - akhir ini.
Saat membuka pintu dia melihat kamar wanita itu sudah rapi. Dia baru mengetahui dari asisten rumah tangganya bahwa wanita ini melarang siapapun dari mereka masuk ke kamar itu.
"Dia mau melebihi majikannya, yang punya rumah aja membiarkan asistennya membersihkan kamar, pasti ada sesuatu yang disembunyikan di sini." ucap Wandi mencoba mendekati meja belajar yang ada di kamar itu.
Dia melihat beberapa tumpukan kertas di atas meja tersebut.
__ADS_1
"Ini desain baju? Kok banyak begini? Apa dia yang membuat ini sendiri?" muncul pertanyaan Wandi bertubi - tubi tentang hal itu.
"Tapi belajar dari mana dia? Atau ini hanya hasil tiru dari media sosial." ucapnya lagi.