Apakah Aku Tidak Layak Untuk Di Cintai

Apakah Aku Tidak Layak Untuk Di Cintai
Bab 16


__ADS_3

Saat ini Vivian sedang berada di rumah sakit. Dia tidak bisa mengontrol emosinya tadi siang yang menyebabkan dirinya di rumah sakit.


Dia menyesali kebodohannya berbuat seperti tadi. Dia bahkan tidak ingat dengan anak yang ada di kandungannya.


Untung anaknya masih bisa di selamatkan, sehingga dia masih di rawat inap di rumah sakit.


Arum dan El yang mengetahui Vivian hamil juga tidak kalah kagetnya. Mereka tau bahwa Vivian sudah berubah total. Apalagi wanita itu tinggal di rumah Wandi begitu lama.


"Apa ini perbuatan Wandi?" tanya El to the points.


Dia yakin sekali karena Vivian selama dua tahun ini hanya dekat dengan Wandi. Semua kegiatan wanita itu pun di batasi oleh Wandi.


Vivian tidak tau harus bicara apa. Dia tidak ingin menjelekkan Wandi apalagi lelaki itu telah banyak menolongnya.


"Jika kamu tidak mau menjawab, maka biar aku yang akan tanyakan kepadanya lansung." ucap El akhirnya berinisiatif untuk menemui Wandi. Namun langkah kakinya tertahan karena ada seseorang yang masuk ke ruangan itu.


"Wandi tidak akan melakukan hal yang seperti itu, apalagi Wandi tidak mencintai dia, bisa jadi itu anak lelaki lain." wanita yang masuk itu tidak lain adalah Geby.


Geby merupakan dokter kandungan di rumah sakit ini. Dia sebenarnya ingin melihat apakah pasien yang di ceritakan temannya adalah Vivian yang ia kenal. Dan betapa kagetnya saat masuk mendengar tuduhan El kepada Wandi.


"Geby kenapa kamu bicara seperti itu?" tanya El kepada wanita itu.


"Kamu juga menuduh Wandi tanpa bukti." jawab Geby emosi temannya di sudutkan.


"Tapi faktanya Vivian dekatnya dengan Wandi."


"Tapi bisa jadi dia punya kekasih di belakang Wandi, kan nggak mungkin Wandi tau semua masalah pribadi dia." Jawab Geby tidak mau kalah.


El sangat yakin dengan feeling dia saat ini. Namun dia malas untuk berdebat dengan wanita yang berprofesi sebagai dokter itu.


Sedangkan Arum mencoba untuk menenangkan Vivian. Dia tau wanita itu sedang dalam tekanan dan sakit hati mendengar perkataan Geby.


"Aku akan panggil Wandi ke sini menunjukkan semua tuduhan kamu salah." ucap Geby lalu mengeluarkan ponselnya.


Dia menghubungi Wandi saat itu juga. Setelah itu dia memasukkan ponselnya kembali.

__ADS_1


"Sebentar lagi Wandi akan datang ke sini." ucap Geby.


Geby sengaja mengatakan ingin di jemput oleh Wandi. Dalam hatinya merasa senang karena Wandi begitu peduli dengan dirinya. Namun dia juga was - was jika anak yang di dalam perut wanita itu adalah anak Wandi.


"Apa yang aku lakukan jika itu benar anak Wandi? Sementara aku mulai menyukainya." bathinnya sambil memainkan ponselnya kembali.


Tidak butuh waktu yang lama, Wandi telah sampai di rumah sakit. Dia begitu bingung ketika Geby menyuruhnya untuk datang ke ruang rawat inap.


"Ngapain dia suruh aku ke ruang rawat inap? apa dia di rawat di sini?" tanyanya dengan bingung namun tetap melangkahkan kaki ke kamar yang di sebutkan oleh Geby.


"Ge kenapa kamu di sini?" tanya Wandi saat membuka pintu.


Namun betapa kagetnya dia saat melihat ada beberapa orang yang di kenalnya dalam ruangan itu. Apalagi saat melihat Vivian sedang terbaring di atas ranjang pasien.


"Kamu duduklah." ucap Geby menepuk sofa di sebelahnya.


Wandi duduk di sebelah Geby. Sedangkan Vivian sama sekali tidak berani menatap lelaki itu. Dia takut jika lelaki itu tidak mengakui anaknya.


" Vivian sedang hamil." ucap Geby.


"El menuduh itu anak kamu, apakah benar seperti itu?" Geby melanjutkan ucapannya.


Wandi terdiam sejenak, ia masih ingat bahwa ia memang pernah tidur dengan wanita itu semalam. Tapi jika hanya dia yang pernah tidur dengan Vivian, pasti wanita itu tidak akan bingung siapa ayah anak itu.


"Ayo katakan ndi? kenapa diam?" tanya Geby takut dengan diamnya Wandi.


"Kenapa tidak bertanya kepada dia saja, tentunya dia sangat tau siapa bapak dari anaknya sendiri, kecuali jika dia banyak tidur dengan lelaki lain." jawab Wandi membuat Vivian lansung menatapnya.


Mendengar lelaki itu menuduhnya lagi membuat hatinya begitu sakit. Kata - kata menyakitkan itu lagi - lagi keluar dari mulut lelaki itu.


"Vi katakan saja yang sebenarnya, kamu tidak perlu takut,aku dan Arum percaya sama kamu." ucap El mencoba untuk membuat wanita itu mengatakan yang sebenarnya.


Dia sangat yakin sekali bahwa anak dalam kandungan Vivian adalah anak Wandi. Dan El juga semakin yakin dengan kedatangan Vivian kerumah lelaki itu tadi siang.


"Dia pasti datang untuk meminta pertanggung jawaban dari Wandi." ucapnya dalam hati.

__ADS_1


"Ayo bicara kak." bisik Arum.


Vivian saat ini merasa tenggorokan terasa sakit. Entah kenapa mulut dan lidahnya terasa berat untuk mengatakan hal yang sebenarnya.


"Aku tidak akan menyerah demi anak ini." ucapnya dalam hati.


"Dengarkan baik-baik, saya memang bukan wanita baik - baik karena masa lalu saya yang jelek, tapi setelah dua tahun ini saya tidak pernah tidur dengan siapapun kecuali kamu." ucap Vivian dengan malu.


Dia berpikir pasti semua orang yang ada di ruangan ini akan menuduhnya murahan karena masih bisa tidur dengan lelaki yang bukan suaminya.


"Saya melakukan juga bukan karena keinginan saya atau mengikuti nafsu saya, tapi lebih tepatnya saya di paksa oleh Wandi."


Semua yang ada di ruangan itu cukup kaget mendengar pengakuan Vivian. El dan Arun berpikir bahwa mereka melakukan suka sama suka.


"Benar kamu melakukan seperti apa yang ia tuduhkan ndi?" tanya Geby mulai kecewa dengan Wandi.


Wandi sendiri melihat ada kekecewaan di mata Geby. Dia sungguh tidak ingin Geby menjauhi karena mereka baru saja pacaran.


"Aku melakukan itu karena pengaruh obat." jawab Wandi.


"Jadi dia mencoba menggunakan obat untuk menjebak kamu agar bisa tidur dengannya." ucap Geby berdiri lalu berjalan mendekati Vivian.


El terdiam mendengarkan apa yang akan di katakan oleh Vivian. Dia juga pernah di beri obat perangsang oleh wanita itu. Sehingga saat ini dia tidak tau harus percaya siapa.


"Jadi kamu memasukkan obat perangsang untuk menjebak dia? Agar dia mau menikah dengan kamu?" tanya Geby dengan nada mengejek.


Vivian semakin sakit hati mendengar tuduhan yang di lontarkan oleh Geby.


"Walaupun masa lalu saya jelek, tapi saya tidak pernah melakukan itu kepada Wandi, saya tau diri karena dia cukup baik untuk saya apqlagi pernah menyelamatkan hidup saya." jawab Vivian menatap Geby dengan tajam.


"Anjing saja bisa berbalas Budi, nah kamu malah berbuat ingin menguasai tuan yang telah menolong kamu, tau gitu mending biarin aja kamu mati saat itu."


"Saya sangat berterima kasih sekali kepada Wandi dan kamu yang menolong saya, tapi saya bukan seperti itu, saya cukup tau diri, jika Wandi tidak mau bertanggung jawab atau mengakui anak Ini, dia tidak perlu bertanggung jawab atas kehamilan saya, jadi silahkan kalian keluar dari ruangan ini." ucap Vivian merasa sakit hati sekali saat ini.


Saat ini air matanya sudah tidak bisa lagi mengalir. Rasa sakit ini begitu menyakitkan hatinya. Namun saat ini yang ia pikirkan adalah dia tidak punya tempat tujuan lagi.

__ADS_1


__ADS_2