
"Aku tidak pernah menceraikan kamu, jadi jangan pernah mengarang cerita yang tidak-tidak,aku tau bahwa kamu sangat ingin bercerai dengan aku." ucap Wandi tidak terima di fitnah oleh wanita itu.
"Sudahlah akhiri semua sandiwara, semua orang juga tau betapa inginnya anda bercerai dengan saya yang anda anggap tidak layak anda cintai, saya tau sekali anda sangat ingin menikahi sang kekasih anda, sekarang lebih baik anda pergi, tolong jangan muncul di sini lagi." Vivian mencoba mengusir Wandi.
Wandi tidak terima di usir oleh wanita itu. Dia tau wanita itu semakin belagu karena saat ini merasa lebih kaya dari dirinya.
Randi mendekatkan dirinya kepada Vivian. Tanpa aba - aba lagi, dia lansung mencium bibir wanita itu.
Vivian kaget saat lelaki itu mencoba bersikap kurang ajar kepadanya. Dia tidak terima dengan pelecehan ini.
Vivian dengan sekuat tenaga melepaskan diri dari Randi. Namun kekuatan lelaki itu cukup kuat sehingga wanita itu hanya pasrah.
Wandi tersenyum penuh kemenangan saat wanita itu akhirnya menyerah. Dia melepaskan ciumannya,lalu berkata.
"aku tau kamu mencintai aku, jadi nggak usah sok jual mahal, jika memang kita bercerai, maka aku harus bisa merasakan apa yang harus aku rasakan sebagai suami." ujar lelaki itu.
"Dasar lelaki sinting, kita sudah resmi bercerai, saya bisa aja melaporkan kamu dengan kasus pelecehan." ujar Vivian mengancam Wandi.
"kenapa? Bukannya kamu suka yang seperti ini? Bukannya kamu terbiasa melayani lelaki yang bukan muhrimnya kamu." ujar lelaki itu sangat menyakitkan bagi Vivian.
Vivian tidak menyangka bahwa mulut lelaki itu sangat berbisa. Bisa - bisanya lelaki itu berkata seperti itu di depannya.
"Jangan mentang-mentang kamu kaya lalu berhenti Melayani napsu kami, bukannya kamu memang tempat melayani nafsu kami ini, aku akan memberikan apapun yang kamu mau." Wandi sengaja mengatakan hal seperti ini agar Vivian mau berdamai dengannya.
"Semiskin apapun aku, aku tidak akan mengulangi hal yang membuat aku rugi." jawab Vivian dengan marah.
Wandi melihat wajah wanita itu memerah menahan marah. Dia tau bahwa sikapnya sangat keterlaluan.
Vivian nampak berjalan menuju tempat berkas. Dia mengambil salah satu surat di sana.
"Kamu bisa baca ini kan?" Vivian melemparkan sebuah surat.
Wandi cukup kaget karena ternyata itu benar surat perceraian. Dia merasa belum pernah menceraikan wanita itu baik secara lisan maupun tulisan.
__ADS_1
"Dari mana kamu mendapatkan ini?" tanya Wandi kepada Vivian.
" Pengacara kamu yang datang langsung mengantar ini."
Wandi lansung berjalan meninggalkan kantor Vivian. Dia membawa suatu tersebut ke kantor pengacaranya.
Dia begitu marah karena karena pengacaranya tidak diskusi terlebih dahulu dengannya.
Sesampainya di kantor pengacaranya,dia lansung menuju ruangan sang pengacara.
"Maaf pak, pak Riko sendang keluar." jawab salah satu karyawannya mencoba menghadang Wandi.
"Telpon pak Riko sekarang atau saya hancurkan kantor ini." ancam Wandi begitu emosi.
Anak buahnya lansung mengeluarkan ponselnya karena takut lelaki itu benar menghancurkan kantornya. Dia sangat tau jika lelaki ini marah kepadanya.
Randi duduk di dalam ruangan Riko. Dia sudah tidak sabar ingin bertemu lelaki itu.
Tidak lama kemudian Riko kembali dengan keadaan terburu-buru setelah mendapatkan telepon dari anak buahnya.
"Apa - apaan ini? kenapa bisa kamu melakukan hal begini tanpa diskusi sama saya terlebih dahulu." ucap Wandi begitu marah.
"Maaf pak, saya hany melakukan apa yang bapak perintahkan, papa bapak datang bersama nona Indri membawa pesan dari bapak, mereka mengatakan bahwa bapak ingin menceraikan istrinya bapak." jawab Riko mencoba menjelaskan kejadiannya.
"Lalu kenapa kamu tidak mengabarkan saya?"
"Karena kata bapak, Tuan tidak ingin tau masalah ini, katanya tuan taunya hanya menikmati hasilnya setelah selesai." jawab Riko dengan sejujurnya.
Wandi semakin kesal karena tidak bisa menjaga keutuhan rumah tangganya. Saat ini hanya penyesalan yang datang dari sendiri.
Wandi lansung menuju rumah Indri untuk memberikan sebuah hadiah untuk wanita itu. Namun langkah kakinya terhadang karena ada panggilan masuk.
"Geby, tumben dia meneleponku. siang begini." ucap Wandi akhirnya mengangkat teleponnya.
__ADS_1
"Ya hallo." ujar Wandi.
"Gimana yang? Kamu sudah mengurus perceraian kamu?" tanya Geby kepada Wandi.
Wandi tidak tau bagaimana cara menjawabnya. Saat ini dia juga tidak tau kenapa dia mesti marah kepada Riko atas perceraiannya.
Bukankah ibu yang dia harapkan.
"Kok dian saja yang?"
"Iya sudah di urus." jawab Wandi kurang bersemangat.
"Berarti kita bisa menikah secepatnya, aku sudah tidak sabar lagi menikah dengan kamu yang." ucap Geby terdengar gembira.
Wandi tidak mengerti apa yang terjadi dengan dirinya. Dulu dia sangat bahagia bersama Geby. Namun Saat ini malah Geby yang tampak begitu senang Menikah dengannya.
"Kok kamu diam saja sih? Kamu nggak senang menikah dengan aku?"Tanya wanita itu.
"Tentu senang sayang, sudah ya aku mau jalan dulu, ada urusan yang mau aku kerjakan." ucap Wandi mematikan ponselnya.
Di tempat lain, Alby sedang duduk bersama mama dan seorang lelaki. Lelaki itu tidak lain adalah Rio.
Alby pada akhirnya menyetujui hubungan mereka setelah sekian tahun bersama.
Alby akhirnya menyetujui pernikahan mereka karena mereka saling melengkapi. Dia tidak ingin jadi penghalang kebahagiaan mamanya.
"Jadi kapan kamu menikahi mama saya?" tanya Alby membuat Rio dan mamanya tersenyum.
"Minggu depan, kami sepakat akan menikah Minggu depan." jawab rio begitu tenang.
"Baiklah, karena kamu resmi menjadi suami mama, maka aku akan memberikan sebuah jabatan untuk di sini, harap di terima." ucap Alby.
"Tidak perlu begitu, saya masih bisa kerja di temoag lain, saya tidak ingin di anggap mencari keuntungan belaka." jawab Rio dengan tenang.
__ADS_1
"Tidak ada seperti itu, kita keluar maka perusahaan ini akan di kelola bersama keluarga." jawab Alby membuat mamanya tersenyum bangga.