Apakah Aku Tidak Layak Untuk Di Cintai

Apakah Aku Tidak Layak Untuk Di Cintai
Bab 23


__ADS_3

Keluarga Wandi nampak sedang makan malam. Makan malam hanya terdengar suara bunyi sendok dan piring.


Ibu Vivian mengambil ancang-ancang untuk membahas duit bulanan Vivian. Dia tidak ingin hanya dapat apes setelah menikahkan anaknya dengan orang kaya.


Ibu Vivian menatap ibu Wandi untuk pertama kalinya. Dia tau bahwa wanita itu bisa ia manfaatkan mumpung masih tinggal di rumah itu.


"Jeng sebenarnya saya mau ngomong sesuatu, namun saya nggak enak." ucap ibu Vivian berbasa-basi setelah meneguk air putih di depannya.


"Ngomong aja buk, ada apa?" tanya ibu Wandi juga nampak telah selesai makan.


"Gimana ya, maaf ya kalau saya lancang, cuma saya ini bingung harus bagaimana." ucap Ibunya Vivian.


Wandi terus menyuap nasi yang ada di piringnya. Begitu juga dengan Vivian.


"Saya sebenarnya hanya kasihan sama anak saya, dia itu istri seorang pengusaha, tapi nggak ada pegang uang sama sekali, apa semua kebutuhan Vivian sudah di belanjakan sama Wandi? Masa untuk beli pembalut harus minta Wandi dulu jeng, gimana pendapat jeng sebagai sesama wanita?"


"huk huk huk." Vivian terbatuk-batuk mendengar ucapan sang ibu.


Sementara ibu Wandi menatap anaknya dan Vivian bergantian. Dia tidak menyangka anaknya tidak memberi uang nafkah kepada Vivian.


"Benar itu Wandi?" tanya ibunya menatap anaknya dengan tatapan kecewa.


"Bukan gitu bu, aku hanya.."


"Benar atau tidak?" tanya ibunya.


Wandi menganggukkan kepalanya. Ia sungguh sangat kesal kepada Vivian yang sempatnya mengadukan hal ini kepada ibunya.


"Laki - laki macam apa kamu yang punya istri tapi tidak menafkahi istri kamu? Apa ibu pernah mengajarkan seperti itu?" tanya ibunya kepada Wandi.


Vivian merasa tidak enak hati mengenai hal ini. Dia tidak pernah mempermasalahkan soal uang bulanan. Menurutnya ia bisa mendapatkan dengan bekerja.

__ADS_1


"Ibu benar - benar kecewa sama kamu, mulai malam ini kamu berikan uang saku untuk istri kamu, dan temui ibu di kamar." ucap ibunya lalu beranjak dari meja makan.


Wandi mengepalkan kepala tinjunya karena kesal. Sebelum pergi ia menatap Vivian seperti ingin menerkam wanita itu.


"Awas aja kamu nanti." ucapnya dengan perlahan.


Vivian mendengar ucapan Wandi membuatnya sedikit merinding. Dia lansung menatap ibunya yang bersikap biasa aja seperti orang yang tidak bersalah.


"Ibu ini apa - apaan bahas yang kayak gitu ke ibu Wandi? Bikin malu aja." ucap Vivian menegur ibunya.


"Kenapa harus malu, itukan kewajiban dia sebagai suami, kalau kamu nggak dapat apa-apa dari dia, sia - sia kamu menikah dengannya, jadi wanita jangan bodoh - bodoh kali." jawab ibunya lansung berdiri dan meninggalkan Vivian.


Vivian lansung mengusap dadanya. Dia tidak tau ucapan apa lagi yang akan keluar dari mulut Wandi untuk dirinya.


Vivian mencoba menyendok nasinya yang masih tersisa. Dia mencoba menghabiskan nasinya walaupun saat ini dia sudah tidak berselera lagi. Namun dia tetap memakannya demi sang anak dalam kandungannya.


Setelah selesai makan Vivian lansung menuju kamarnya di an Wandi. Dia penasaran apa yang di bahas oleh ibu mertuanya dengan Wandi.


"Apa dia akan kena marah ya?" tanya Vivian dalam hatinya.


"Ibu tidak mau kisah ibu terulang lagi ndi, walaupun Vivian punya masa lalu, namun saat ini dia istri kamu, kamu yang harus menjaga aib - aibnya, melindungi dia, bukan malah kamu yang menjudge dia." nasehat ibunya.


"Kamu juga harus memperlakukan dia dengan baik, bagaimanapun dia sedang hamil, kamu jangan buat dia stress."


Wandi hanya menganggukkan kepalanya karena ia memang paling tidak bisa membantah ibunya. Tapi dalam hatinya tetap memberontak karena wanita yang ia cintai bukan Vivian.


"Dan untuk saat ini lupakan masalah cinta kamu kepada Geby terlebih dahulu, kamu harus fokus dengan istri dan anak kamu, kecuali anak Vivian bukan anak kamu."


Wandi hanya menganggukkan kepalanya lagi. Setelah mendengar wejangan sang ibu selama kurang lebih satu jam, barulah kembali ke kamarnya.


Dia melihat Vivian masih duduk di sofanya. Dia lansung berdiri di depan wanita itu dengan kesal.

__ADS_1


"Senang kamu kayak ginian? senang kamu melihat aku di tegur ibu?" tanya Wandi dengan kesal.


*Maaf mas atas sikap ibu aku, aku juga nggak ada niat seperti itu." jawab Vivian menundukkan kepalanya.


"Kamu pikir dengan maaf kamu lalu bisa menghilangkan kekecewaan ibu kepada aku? Kalau kamu butuh uang tinggal bilang sama aku kenapa harus cerita kepada ibu kamu?" ucap Wandi jelas dengan nada emosi.


"Aku tau kamu itu keluarga seperti apa, jika bisa kamu moroti keluarga aku, maka sebelum habis kalian poroti aja aku." ucap Wandi membuat Vivian semakin kecewa dengan sikap lelaki itu.


"Aku tidak pernah berpikir seperti itu, aku masih bisa mencari uang dengan bekerja, kamu nggak usah menuduh aku seperti itu mas, aku akan bekerja mulai besok aku akan cari kerja." jawab Vivian yang merasa sakit hati mendengar ucapan yang ditujukan Wandi kepadanya.


"Silahkan, coba kamu buktikan omongan kamu, jangan hanya banyak bicara tapi nyatanya nggak ada."


Wandi akhirnya duduk di atas tidurnya. Sebelum membaringkan tubuhnya dia melemparkan sebuah kartu kepada Vivian.


"Ambil itu dan jangan menggonggong terus macam nggak di kasih makan sama tuannya." ucap Wandi akhirnya memejamkan matanya.


Vivian hanya diam memungut kartu itu yang jatuh itu di lantai. Malam ini sungguh sangat menyakitkan bagi Vivian.


Vivian karena tidak bisa tidur akhirnya melangkahkan kakinya menuju balkon kamar itu.


Vivian menatap indahnya langit malam ini. Sungguh dia sangat merasa iri dengan langit.


"Sungguh indah kamu langit di hiasi bintang, semesta aku masih mendung aja, entah kapan aku akan bersinar seperti kamu." ucapnya memandang langit.


"Apa aku ini memang nggak layak untuk di cintai? Apa aku akan tetap bertahan dengan suami aku?" tanyanya sambil menatap langit.


Tiba-tiba ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Saat ini air matanya sudah tidak terbendung lagi. Dia sudah tidak tahan dengan rasa sesak yang ada di dadanya.


Vivian kembali menghapus air matanya. Dia merasa sudah terlalu lama di balkon sehingga ia masuk kembali ke kamarnya.


Sebelum tidur ia mencuci wajahnya ke kamar mandi. Setelah itu barulah ia merebahkan kembali tubuhnya. Kamu tiba - tiba perutnya terasa lapar kembali. Dia sangat ingin makan martabak manis saat ini.

__ADS_1


"Kenapa aku lapar lagi? padahal baru siap makan, mana ingin martabak manis lagi." ucapnya bicara sendiri.


Vivian hanya bisa menahan diri karena saat ini ia memang tidak mempunyai uang pegangan.


__ADS_2