Apakah Aku Tidak Layak Untuk Di Cintai

Apakah Aku Tidak Layak Untuk Di Cintai
Bab 36


__ADS_3

"Hentikan." seseorang muncul sebagai pahlawan saat ini.


Beni begitu kaget saat melihat ada Alby berdiri menghadang mereka. Dia tidak tau bagaimana menjelaskan kepada Alby saat ini.


"By kamu ngapain di sini?" tanya Beni kepada anak lelakinya itu.


"Jadi begini kelakuan papa, sampai sekarang ternyata papa nggak berubah sama sekali." ucap Alby lansung membuat Beni terdiam.


Alby merasa malu mempunyai papa seperti Beni. Saat umur udah tua namun masih berbuat kejahatan.


"Papa mengecewakan aku pa, mulai detik ini jangan anggap aku anak lagi,dan papa pertanggung jawabkan di kantor polisi." ujar Alby membuat mereka kalang kabut.


Ibu Vivian lansung mencoba melarikan diri. Namun sayangnya mereka tidak bisa kemana-mana karena polisi sudah mengepung tempat mereka.


"Pak saya tidak salah pak, saya hanya mau bawa anak saya." ujar ibu Vivian mulai ketakutan.


"Kami sudah dengar semuanya, ibu nggak bisa untuk berbohong lagi, ibu macam apa kamu yang tega menjual anaknya sendiri." jawab sang polisi dengan tegas.


Beni dan anak buahnya lansung di ringkus polisi. Vivian tampak begitu shock dengan keadaan saat ini.


Alby menghampiri wanita itu yang nampak pucat. Dia tau bahwa saat ini wanita itu ketakutan. Dia merasa menyesal telah pernah mempermalukan wanita itu.


"Kamu nggak apa-apa?" tanya Alby kepada Vivian.


Vivian menganggukkan kepalanya pertanda ia baik - baik saja. Namun dia masih tidak menyangka bahwa yang menolongnya adalah Alby, lelaki yang membuatnya hancur tanpa sisa waktu itu.


"Terima kasih." ucap Vivian kepada Alby.


"Kamu sebaiknya ikut aku saja, sepertinya tempat ini kurang aman buat kamu."


"Tidak, aku di sini saja." jawab Vivian.


Tentu saja Vivian merasa keberatan ikut dengan Alby. Walaupun lelaki itu telah menyelamatkan dirinya, namun dia masih takut berurusan dengan keluarga itu.


"Kamu tenang saja, kamu nggak usah takut, aku nggak akan berbuat apa-apa."


Alby paham bahwa tidak muda bagi Vivian memaafkan dirinya. Dia memang sangat keterlaluan waktu itu mempermalukan wanita itu tanpa sisa. Bukan hanya itu saja, bahkan dia juga memasukkan wanita itu ke daftar hitam pencarian kerja di perusahaan.

__ADS_1


"Aku hanya ingin membantu kamu, sekali lagi maafkan aku jika kejadian masa lalu begitu membekas di hati kamu." ucap Alby.


"Aku nggak marah sama kamu, sebagai anak wajar kamu benci sama aku yang pernah menjadi orang ketiga dalam hidup orang tua kamu, aku juga minta maaf, jadi anggap saja kita sudah impas." ujar Vivian tetao ingin menjaga jarak dengan Alby. Bukan karena benci namun hanya untuk kedamaian di hatinya saja.


Saat Alby ingin bicara lagi, tiba - tiba seorang datang di antara mereka.


"Kamu nggak apa-apa Vi?" tanya Reno nampak begitu panik.


Alby mengenal siapa Reno. Dia tau bahwa lelaki itu juga merupakan keluarga terpandang di Jakarta. Dan lelaki itu juga merupakapebisnis muda yang sukses.


"Aku tidak apa-apa mas, mas tau dari mana?" tanya Vivian.


"Ada seseorang yang menelpon ku dan mengabarkan ada terjadi sesuatu di butik."jawab Reno.


Merasa tidak nyaman di antara Vivian dan Reno membuat Alby akhirnya berpamitan. Sedangkan Reno masih bingung kenapa Alby bisa berada di sana.


Vivian melihat Reno yang sedang menatap Alby. Dia tau bahwa lelaki itu sedang bertanya - tanya dalam hatinya.


"Dia Alby yang menolong aku tadi mas." ujar Vivian lansung menjawab rasa penasaran Reno tanpa di tanya oleh lelaki itu.


Reno tersenyum karena wanita itu bisa membaca apa yang sedang ada di pikirannya.


Vivian baru ingat bahwa tujuannya untuk mencari makan.


"Aku lupa bahwa aku tadi sedang cari makan." jawab Vivian.


Akhirnya Reno dan Vivian pergi mencari makan. Vivian akhirnya menceritakan apa yang terjadi kepada Reno dengan permasalahannya. Dia menutupi apapun kepada lelaki itu.


Sedangkan di tempat lain, Tamrin suami Ros nampak sedang membuka album lama. Entah kenapa dia merasa ingin mencari sesuatu di Album lama.


Setelah membolak balik berapa Album, barulah ia bertemu dengan apa yang di carinya. Dia lansung tersenyum setelah melihat foto puluhan tahun yang lalu.


"Kan benar, pantas saya seperti pernah melihatnya." ucapnya dengan senang.


Tamrin nampak berjalan keluar dari gudang memanggil sang istri dengan senyum sumringah.


"Ros sini." panggil Tamrin berjalan dengan agak bergegas.

__ADS_1


Ros yang mendengar teriakan sang suami lansung mencari sumber suara. Dia juga bingung kenapa suaminya teriak - teriak memanggilnya malam - malam begini.


"Apa sih pa, malam - malam begini teriak - teriak." tanya sang isteri.


"Kamu liat foto ini, coba liat." Tamrin menyerahkan beberapa foto dari tangannya.


"Ini foto aku pa, emang kenapa?" tanya Ros semakin bingung dengan sang suami.


"Dia mirip kamu waktu muda, dia sangat mirip dengan kamu." Jawab Tamrin begitu senang. Namun tetap saja Ros tidak paham sama sekali.


"Dia siapa pa?" tanya Ros dengan kening mengerut.


"Itu anak buahmu yang baru, yang seminggu yang lalu ke sini."


"Vivian?"


Tamrin menganggukkan kepalanya dengan senang. Ros juga baru menyadari bahwa Vivian sangat mirip dengan dirinya di masa lalu.


"Jadi maksud papa dia anak kita yang hilang? Bisa jadi pa hanya mirip, karena di dunia ini bukannya kita di ciptakan beberapa orang yang mirip." Ros tidak mau lagi terlalu berharap. Karena anaknya begitu lama menghilang.


"Kenapa nggak kita cari tau aja ma, kita korek masa lalu dia, kalau benar dia anak kita gimana ma?"


Ros awalnya yang kurang semangat tiba - tiba menjadi semangat. Ide suaminya juga tidak ada salahnya di coba. Toh tidak akan merugikan mereka.


"Kenapa kita nggak lansung tes DNA aja langsung pa, kelamaan jika harus mengorek masa lalu dia." ujar Ros.


Tamrin lansung menganggukkan kepalanya. Karena bagi mereka yang sudah tua tidak ada kesempatan lagi untuk menunggu terlalu lama.


Ros nampak mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Reno. Dia ingin lelaki itu membawa Vivian kerumahnya malam ini.


Reno yang sedang serius mendengarkan cerita Vivian. Dia merasa prihatin dengan masa lalu wanita itu. Namun dia senang karena wanita itu memilih bertaubat.


Tiba - tiba ia mendapat telepon dari tantenya lansung mengangkatnya. Dia juga tidak tau kenapa tantenya malam-malam menghubunginya.


"Hallo tante."


"Ren tolong kamu jemput Vivian, dan bawa ke rumah."

__ADS_1


Reno sedikit kaget ketika ia mendengar perintah tantenya. Dia lansung mengiyakan karena baginya saat ini tempat yang aman bagi Vivian adalah rumah tantenya.


Reno takut jika masih ada anak buah lelaki jahat itu yang tersisa. Untuk itu dia sangat setuju membawa wanita itu rumah tantenya. Dan dia akan menceritakan kepada tante dan omnya setelah sampai di sana.


__ADS_2