
Indri datang ke kantor papanya dengan wajah kesal. Dia sangat ingin papanya memaksa agar Wandi segera menikah dengannya.
Papanya sangat kaget melihat anak satu-satunya masuk dengan wajah kesal.
"Ada apa nak?" tanya Dirman kepada anaknya.
"Wandi memilih pergi dengan wanita lain, aku mau papa menekan om Rudi agar aku segera menikah dengan Wandi pa." rengek Indri.
"Jadi Wandi mengabaikan kamu, siapa wanita yang pergi bersama dia?" tanya papanya.
"Aku nggak kenal dia pa, tapi kata Wandi dia calon istri dia." jawab Indri menjelaskan kepada sang papa.
Pak Dirman lansung menghubungi sahabatnya itu. Dia juga mengancam Rudi sebagai teman lamanya. Dirman tau bahwa Rudi tidak akan berani mengabaikannya. Karena bagaimanapun Rudi bisa sekata ini berkat bantuan dirinya di masa lalu.
"Udah kamu tenang saja, bagaimanapun Wandi akan menjadi milik kamu." ucap Dirman menghibur anaknya.
Sedangkan di tempat lain seseorang sedang mencoba menenangkan dirinya sendiri. Saat ini dirinya sedang menangis saat melihat hasil testpack yang masih ada di tangannya.
"Ya Allah apa ini hukum karma bagi hamba karena sikap hamba di masa lalu." ucapnya menahan kepedihan sendiri.
Tekanan demi tekanan ia hadapi saat ini. Baru saja memulai hidup yang lebih baik, namun masa lalunya tetap menghampirinya. Dan cacian makian yang ia dapatkan. Belum lagi cacian yang di dapat dari orang yang tidak di kenalnya.
Bahkan untuk saat ini dia tidak membuka media sosialnya. Tadi pagi ketika baru membukanya, ternyata akunnya di serang oleh orang yang tidak dikenalnya.
"Aku akan terima apapun cacian dan hinaan dari mereka, aku akan melindungi kamu nak apapun yang terjadi." ucapnya bersemangat.
Vivian tau jika kehamilannya ini akan di kaitkan dengan masa lalunya. Apalagi saat ini dia hamil sebelum menikah.
Semenjak kemaren salonnya nampak sepi. Tidak ada satupun yang datang untuk memotong rambut ataupun melakukan apapun.
"Jika begini terus, bisa - bisa aku nggak bisa membayar sewa tempat ini." ucap Vivian.
"Aku tidak boleh mengeluh, kau yakin aku kuat menghadapi semua ini." ucapnya lagi mencoba menguatkan diri.
"Vivian keluar kamu."
Tiba-tiba terdengar suara orang memanggilnya dengan keras dari arah luar. Vivian melihatnya keluar, dan dia menemukan pemilik tempat yang ia tempati saat ini.
"Iya Bu, apa mau potong rambut?" tanya Vivian dengan lembut.
"Saya tidak sudi potong rambut sama kamu, apalagi di sentuh oleh tangan kamu yang kotor itu." ucap ibu Sumiati pemilik tempat tersebut.
"Ibu kenapa berkata seperti itu?" tanya Vivian.
__ADS_1
"Mulai hari ini kamu keluar dari kios saya ini, saya tidak sudi tempat saya ini di huni oleh seorang pelacur dan simpanan suami orang." ucap Bu Sumiati sungguh menyakitkan hati Vivian.
Namun Vivian tetap mencoba untuk tenang menghadapi ibu ini.
"Bu saya sudah membayar sewa saya selama beberapa bulan, ibu tidak bisa mengusir saya seperti ini." ucap Vivian mencoba bertahan.
"Ini uang kamu, ambillah, saya tidak sudi menerima uang haram dari kamu." ucap Bu Sumiati melemparkan uang ke wajah Vivian.
Tiba-tiba pak Dono suami Bu Sumiati datang. Ia mencoba menenangkan sang istri.
"Bu yang sabar, jangan seperti ini terhadap Vivian, kasihan dia." ucap pak Dono.
"Oh jadi kamu mulai tertarik dengan dia makanya kamu membela dia." ucap Bu Sumiati dengan marah ketika suaminya membela Vivian.
"Bukan seperti itu Bu, tapi kita nggak punya bukti apa - apa mengenai gosititu, bisa jadi itu hanya fitnah, lagian selama Vivian tinggal di sini, tidak ada satupun lelaki yang datang menghampirinya, bahkan salonnya kusus untuk wanita Bu." jawab pak Dino panjang kali lebar
Bu Sumiati tetap tidak menerima penjelasan pak Dono. Dia hanya ingin Vivian pergi meninggalkan tempatnya. Dia takut uang yang di terimanya adalah hasil Vivian menjual diri.
"Bu tolong kasih saya kesempatan, saya tidak seperti yang ibu pikirkan, semua hanya salah paham." ucap Vivian mencoba membela diri.
"Saya tidak peduli, hari ini kamu harus pergi, jika tidak maka anak buah saya yang akan membuang barang-barang kamu ke jalan."ancam Bu Sumiati.
Vivian hanya terdiam dengan mata memerah karena tidak punya pilihan lagi. Lagi - lagi nasib tidak berpihak kepadanya.
"Tapi saya tidak akan bisa pindah secepatnya, tolong beri saya waktu dia hari Bu untuk memindah barang - barang saya." ucap Vivian lagi meminta waktu.
"Tidak bisa, malam ini tempat harus kosong, jika tidak seperti yang saya katakan, suruhan saya yang akan membuangnya."
"Sudahlah buk, jangan sekejam itu kepada manusia, sesama manusia kita harus saling tolong menolong."
"Dia bukan manusia pa, jika dia manusia, dia tidak akan merebut suami orang lain." jawab Bu Sumiati.
"Gimana Bu? Udah ibu usir orangnya?" tiba-tiba datang tiga orang ibu - ibu.
"Sudah Bu, saya juga tidak sudi tempat saya di huni oleh wanita seperti dia." jawab Bu Sumiati.
"Bagus buk, setidaknya tempat kita nggak kena sial." jawab ibu yang satunya lagi.
"Jangan berkata seperti itu Bu." tegur pak Dono.
"Ah suami ibu sama saja dengan suami saya, mungkin udah tergiur dengan kemolekan tubuh dia." ucap salah satu ibu - ibu itu.
"Udahlah usir adalah yang paling tepat, nanti kita bilang sama yang lain jangan biarkan dia sewa tempat."
__ADS_1
Ibu - ibu yang lain hanya menganggukkan kepalanya. Sedangkan Vivian hanya diam sambil mengemasi barang-barangnya.
Saat Vivian mengemasi barang - barangnya semakin banyak orang yang datang menyaksikannya. Itupun yang banyak menyaksikan adalah ibu - ibu.
Mereka takut jika Vivian tidak di usir akan membuat suami mereka akan bermain serong dengan wanita itu.
Ada juga yang sedang membuat video saat wanita itu mengemasi barang-barangnya. Vivian tau tapi hanya diam saja. Karena dia tau tidak akan pernah menang melawan banyak orang seperti ini.
Vivian mencoba mencari mobil angkutan untuk barang-barangnya. Namun itu semua butuh waktu yang lama juga.
Butuh waktu berjam-jam akhirnya barang - barangnya telah naik ke atas mobil. Sebelum pergi dia tetap berpamitan dengan pemilik rumah.
"Terima kasih Bu, saya ijin pamit." ucap Vivian mengulurkan tangannya.
"Tidak usah sok basa - basi, saya tidak akan Sudi menyentuh tangan kotor kamu."
"Huuuuuuu nggak tau diri." sorak ibu - ibu yang lainnya.
Tiba-tiba sebuah telur mengenai kepala Vivian. Dan bukan hanya satu saja tapi ada beberapa telur lagi yang di lemparkan setelah itu.
"Stop ibu - ibu, jangan seperti ini." tiba-tiba seorang muncul melindungi Vivian.
"Awas kamu, kamu siapa berani - beraninya menghalangi kami."
Vivian hanya menundukkan kepalanya saat dirinya di lempar telur. Bahkan saat ini dia masih melihat adanya kamera yang aktif.
"Ibu - ibu jangan menilai orang dari mulut orang lain, saya saksi bahwa Vivian orang baik, berkat bantuan dia saat ini, suami saya mulai baik kepada saat lagi, hubungan saya dengan suami membaik."
Vivian mengintip siapa wanita yang ada di depannya. Dia masih ingat ternyata wanita itu adalah ibu yang memotong rambutnya beberapa hari yang lalu. Dia bersyukur karena sang suami telah memperlakukan ibu itu dengan baik.
"Apa kalian di sini tidak ada yang punya dosa? Apa kalian di sini bersih dari dosa? coba maju kedepan yang mengatakan dirinya bersih dari dosa." ucap ibu itu dengan lantang.
Tidak ada satupun dari ibu - ibu yang ramai tersebut maju. Mereka hanya menundukkan kepalanya.
"Jika ada yang salah, apa salahnya ibu - ibu menegurnya, dia masih muda, tapi jika masa lalunya di jadikan ejekan, apakah ibu - ibu semua tidak pernah punya masa lalu yang buruk." teriak ibu itu lagi dengan teriakan menggelegar.
Entah kenapa melihat bagaimana ibu itu membelanya membuat Vivian terharu.Ingin rasanya dia memeluk sang ibu. Namun dia tidak ingin memancing suasana.
"Pergilah Vi, kabari ibu kemana kamu pindah, insyaallah rejeki akan selalu datang menghampiri kamu, percayalah itu." ucap ibu itu membalikkan tubuhnya.
"Makasih ibu....makasih." ucap Vivian di sertai tangisnya.
Hatinya saat ini sungguh rapuh. Dia sudah tidak bisa menahan air matanya untuk tidak jatuh lagi.
__ADS_1