Apakah Aku Tidak Layak Untuk Di Cintai

Apakah Aku Tidak Layak Untuk Di Cintai
Bab 38


__ADS_3

Wandi baru saja mendapatkan laporan dari anak buahnya. Anak buah memperlihatkan sebuah video kepada Wandi.


Wandi mengepalkan kepala tinjunya karena Beni masih saja menganggu Vivian. Dan yang parahnya Wandi tau kalau kali ini ibunya Vivian ikut serta ingin menjerumuskan anaknya ke jalan yang tidak benar.


"Buat mereka di penjara seumur hidup." ucap Wandi begitu marah.


Entah kenapa melihat Vivian di ganggu seperti itu membuatnya ingin menghajar orang - orang tersebut.


"Kenapa dia berada di sana?" tanya Wandi kepada anak buahnya.


"Nona tinggal di sana semenjak pergi dari rumah tuan, nona bekerja di butik yang sudah hampir tutup." jawab anak buahnya.


Wandi tidak menyangka wanita itu tetap tidak menyerah. Dia tau ada beberapa hal yang membuat wanita itu susah dapat kerja. Dan dia semakin salut dengan perjuangan wanita itu. Wanita itu tetap tidak mudah menyerah.


"Apa yang akan saya lakukan tuan untuk nona?"


"Awasi saja dari jauh, yang pasti tugas utama kamu saat ini pastikan beni dan ibunya membusuk di penjara." ucap lelaki itu kepada anak buahnya.


"Baik tuan." jawab anak buahnya lalu berlalu meninggalkan ruang kerja Wandi.


Saat itu Wandi melihat papanya masuk ke ruangannya berpapasan dengan anak buahnya. Papanya melirik anak buah Wandi.


"Aku harus lebih hati - hati, papa nggak boleh tau apa yang aku rencanakan." ucapnya dalam hati.


"Siapa dia ndi?" tanya Papanya.


"Anak buahmu untuk mengawasi cabang terbaru." jawab Wandi berbohong.


Dia tidak mungkin mengatakan hal yang sebenarnya kepada papanya. Apalagi dia sangat tau bahwa papanya tidak menyukai Vivian.


"Kamu kan sudah selesai dengan wanita itu, kapan kamu menikahi Indri?" tanya papanya duduk dengan mengangkat satu kaki kanannya di sofa.


"Aku sudah berkali-kali mengatakan kepada papa bahwa sampai kapanpun aku tidak akan menikah dengan wanita pilihan papa, dengan aku berpisah atau tidak dengan Vivian." jawab Wandi tegas kepada papanya.


Wandi berjalan menuju sofa yang ada di ruangannya. Dia sebenarnya membahas hal yang tidak penting baginya.


"Jadi apa mau kamu? jika kamu tidak mau menikah dengan Indri, lalu wanita seperti apa yang akan kamu nikahi?" tanya papanya tidak mengerti lagi bagaimana caranya memaksa anaknya.


"Aku belum memikirkan itu karena aku masih punya istri sampai saat ini." jawab Wandi.


"Keluarga Indri sangat banyak membantu kita saat ini, jika dia menarik semua kerja samanya, bisa - bisa perusahaan kita goncang." ucap papanya mengingatkan Wandi.


"Hanya goncang kan pa? Bukan bangkrut, jadi kenapa papa begitu takut sekali, saya yakin saya bisa mengatasi semua itu." ujar Wandi merasa papanya ingin membodohi dirinya.

__ADS_1


"Kalau nggak kamu nikah dengan teman kamu itu, dia kan juga anak pengusaha kaya, setidaknya keluarganya masih sebanding dengan kita, dan kamu juga mencintai dia." usul papanya lagi.


Wandi tidak habis pikir dengan papanya itu. Saat seperti itu, papanya masih memikirkan jodoh dan bisnis sekaligus. Padahal Wandi tau tanpa besan kata raya pun mereka akan tetap kaya raya dan terhormat.


Walaupun Wandi mencintai Geby, namun saat ini dia belum ingin menikah dengan Geby karena sampai saat ini dia masih suami saya Vivian. Dan sampai saat ini dia masih belum mengurus perceraian mereka.


Entah kenapa saat ini dia tidak ingin mengurus perceraian tersebut. Dia merasa enggan melepaskan Vivian.


"Jadi apakah kamu sudah mengurus perceraian kamu dengan Vivian?" tanya papanya mengintrogasi anaknya.


Wandi menggelengkan kepalanya karena memang dia belum ingin mengurusnya.


"Kamu ini bodoh atau apa sih? Udah jelas dia meninggalkan kamu, untuk apa kamu mempertahankan wanita itu lagi, apa kelebihan wanita itu?" tanya papanya agak emosi.


"Dia itu sudah bekas, masih banyak wanita yang masih bagus bibit dan bobotnya untuk di jadikan ibu dari anak-anak kamu." ucap papanya lagi.


"Lalu bagaimana dengan istri kedua papa? Bukankah dia hanya tidak ketahuan orang banyak? Papa jamin bahwa dia tidak bekas orang lain?" ucap Wandi tersenyum mengejek papanya.


Wandi cukup tau gerak - gerik wanita itu. Tapi dia hanya malas untuk membongkar rahasia wanita itu.


"Apa maksud kamu berbicara seperti itu? jelas mama kamu wanita terhormat, dia hanya seorang janda yang papa nikahi, bukan pelacur." jawab papanya menjelaskan kepada Wandi.


"Hahahaha papa ternyata jauh lebih bodoh daripada aku, istri kedua papa tercinta itu bahkan menghasilkan anak dari laki - laki lain yang papa anggap sebagai anak sendiri."


"Silahkan saja papa lakukan tes DNA dengan anak bungsu laki-laki papa." jawab Wandi.


"Kamu jangan begitu,papa tau kamu dan ibu kamu hanya ingin menyingkirkan Dendi kan? Kamu takut papa akan memberikan harta papa kepada Dendi kan."


Wandi tersenyum mendengar ucapan sang papa. Dia sama sekali tidak pernah takut kehilangan harta warisan papanya. Karena dia sudah menyiapkan bisnisnya yang lain.


"Silahkan papa pergi siang ini ke hotel ini, papa akan bertemu Tante Mayang bertemu dengan siapa, bisa jadi itu bapak Dendi atau tidak."


Rudi nampak memerah wajahnya setelah mendengar ucapan Wandi. Dia tidak percaya dengan ucapan Wandi tanpa melihat lansung.


"Aku akan buktikan siang ini." gumamnya dengan amarah meninggalkan ruangan Wandi.


Sementara di tempat lain Vivian telah duduk dengan hati berdebar-debar di ruang tamu. Pagi itu pak Thamrin,Bu Ros serta Reno sudah berada di ruang tamu.


Pikiran Vivian melayang-layang bertanya - tanya apa yang di tanyakan oleh keduanya. Keduanya nampak sangat serius pagi itu. Suasana semakin tegang.


" Sebenarnya ada apa ini di kumpulkan Tante,om?" tanya Reno membuka pembicaraan.


"Maaf sebelumnya sudah membuat kalian bingung, sebenarnya ada yang mau om tanyakan tentang masalah pribadi Vivian." jawab pak Thamrin.

__ADS_1


Jantung Vivian hampir saja berhenti. Dia mencoba menenangkan dirinya. Dia tau bahwa pak Thamrin telah mengetahui masa lalunya.


"Apakah boleh kami bertanya Vivian?" tanya Pak Thamrin menatap Vivian yang nampak gugup.


"Boleh pak." jawab Vivian.


"Tamatlah riwayat aku." ucap Vivian dalam hatinya.


"Kalau boleh tau siapa kedua orang tua kamu?" tanya Thamrin.


Vivian kaget mendengar ucapan pak Thamrin. Dia tidak menyangka kalau mereka akan menanyakan tentang keluarganya.


"Ayah saya meninggal pak, sedangkan ibu saya dalam penjara." jawab Vivian.


"Apakah kamu punya foto ayah dan ibu kamu?" tanya pak Thamrin lagi.


Vivian menganggukkan kepalanya lalu mengeluarkan ponselnya dari sakunya. Dia mencoba mencari foto ayah dan ibunya di galeri ponselnya.


"Ini pak." jawab Vivian menyodorkan ponselnya kepada pak Thamrin.


Pak Thamrin melihat foto kedua orang tuanya Vivian. Lalu dia menyerahkan ponselnya kepada Bu Ros. Buk Ros menggelengkan kepalanya.


"Bukan mereka pak." jawab Bu Ros.


"Tapi bisa jadi mereka yang menemukan Bu." bisik pak Thamrin.


"Ini ada apa sih om? tanya Reno semakin penasaran.


"Kamu liat foto ini." ucap Thamrin memberikan sebuah foto kepada Reno.


"Ini foto Vivian?" tanya Reno bingung karena foto tersebut sepertinya sudah lama.


"Bukan,itu foto Tante kamu waktu muda."


Reno kaget mendengar jawaban omnya. Dia tidak menyangka bahwa tantenya akan mirip dengan Vivian.


"Apa mungkin....?"


"Makanya om dan Tante ingin melakukan tes DNA, jika Vivian bersedia." jawab pak Thamrin lagi.


Mereka berdua terdiam karena Vivian masih belum mengerti juga.


Sedangkan Reno lebih kearah kaget

__ADS_1


__ADS_2