
Vivian lansung pulang kerumah Wandi. Dia pulang tanpa ada yang menjemputnya. Namun dia tidak peduli lagi karena baginya saat ini dia hanya perlu peduli kepada dirinya sendiri.
Vivian lansung mengemas bajunya ke dalam koper. Dia sudah menghubungi buk Ros untuk meminta izin agar bisa tinggal di butik tempat dia bekerja.
Dia sangat bersyukur karena buk Ros membebaskannya untuk tinggal di sana. Kebetulan di sana memang ada satu kamar yang tersedia untuk dirinya.
Vivian sangat yakin bahwa dia akan berkembang di butik itu. Apapun akan dia lakukan agar bisa mengangkat derajatnya. Dia sudah tidak mau di injak-injak lagi oleh orang kaya.
Saat Vivian menenteng kopernya, dia bertemu dengan Wandi. Wandi sungguh terkejut melihat wanita itu sudah berada di rumah. Ia sungguh tidak tau bahwa hari ini wanita itu sudah boleh pulang.
Dan yang membuat Wandi heran adalah saat melihat Vivian sedang menenteng koper di tangan kirinya.
" Kamu mau kemana?"
"Saya rasa ini bukan urusan kamu." jawab Vivian dengan nada tidak ramah.
"Baik, suka - suka kamu aja,jika itu yang kamu mau." ucap Wandi merasa kesal dengan Vivian.
Dia ingin memperbaiki hubungannya dengan Vivian, namun wanita itu sepertinya mengabaikannya.
Wandi lansung meninggalkan Vivian menuju lantai dua. Saat ini suasana hatinya sedang tidak baik - baik ketika melihat Vivian bersikeras meninggalkannya.
"Oh iya terima kasih atas tumpangan selama ini, dan ini kartu yang kamu berikan, uangnya masih utuh kok."
Wandi yang baru saja menginjak tangga ke tiga lansung menatap wanita itu. Dia melihat wanita itu sedang meletakkan ATM di sebuah meja terdekatnya.
Wandi melihat wanita itu pergi meninggalkan rumah. Dia sangat ingin menghentikan langkah wanita itu. Namun mulutnya begitu berat.
"Ahhhh bodoh." ucapnya dengan kesal. Dia juga tidak tau kenapa begitu kesal saat melihat wanita itu lebih memilih pergi. Namun dia tidak bisa berbuat apa-apa.
Wandi mencoba mengecek banking di ponselnya. Dia memang sudah lama tidak mengecek ATM yang dia berikan kepada Vivian. Dia tidak menemukan pengeluaran sama sekali. Yang ada hanya uang masuk darinya tiap bulan.
" Jadi dia benar - benar tidak menggunakan uang ku sama sekali , jadi dari mana dia dapat duit selama ini? Apa dari sopir taksi online?" tanyanya bertanya kepada dirinya sendiri
Kembali kepada Vivian, dia nampak sedang menunggu sebuah taksi. Namun tidak ada tanda-tanda kedatangan taksi yang ia pesan.
Sebuah mobil berhenti tepat di hadapannya. Dia bingung kenapa mobil mewah itu berhenti di depan rumahnya. Tampak seseorang lelaki muda turun menemui Vivian.
" Apakah dengan nona Vivian?" tanya lelaki itu dengan sopan.
"Benar saya Vivian,mas ada urusan apa dengan saya?" tanya Vivian tentu saja bingung karena tidak mengenal siapa lelaki itu.
__ADS_1
"Saya Reno keponakan Bu Ros, Bu Ros menyuruh saya menjemput nona Vivian." Jawab lelaki itu.
"Ohw begitu, panggil saja Vivian mas." ucap Vivian kepada Reno
"Baiklah,mari Vi." Lelaki itu nampak membuka pintu mobilnya. Vivian masuk ke dalam mobil Reno. Dia juga tidak lupa membatalkan pesanannya.
Ternyata dari lantai dua ada sepasang mata sedang memperhatikan mereka. Dia tampak mengepalkan kepala tinjunya.
" Jadi dia masih mencari lelaki kaya raya, pantas dia tidak menggunakan uang yang ku berikan sama sekali." ucapnya dengan kesal.
"Jika begini lebih baik bercerai dengan dia, masa aku punya istri wanita murahan seperti dia, untung saja aku tidak tertipu." ucapnya sambil tersenyum senang.
Dia merasa geli seandainya tadi dia menahan wanita itu untuk tidak pergi.
Sebelum ke butik, Vivian di bawa Reno kediaman Bu Ros terlebih dahulu. Vivian begitu tabjuk melihat rumah Bu Ros yang begitu mewah. Rumah Bu Ros tidak kalah mewah dari rumah Wandi.
"Ternyata buk Ros orang kaya." gumamnya Vivian.
Reno yang mendengar gumaman Vivian tersenyum. Ternyata wanita yang bersamanya ini belum terlalu mengenal tantenya.
Mereka berjalan menuju pintu masuk. Di sana nampak Ros sedang menunggu mereka sambil tersenyum. Wanita itu walaupun tua tapi tampak begitu cantik.
Di sana juga ada seseorang lelaki yang tidak lain adalah suami Ros. Dia juga tersenyum menyambut Vivian. Vivian merasa bahwa mereka orang-orang baik yang di kirimkan oleh Tuhan.
"Terima kasih sudah mengundang saja ke sini Bu." ucap Vivian lansung lansung memberikan salam kepada wanita separuh baya itu.
"Yuk kita lansung makan siang aja, ibu udah masak untuk kamu." ajak Bu Ros.
"Wah jadi ini tamu spesial kita ma, pantas mama antusias sekali masaknya." ujar sang suami yang berjalan di Samping sang istri.
Entah kenapa saat ini Reno melihat mereka seperti keluarga kecil. Seperti seorang wanita bersama kedua orang tuanya.
Reno tersenyum saat melihat senyum dari Tante dan omnya. Dia ikut senang saat melihat keduanya senang. Tampak sekali Bu Ros sangat menyayangi Vivian walaupun baru di kenalnya.
"Pa jadi Vivian ini yang akan mengelola butik aku yang sudah tidak terawat itu, dia sangat berbakat loh pa membuat desain." ujar bu Ros mengenalkan Vivian kepada sang suami setelah mereka duduk di meja makan.
"Wah nampaknya berbakat, sama seperti kamu waktu muda ya." ucap sang suami.
"Ah ibu terlalu memuji pak, padahal saya juga belum bekerja." Vivian merasa malu karena Bu Ros begitu berlebihan memuji dirinya.
"Tapi saya yakin kamu akan membuat butik itu terkenal lagi." ucap Bu Ros dengan yakin.
__ADS_1
Mendengar cerita Bu Ros, Vivian jadi bisa menangkap bahwa butik itu terkenal dulunya. Dia ingin tau apa yang membuat butik itu mengalami penurunan.
Mereka makan sambil berbincang - bincang. Saat ini mata suami Bu Ros nampak tertuju kepada Vivian. Dia merasa pernah melihat Vivian.
"Sepertinya aku pernah melihat wanita ini di masa lalu, tapi di mana?" tanyanya dalam hati.
Vivian merasa tidak nyaman saat suami bu Ros menatapnya seperti itu. Reno juga merasa omnya memperhatikan Vivian begitu dalam.
"Om kenapa menatap Vivian seperti ini, nggak mungkin kan om suka daun muda." ucap Reno dalam hatinya.
Setelah makan siang, Reno lansung mengantarkan Vivian ke butik. Selama di perjalanan dia hanya diam saja karena bingung mau bertanya apa.
Sedangkan Vivian hanya sibuk memikirkan butik. Dia ragu untuk bertanya kepada Reno.
"Tanya apa nggak ya? Tapi kalau nggak pasti akan penasaran banget." ucapnya dalam hati.
Vivian akhirnya mencoba memberanikan dirinya. Karena menurut dia, itu akan menjadi alasan majunya kembali butik itu.
"Maaf mas, saya mau tanya sesuatu, tapi kalau mas keberatan nggak usah di jawab." ujar Vivian dengan nada ragu - ragu.
"Yah silakan saja." jawab Reno melirik Vivian sejenak lalu kembali memperhatikan jalan.
"Dari yang ku dengar sepertinya butik Bu Ros dulu terkenal, lalu apa yang membuat butik itu mundur seperti ini? Apa Bu Ros sibuk bisnis lain?" tanya Vivian sungguh sangat berhati-hati.
Reno paham kenapa wanita itu bertanya. Jika dia di posisi wanita itu pasti akan bertanya hal yang sama.
"Tante tidak mengurus butik itu semenjak ia kehilangan anaknya, jadi dia tidak mau lagi buat desain." cerita Reno.
" Menurut yang aku tau, puluhan tahun yang lalu tante terlalu sibuk dengan butiknya, sampai - sampai ia harus kehilangan anaknya, anaknya di culik oleh seorang wanita yang sudah di anggap adik oleh Bu Ros." Reno melanjutkan ceritanya.
Vivian merasakan bagaimana pedihnya perasaan Bu Ros saat itu. Dia juga pasti akan melakukan hal yang sama jika terjadi seperti itu dalam hidupnya.
"Jadi anaknya sampai sekarang tidak bertemu?" tanya Vivian.
Reno menggelengkan kepalanya. Karena sampai saat ini mereka kehilangan jejak wanita yang membawa anaknya.
"Bu Ros nggak punya anak lain?" tanya Vivian mulai begitu tertarik dengan keluarga Bu Ros.
"Ada anak pertamanya laki - laki, namun dia sangat sibuk di membuka bisnisnya di luar negeri, makanya Bu Ros ingin ke sana berkumpul dengan anak dan menantunya." jawab Reno.
"Jadi Bu Ros hanya punya dua anak, dan yang hilang anak bungsunya, semoga bisa bertemu lagi, walaupun sudah lama berlalu." doa Vivian dengan tulus.
__ADS_1
"Aamiin." ucap Reno mengamini doa Vivian. Dia juga akan sangat senang jika bertemu dengan sepupunya itu. Dia sangat yakin sepupunya itu secantik tantenya.