
Hari pernikahan yang di nantikan telah datang. Pernikahan Wandi dan Vivian berlangsung dengan tertutup. Yang hadir di sana adalah ibunya Vivian, ibunya Wandi, El, Arum dan sahabatnya Wandi bernama Deri.
Ibu Vivian nampak tidak senang dengan pernikahan tertutup ini. Dia tidak menyangka sama sekali bahwa pernikahan ini akan berlangsung tertutup. Dia sudah membayangkan pernikahan anaknya mewah. Dan ia duduk dengan cantik di pelaminan.
Namun semua tidak sesuai dengan ekspektasinya. Apalagi sebelum menikah Wandi sudah mengancam dirinya dan Vivian agar tidak menyebarkan berita pernikahan ini. Jika mereka menyebarkan ke publik, maka Wandi akan membuat hidup mereka seperti di neraka.
Mendengar ancaman Wandi tentunya ibu Vivian takut. Dia sudah tau bagaimana repotnya berhubungan dengan orang kaya.
"Tidak apa-apa, yang penting uang mengalir dan aku tidak perlu hidup susah - susah lagi." ucapnya dalam hati.
"Selamat ya kak Vivian dan mas Wandi, semoga menjadi keluarga sakinah mawadah warahmah." ucap Arum dengan wajah senang.
"Terima kasih." jawab Vivian juga membalas senyuman Arum.
Setelah pernikahan selesai, Wandi membawa Vivian menuju rumahnya. Dia cukup kaget ketika ibu Vivian yang juga ingin ikut kerumahnya.
Namun karena masih ada ibunya, Wandi tidak bisa berkata apa-apa. Dia terpaksa membawa serta ibu mertuanya itu.
"Ternyata kamu memang licik, sengaja kamu membawa ibu kamu, kamu kira dengan keberadaan ibu kamu, aku nggak bisa membuat hidup kamu seperti di neraka." ucapnya dalam hatinya.
Jika ibu Vivian sangat senang saat memasuki rumah mewah. Sedangkan ibu Wandi saat ini perasaannya tidak karuan. Dia tidak tau apakah keputusannya benar atau salah. Dia memang menyukai Vivian saat ini, namun dia tidak menyangka wanita itu akan menjadi menantunya.
"Entah apa yang akan di katakan papa Wandi kepadaku nanti jika tau pernikahan ini." ucapnya dalam hatinya sambil berjalan menuju kamarnya.
Dia benar - benar gelisah saat ini. Apalagi melihat sikap mertua anaknya yang jelas menurutnya kurang bagus attitudenya. Wanita itu terang - terangan menampakkan bahwa dirinya begitu Matre.
"Semoga yang terbaik untuk pernikahan Wandi dan Vivian, semoga pernikahan mereka hanya satu kali seumur hidup, dan semua bisa berjalan dengan baik." harapannya.
__ADS_1
Sedangkan Wandi terpaksa membawa Vivian ke kamarnya. Dia tidak mungkin membiarkan wanita itu berada di kamar yang sebelumnya di tempati. Karena Jiak begitu pasti ia kena marah oleh Ibunya. Apalagi sang mertua juga berada di rumah yang sama.
"Apa maksudnya kamu membawa ibu kamu ke sini? Kamu sangat ingin menikmati rumah ini dengan ibu kamu?" tanya Wandi mencengkram erat tangan Vivian.
Vivian meringis kesakitan. Dia juga takut saat melihat mata Wandi yang memerah karena begitu marahnya padanya.
"Jangan kamu pikir aku menikahi kamu karena aku mencintaimu, kamu jangan senang dulu bisa menikah dengan aku, karena aku akan buat pernikahan ini seperti di neraka." ucap Wandi membuat Vivian begitu terluka.
"Ndi sakit." ucap Vivian meringis.
"Heh sakit? sakit yang kamu rasa saat ini belum seberapa dibandingkan sakitnya hatiku ini, gara - gara Kamu, Geby meninggalkan aku, padahal dia adalah wanita yang aku kagumi sejak dulu." ucap Wandi menceritakan secara detail.
Yah dia memang sakit hati saat ini karena dia tau tidak bisa mendapatkan Geby lagi.
"Dan apa yang aku dan Geby rasakan saat ini, kamu akan membayarnya." ucap Wandi lalu melepaskan tangan Vivian dengan keras.
"Kamu akan tidur di sofa, jangan coba-coba tidur di kasur aku." ucap Wandi lansung meninggalkan kamarnya.
Sedangkan Vivian hanya duduk terdiam. Setelah melihat Wandi pergi, barulah air matanya mengalir deras.
"Maafkan ibu nak, ibu akan memperjuangkan kamu apapun yang terjadi dalam kehidupan ini." ucapnya sambil mengusap perutnya.
Vivian lansung mengambil bajunya di dalam koper. setelah itu dia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Dia hanya duduk berdiam diri di atas sofa setelah selesai mandi. Dia menunggu Wandi yang belum pulang. Dia merasa tidak enak untuk makan malam sebelum Wandi pulang.
Namun setelah melihat status seseorang, membuat Vivian sadar bahwa lelaki ini tidak akan pulang malam ini.
__ADS_1
"Baru malam pertama udah di tinggal." ungkapnya agak kecewa dan langsung membaringkan tubuhnya di atas sofa tersebut.
Saat ini Vivian sudah bertekad untuk tidak meminta banyak hal kepada sang suami. Dia hanya ingin menjalankan hidupnya dengan tenang bersama dengan anak yang ada di dalam kandungannya.
...****************...
"Kamu itu ngapain ke sini? Bukannya menikmati malam pertama malah ada di sini." ucap sang sahabat Deri.
Deri datang ke club ini karena di hubungi oleh Wandi. Dia juga merasa kasihan melihat kisah sahabatnya itu. Dia paham betul bagaimana sahabatnya begitu mengejar-ngejar cintanya Geby. Namun takdir tidak berpihak kepadanya saat ini.
"Jangan banyak bacot Lo, Lo kan tau siapa wanita yang aku inginkan ."
"mungkin kamu memang tidak berjodoh dengan Geby, dan Vivian inilah takdir kamu." ucap Deri mencoba menasehati temannya itu.
"Dia bukan takdir aku Der, dia hanya wanita yang tidak tau malu menghancurkan hidup aku." jawab Wandi sambil meneguk minuman yang ada di sana.
Alunan musik membuat orang-orang di sana bergoyang dengan happy. Berbagai macam yang di lakukan orang - orang di sana.
Deri menghembuskan nafas dengan kasar. Dia tau menasehati Wandi dalam seperti ini hanya sia - sia. Tapi untuk kebaikan sang teman dia tidak akan mudah menyerah.
"Kamu sadar nggak, kamu di pertemukan oleh Allah dengan Vivian, waktu itu wanita itu sedang sekarat, aku rasa dari sana Allah sudah menunjukkan bahwa dia takdir kamu, apalagi saat ini dia sampai hamil anak kamu, itu juga bukan kesalahannya, tapi kamu yang di jebak oleh Indri, tapi kamu malah meniduri dia bukan Indri, itu juga pertanda takdir." ucap Deri lalu meneguk minuman berkarbonasi. Dia tidak meminum alkohol sejak dulu.
"Dan bagaimana jika malam ini yang kamu tiduri adalah Indri, maka saat ini yang kamu nikahi adalah Indri." lanjut Deri.
"Indri mungkin lebih baik jejak digitalnya daripada wanita itu, wanita itu adalah wanita simpanan banyak orang di masa lalu, kamu taukan betapa menjijikkan dia." ucap Wandi yang begitu jijik membayangkan jika harus hidup selamanya dengan Vivian.
"Seluruh tubuhnya sudah di jamah oleh banyak lelaki, aku tidak sudi milikku di jamah oleh banyak lelaki." ucap Wandi kepada Deri.
__ADS_1
"Jadi mau kamu bagaimana sekarang?" akhirnya Deri bingung harus bicara bagaimana lagi. Dia sudah tidak bisa menasehati temannya itu.