
Sudah seminggu Vivian pergi meninggalkan rumah Wandi. Setelah pagi itu, wanita itu lansung mengemas bajunya dan pergi meninggalkan rumah itu. Wanita itu juga tidak membawa cek yang diberikan oleh Wandi. Bahkan wanita itu menolak untuk di antar oleh Wandi.
Semenjak wanita itu pergi, rumahnya terasa sepi. Biasa wanita selalu menemaninya sarapan atau makan malam.
Wandi terduduk terdiam saat melihat kamar Vivian. Dia masih melihat masih ada beberapa lembar baju wanita itu di dalam lemari.
"Kemana dia pergi ya? Apa dia pergi kepada Alby?" tiba-tiba Wandi ingat Alby.
Lelaki yang mungkin saja membantunya saat seperti ini. Apalagi dia tau bahwa lelaki itu sangat menyukai wanita itu.
Entah kenapa saat membayangkan Alby membantu wanita itu membuat dirinya terasa panas. Ingin rasanya dia meninju semua benda yang ada di sana.
"Sial, kenapa aku begini? kenapa wanita itu begitu menyiksa aku, tidak mungkin aku menyukai wanita seperti dia, aku tau betapa banyaknya lelaki yang sudah meniduri dia sebelum aku." ucap Wandi membuang semua bedak yang ada di depan lemari hias.
" Aku harus menyingkirkan semua benda yang berhubungan dengan wanita ini, aku tidak mau hidup dalam bayang - bayang rasa bersalah kepada wanita itu." ucapnya dengan yakin.
Wandi keluar dari rumah tersebut. Dia memanggil pelayan untuk membuang semua milik Vivian yang masih ada di kamar tersebut.
Setelah itu dia meninggalkan rumah untuk pergi ke kantor.
Sedangkan di tempat lain Alby baru saja di kabarkan oleh Kelvin bahwa Vivian sudah tidak masuk selama dua Minggu. Dia cukup kaget karena selama dua Minggu ini berada di luar negeri mengurus bisnisnya.
"Apa yang membuat dia pergi?" tanya Alby kepada Kevin saat berada di ruangan Kevin.
"Aku juga tidak tau, harusnya pertanyaan itu keluar dari mulut aku, aku sangat butuh nih bantuan dari dia, semenjak dia bekerja di perusahaan ku, semua berjalan dengan lancar, ide - ide yang dia berikan begitu cemerlang."
"Aku juga bingung karena sebelum aku ke luar negeri, dia baik-baik saja, tapi ada sesuatu sepertinya yang dia sembunyikan, dia selalu menolak aku karena merasa tidak layak." cerita Alby kepada sahabatnya.
"Tentu saja dia merasa tidak layak untuk kamu." bukan Kevin yang menjawab melainkan Gea yang baru saja datang.
__ADS_1
"Sejak kapan kamu di sini?" tanya Kevin kesal dengan sahabatnya itu karena masuk seenaknya saja.
"Sejak tadi, tapi kalian saking seriusnya nggak menyadari aku masuk." jawab Gea.
Gea memberikan beberapa lembar kertas kepada Alby. Alby tidak paham dengan apa yang Gea maksud.
"Wanita itu dulunya adalah wanita simpanan para om - om."
"Kamu jangan mengarang cerita." ucap Alby tidak suka Gea berbicara seenaknya tentang Vivian.
"Aku tidak bicara sembarangan, kalau kamu tidak percaya kamu boleh tanya Arum atau El lebih tepatnya." jawab Gea menatap Alby.
"Kamu liat aja semuanya, foto - foto itu asli, dan parahnya wanita itu juga pernah menjadi simpanan papa kamu, dan dia juga yang telah menjebak Arum sehingga di tuduh menjual diri kepada papa kamu." cerita Gea lebih jelas.
Alby melihat foto Vivian bersama sang ayah. Awalnya dia tidak percaya dengan apa yang di katakan oleh Gea. Namun ketika melihat foto - foto di tangannya, membuat dia semakin percaya.
"Ini video bagaimana dia di gilir oleh anak buah papa kamu, dan ini ada juga video dengan preman - preman lainnya."
Alby merasa marah saat melihat semua itu. Ternyata wanita yang sudah menghancurkan rumah tangga orang tuanya adalah wanita yang ia kejar selama ini.
Dia merasa jijik setelah melihat apa yang ada di dalam ponsel tersebut. Berbeda dengan Kevin, dia merasa kasihan kepada Vivian. Dia tidak tega setelah masa lalu wanita itu di umbar kembali oleh Gea. Dia malah takut bahwa video itu akan membuat wanita itu hancur.
"Untung aku belum bersama dia, terima kasih Gea kamu telah membuka mataku lebih jelas lagi." ucap Alby.
"Sebagai sahabat aku tidak akan menjerumuskan kamu, apalagi untuk memperistri wanita seperti itu." jawab Gea merasa senang karena akhirnya ia bisa menyadarkan Alby.
"Darimana kamu mendapatkan video tersebut? karena bukannya kita sama - sama tau bahwa Vivian pernah di culik, dan hampir di bunuh, bisa jadi itu bagian dari peristiwa di culiknya Vivian, lagian tidak ada bukti dia selingkuhan papa kamu bi." ucap Kevin mencoba mengingat peristiwa beberapa tahun yang lalu.
Alby juga tau peristiwa itu karena cukup menghebohkan karena tertangkapnya seorang pengacara hebat. Namun Gea tidak membiarkan Alby terpengaruh oleh ucapan Kevin.
__ADS_1
"Kalau kalian kurang yakin, kalian boleh tanya El atau Arum, mereka saksi hidup bahwa dia wanita simpanan papa kamu, mereka tidak mungkin berbohong."
"Jadi kamu tau ini dari Arum?" tanya Alby kepada Gea
"Ten... tentu saja." jawab Gea agak gugup. Karen sebenarnya dia tidak mendapatkan informasi dari Arum ataupun El.
Dia sengaja mencari informasi ini lansung mendatangi papanya Alby. Dia datang dan hanya bercerita bahwa Alby sedang tergila-gila dengan Vivian.
Papanya Alby tidak terima jika anaknya menikah dengan wanita yang pernah tidur dengannya. Dia tentu ingin anaknya mendapatkan wanita baik - baik. Untuk itulah Beni memberikan semua bukti - bukti bahwa Vivian pernah menjadi selingkuhan banyak pengusaha ternama.
"Aku percaya dengan apa yang di ucapkan oleh Arum, dia tidak akan berbohong." ucap Alby akhirnya berdiri dari tempat duduknya.
Dia yang marah, kecewa dan perasaan campur aduk. Alby pergi meninggalkan Kevin dan Gea di sana. Tujuan pertamanya adalah mencari Beni sang papa.
"Apa yang membuat kamu datang ke sini?" tanya Beni ketika melihat anaknya mendatanginya setelah lama tidak bertemu.
"Apa benar Vivian mantan simpanan papa?" tanya Alby terus terang.
Beni menganggukkan kepalanya.
"Berapa lama?"
"Sudah lebih dari lima tahun,tapi sebelum sama papa dia juga di pakai oleh beberapa pengusaha ternama karena dia sangat cantik." jawab Beni menceritakan semuanya.
Alby gaya terdiam mendengar cerita papanya. Dia bahkan tidak menyangka dengan sang mama bahwa papanya menyimpan wanita yang bekerja di perusahaannya tersebut.
"Gila, kalian melakukannya bertahun-tahun, dan parahnya kantor tempat mencari nafkah kalian juga jadikan tempat kotor kalian." ucap Alby dengan marah.
"Maafkan papa, papa tergila-gila pada dia yang cantik dan seksi.," jawab Beni dengan jujur.
__ADS_1
Alby hanya terdiam sambil mengepalkan tangannya. Dia rasanya marah sekali dengan kondisinya saat ini.
"Awas aja kamu vivian kalau ketemu aku, aku akan memberi kamu perhitungan agar kamu menyesal telah merusak keluargaku." ucap Alby dengan dendam di hatinya.