Apakah Aku Tidak Layak Untuk Di Cintai

Apakah Aku Tidak Layak Untuk Di Cintai
Bab 14


__ADS_3

Vivian kembali ke rumah kontrakan kedua orang tuanya. Ayahnya yang mendengar berita tersebut jatuh sakit. Walaupun kedua orangtuanya sudah tau masa lalu Vivian, namun sang ayah tidak bisa menerima saat semua orang menyalah Vivian saat ini.


Apalagi semua berimbas kepada warung mereka. Sesudah beberapa hari ini, hampir tidak ada yang datang untuk belanja ke warung mereka.


Para warga takut jika mereka kena karma akibat kelakuan Vivian. Bahkan baru saja Vivian turun dari mobilnya, sudah banyak warga yang menolak kehadirannya.


"Jika bapak/ibu menampung dia, maka kami akan mengusir kalian semua."


"Anaknya seperti itu karena didikan orang tuanya, bisa jadi orang tuanya menikmati hasilnya selama ini."


Banyak lagi ucapan kasar yang terlontar dari mulut para ibu-ibu. Vivian sudah pasrah jika ia di lemparkan telur atau batu untuk sekian kalinya.


"Jangan jadi orang yang tidak tau malu kamu." Vivian menatap anak muda itu dengan tatapan emosi menatapnya.


Dia juga melihat bagaimana anak. Muda itu melemparkan batu kepadanya. Namun sayang Vivian tidak sempat menghindar.


Sehingga batu tersebut menghantam kepalanya dengan keras. Vivian lansung tumbang setelah batu itu mengenai kepalanya.


Ayahnya segera mengangkat sang anak. Para bapak - bapak juga ikut membantu membawa Vivian ke rumah sakit.


"Semua bubar, jika tidak bubar saya akan berikan sanksi." ucap pak RW mulai kesal dengan sikap warganya yang bar - bar.


Semua terdiam saat pak RW berbicara. Satu persatu dari mereka sudah mulai membubarkan diri.


Sedangkan Ayah Vivian membawa anaknya bersama dengan sang ibu. Mereka nampak panik saat melihat anaknya pingsan tidak berdaya.


Setelah sampai di rumah sakit Vivian di periksa di Unit gawat darurat. Ayahnya hanya berharap anaknya baik - baik saja.


"Bagaimana nasib kita setelah ini pak? Anak ini bukannya membuat kita senang malah menyusahkan kita di hari tua." omel Ibunya Vivian.


"Itu semua hasil yang kita tunai buk, kita gagal mendidik Vivian, bahkan kita tidak menasehati ketika tau dia menjadi simpanan lelaki lain, malah ibu menikmati hasilnya kan." ucap ayahnya membuat ibunya semakin kesal.


"Lagian dia ngapain cari masalah dengan Beni, coba dia baik-baik saja pasti sampai saat ini kita masih aman pak."


"Harusnya ibu bersyukur anak ibu berubah ke yang lebih baik."ayah Vivian mulai kesal dengan sikap istrinya yang tidak pernah berubah. Di matanya hanya ada harta dan harta.


"Keluarga pasien." panggil suster.


"Iya sus."


"Dokter ingin bicara dengan keluarga pasien."

__ADS_1


Kedua orang tua Vivian berjalan menuju dokter jaga UGD. Mereka nampak terburu-buru karena ingin tau kondisi anaknya.


"Gimana dok?" tanya ayah Vivian.


"Dia tidak apa, kemungkinan hanya syok saja, tapi manakah suami pasien?" tanya dokter yang berjenis kelamin laki-laki itu.


"Kenapa memangnya dok? Dia belum menikah." kali ini ibunya yang menjawab.


Sang dokter tampak kebingungan saat sang ibu memberi tau bahwa wanita itu belum menikah.


"Kenapa dok?" tanya sang ayah.


"Saya sarankan agar anak bapak dan ibu di bawa ke dokter kandungan, karena saya yakin bahwa anak bapak dan ibu saat ini sedang dalam keadaan hamil."


Mendengar penjelasan sang dokter, ayah Vivian lansung tumbang. Dia begitu syok saat mendengar ucapan sang dokter.


"Pak bangun pak, bangun pak." sang istri mencoba membangunkan sang suami.


Dokter lansung memeriksa denyut nadinya yang melemah. Sang dokter meminta bantuan perawat agar membawa pasien ke ranjang salah satu di UGD.


Dokter lansung meminta perawat untuk membawakan alat kejut listrik. Sebelum alat sampai, sang dokter memberikan pertolongan pertama.


Namun sayang nyawa ayah Vivian tidak bisa di selamatkan. Sang dokter hanya terdiam saat melihat sang istri pasien menangis pilu.


Vivian yang baru sadar dari komanya menyadari bahwa ada suara ibunya sedang menangis di ruangan itu. Dia mencoba mengintip apa yang terjadi.


Betapa kagetnya dia saat melihat sang ayah sudah terbujur kaku.


...****************...


"Cepat katakan siapa yang menghamili kamu?" teriak ibunya seperti seorang frustasi.


Vivian hanya terdiam saat ibunya bertanya. Dia tidak bisa menjawab siapa ayah dari anak tersebut. Karena ia tau bahwa lelaki itu tidak akan mengakui bahwa anak yang ia kandung adalah anaknya. Untuk itu Vivian lebih memilih diam.


"Kamu liat tidak, bapak kamu meninggal karena mendengar kabar kamu seperti ini, cepat katakan pada ibu, atau jika tidak maka ibu akan menyusul ayahmu saja." ancam ibunya mengambil pisau.


Sudah dua hari semenjak kepergian ayahnya, ibunya selalu bertanya. Namun Vivian sampai saat ini masih belum mau menjawab.


"Ibu jangan lakukan Bu." Vivian mulai menangis. Dia tidak tau harus berbuat apalagi.


"Cepat katakan, siapa yang melakukan ini? Atau kamu masih simpanan seseorang? Kalau kamu tidak mau mengatakannya, maka biar ibu juga mati." ancam ibunya.

__ADS_1


"Bu tolong beri aku waktu, aku akan bicara dengan lelaki itu." ucap Vivian mencoba mencari pengertian dari ibunya.


" Baik, jika dalam dua hari kamu tidak berhasil, maka ibu akan memakai cara ibu." ucap sang ibu memberikan sebuah ancaman.


Vivian akhirnya terdiam dan memikirkan cara untuk bertemu lelaki itu. Bagaimana pun dia harus terima jika lelaki itu menghinanya. Dia tau lelaki itu tidak akan mau bertanggung jawab atas anak ini. Namun dia akan berusaha demi anak dan ibunya.


"Doain mama nak, semoga mama bisa meyakinkan papa kamu." gumamnya sambil memegang perutnya.


...****************...


Wandi sangat merah dengan orang kepercayaannya. Orang kepercayaannya lagi - lagi tidak memberikan kabar kepadanya tentang apa yang terjadi pada Vivian beberapa hari yang lalu.


Dia malah dapat telpon dari ibunya mengenai Vivian. Ibunya mengirimkan video Vivian yang dilempar telur dan batu oleh beberapa warga.


Nampak juga wanita itu menahan tangis saat warga mengusirnya. Dan yang fatalnya ibunya lebih tau terlebih dahulu. Sehingga ia menjadi bulan - bulanan sang ibu di telpon.


"Apa yang terjadi di sana?" tanya Wandi kepada Ipan orang kepercayaannya untuk mengawasi Vivian.


" Kekacauan di sana sebenarnya dari di sebabkan oleh Alby, sehingga ibu - ibu lingkungan salon Vivian mengusirnya." jawab Ipan.


"kamu yakin itu Alby, bukannya lelaki itu sangat mengejar Vivian?'


"Menurut laporan yang saya terima, Alby mengetahui masa lalu Vivian dari salah satu temannya, dan temannya itu tau dari Arum." jawab Ipan.


Wandi cukup terkejut karena ternyata Alby mendapatkan berita tersebut dari Arum. Dia tidak percaya bahwa Arum adalah tipe wanita yang suka mengumbar aib orang lain.


"Lalu apa yang terjadi berikutnya?"


"Nona vivian terkena lemparan batu, dan dia pingsan lalu di bawa ke rumah sakit." ucap Ipan sambil menyerah sebuah video kepada bosnya itu.


Entah mengapa melihat video tersebut membuat hati Wandi terasa sakit. Dia tidak terima Vivian di perlakukan seperti itu.


"Setelah dia di bawa ke rumah sakit, ternyata nona Vivian di nyatakan hamil 4 Minggu dan ayahnya syok lalu kena serangan jantung lalu meninggal di tempat."


Wandi merasa kecewa dengan dirinya sendiri karena tidak bisa menjaga Vivian dengan baik. Dia juga menghitung kapan terakhir menyentuh Vivian.


"Apa jangan-jangan itu anak aku?atau anak lelaki lain? buktinya dia tidak datang meminta pertanggung jawaban sama aku." ucapnya dalam hati.


Ipan terdiam saat melihat bosnya bengong. Dia juga tidak tau entah apa yang di pikirkan oleh bosnya itu.


"Oke terima kasih atas infonya, lain kali jangan kamu simpan sendiri berita tentang dia, tolong tambah pengawasan dan jaga dia dengan baik, awas jika terjadi sesuatu yang membahayakan dia." perintah Wandi.

__ADS_1


"Baik bos."


"Jangan hanya baik saja, awas saja ibuku dapat berita tidak enak dan menelponku hanya untuk memarahi aku." ucap lelaki itu mengancam orang kepercayaannya.


__ADS_2