Apakah Aku Tidak Layak Untuk Di Cintai

Apakah Aku Tidak Layak Untuk Di Cintai
Bab 21


__ADS_3

Wandi baru saja pulang kerumahnya ketika jam menunjukkan pukul 2 dinihari. Dia melihat Vivian sedang tertidur nyenyak di atas sofa.


"Dia cantik." gumam Wandi.


Tangan Wandi terulur ingin menyentuh pipi Vivian.Namun seketika bayangan Vivian di sentuh oleh lelaki lain membuat dia kembali menjauhkan tangannya dari wajah Vivian.


"Kenapa aku bisa menyentuh pipinya." gumamnya lalu beranjak menuju tempat tidurnya.


Matanya yang mengantuk membuat ia lansung tertidur. Sementara Vivian membuka matanya dan mengintip apa yang di lakukan oleh suaminya itu.


Vivian sebenarnya belum tertidur sama sekali. Sejak tadi ia tidak bisa memejamkan matanya karena lelaki itu belum pulang. Saat melihat Wandi masuk dia berpura-pura memejamkan matanya.


Dia awalnya kaget saat tangan Wandi menyentuh pipinya. Namun setelah Wandi menarik tangannya dengan cepat membuatnya meneteskan air mata.


Yah air matanya tiba-tiba jatuh karena lelaki itu menarik tangannya dari pipinya. Seolah dia najis yang harus di hindari.


"Apa aku sekotor itu? Sehingga dia tidak mau menyentuhku?" tanyanya pada diri sendiri.


Vivian bangkit dari tidurnya lalu menatap Wandi dari sofa yang ada di kamar itu. Dia berjalan mendekat menuju tempat tidur.


"Dia sangat gagah sekali, lihat nak papamu sedang tidur aja gagah." ucap Vivian sambil memegang perutnya.


"Jika papa kamu tidak sayang sama kamu, kamu jangan bersedih, masih aja mama yang sayang sekali dengan kamu." ucap Vivian lagi.


Lagi - lagi air matanya mengalir. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana nasib anaknya ketika sudah lahir nanti.


"Jika papa kamu tidak peduli dengan mama tidak apa-apa, semoga dia peduli dengan kamu karena mau gimanapun kamu tetap darah dagingnya sendiri." ucap Vivian lagi.


Vivian melangkahkan kakinya kembali ke sofa. Dia membaringkan tubuhnya kembali di sofa itu. Saat ini dia tidak bisa membendung tangisnya sendiri. Sehingga dia tidur membelakangi Wandi.


Wandi membuka matanya dengan perlahan. Dia mencoba mengintip ketika merasa Vivian sudah kembali ke sofa tempat tidurnya.


Wandi melihat bahu Vivian bergerak. Dia tau bahwa wanita itu sedang menangis. Namun tangis Vivian tidak bisa membuatnya jatuh cinta kepadanya.


"Maaf cintaku hanya untuk Geby, walaupun itu nanti memang anakku, berarti aku hanya bisa bersamamu untuk melanjutkan hidup, sampai kapanpun aku tidak akan pernah bisa mencintaimu." gumam Wandi.

__ADS_1


Wandi kembali memejamkan matanya yang memang sudah mengantuk. Tadinya dia sudah hampir tertidur, namun ketika mendengar suara wanita itu membuatnya terbangun lagi.


Pagi harinya ketika Wandi terbangun dia sudah tidak menemukan Vivian di tempat tidurnya. Wandi lansung menuju kamar mandinya karena ia akan segera menuju kantor.


Sedangkan Vivian saat ini tengah berjibaku di meja makan membantu pelayan menyediakan sarapan pagi. Vivian tau bahwa Wandi hanya memakan roti dan minum segelas kopi atau teh.


Namun di meja makan juga tersedia nasi goreng spesial. Vivian memang terbiasa melihat hal seperti itu di rumah ini. Jadi dia tidak bertanya lagi atau heran.


"Kamu rajin sekali, biar aja pelayan yang menyiapkan." ujar ibu mertuanya saat tiba di meja makan.


"Nggak apa-apa bu, cuma bantu menyiapkan di meja makan." jawab Vivian sambil menggeser kursi untuk di duduki wanita tua itu.


Ibu Wandi tersenyum senang saat di perlakukan seperti itu oleh Vivian. Lalu Vivian duduk di kursi seberang ibu mertuanya.


Wandi sudah turun dari kamarnya menuju meja makan. Melihat Wandi sedang menuju meja makan, Vivianpun berinisiatif untuk menggeser kursi yang akan di duduki Wandi.


Setelah itu dia mengambilkan dia lembar roti untuk Wandi. Wandi melihat Vivian melayaninya pagi ini.


"Mau selai apa mas?" tanya wanita itu dengan lembut.


"Nggak usah, aku mau makan nasi goreng ini aja." ucap Wandi lansung menuang nasi goreng ke piringnya.


Vivian cukup kaget ketika Wandi mengambil nasi goreng. Dia akhirnya memakan roti yang ada di tangannya.


"Nggak biasanya dia makan yang berat - berat pagi hari." ucap Vivian dalam hatinya.


Wandi sengaja melakukan hal itu. Dia tidak ingin dilayani oleh Vivian.Namun di karena ada ibunya membuatnya tidak bisa mengatakan secara lansung.


"Ibu kamu mana Vi, kok nggak sarapan bareng?" tanya ibu Wandi.


"Maaf Bu, ibuk memang tidak terbiasa sarapan pagi." jawab Vivian merasa tidak enak hati.


Dia tau ibunya belum bangun saat ini karena sebelumnya dia mampir ke kamar ibunya. Namun dia tidak enak hati untuk mengatakan yang sebenarnya.


"Kamu hari ini nggak cuti aja ndi, kasihan loh Vivian sendiri di rumah." ucap ibunya menatap anaknya.

__ADS_1


"Nggak bisa bu, hari ini banyak pekerjaan terbengkalai di kantor." jawab Wandi.


"Kamu ini sibuk sama pekerjaan terus,kerja itu nggak akan ada habisnya, coba luangkan waktu untuk keluarga kecil kamu." omel ibunya.


"Iya ma, lain kali." jawab Wandi.


Setelah selesai sarapan, Wandi lansung meninggalkan meja makan setelah menyalami sang ibu. Melihat Wandi pergi, membuat Vivian mengejar suaminya itu.


"Mas." panggil Vivian saat di ruang tamu.


"Apalagi sih Vi?" tanya Wandi sambil membalikkan badannya.


"Ada yang lupa mas." ucap Vivian sambil menyodorkan tangannya.


"Apaan sih salam segala, kita itu bukan suami istri pada umumnya, jadi nggak usah seperti itu." jawab Wandi dengan nada pelan.


Namun dia tetap menerima uluran tangan wanita itu karena takut ibunya melihatnya.


"Dan kamu nggak usah berlagak seperti istri idaman di depan aku, karena sampai kapanpun aku tidak akan bisa mencintai kamu, kamu ingat bahwa kamu hanya istri sampai melahirkan anak itu, setelah itu kamu akan saya ceraikan." ucap Wandi lagi - lagi membuat Vivian terluka.


Vivian hanya diam tanpa menjawab ucapan Wandi. Sedangkan Wandi menjadi kesal ketika wanita di depannya hanya diam saja.


"Sudahlah sana, buat aku terlambat saja." ucap Wandi lalu meninggalkan Vivian.


"Nanti mau makan siang di mana mas?" tanya Vivian mengikuti langkah kaki Wandi menuju depan rumah.


"Tentu aja makan di kantor, emang kamu pernah liat aku pulang makan siang."


Vivian merasa bodoh sekali mengajukan pertanyaan seperti itu. Dia sangat tau bahwa selama dua tahun ini, Wandi tidak pernah makan siang di rumah. Namun dia berpikir mana tau lelaki itu berubah pikiran karena sudah mempunyai istri.


"Jangan mimpi kamu jika ingin aku makan pulang menemani kamu, emang kamu begitu berarti untuk aku." ucap Wandi lalu meninggalkan Vivian dengan kesal.


"Dasar wanita tidak tau di untung, udah di kasih hati malah minta jantung." ucap Wandi dengan kesal memasuki mobilnya.


Vivian hanya menatap punggung lelaki itu dengan wajah sedih. Dia merasa bahwa lelaki itu sudah keterlaluan terhadap dirinya.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, aku akan membuat dia jatuh cinta sama aku, bagaimanapun dia suami aku saat ini." ucapnya bersemangat lagi lalu membalikkan tubuhnya untuk segera masuk ke dalam rumah.


__ADS_2