
Wandi dan Geby akhirnya keluar dari ruangan tersebut. Wandi nampak bingung apa yang akan di lakukannya. Dia sangat mencintai Geby,namun dia tidak ingin anaknya terlahir tanpa seorang ayah.
Namun melihat masa lalu Vivian, dia juga ragu bahwa itu anaknya. Karena dia juga tau selain dekat dengannya, Vivian juga dekat dengan Alby.
"Bisa jadi itu anaknya Alby, secara dulukan mereka sangat dekat, bisa jadi Alby menolak makanya dia menuduh aku." ucap Wandi dalam hatinya.
"Tapi bagaimana jika anak itu benar anak aku?" tanyanya dalam hati.
Geby melihat bagaimana Wandi yang hanya diam di mobil. Lelaki itu sepertinya memikirkan wanita yang ada di rumah sakit.
"Kamu masih memikirkan wanita itu? Udahlah nggak usah di pikirkan, toh kita juga tau bahwa masa lalu dia nggak baik, bisa jadi dia balik ke stelan pabriknya." ucap Geby mencoba meyakinkan Wandi.
Geby sebenarnya masih shock mendengar bahwa Wandi sudah pernah tidur dengan Vivian. Saat ini entah kenapa hatinya merasa sakit sekali. Walaupun itu dalam pengaruh obat.
"Aku kecewa dengan kamu." ucapnya membuat Wandi menepikan mobilnya.
"Maafkan aku Ge, aku waktu itu benar dalam keadaan pengaruh obat, tapi bodohnya aku lupa memberi wanita itu pil KB." ucap Wandi.
Geby semakin kecewa mendengar jawaban Wandi. Bukannya menyesali, tapi yang di sesali lelaki itu adalah lupa memberi pil KB.
"Jadi kamu tidak menyesal Uda pernah tidur dengannya? Kamu mau mengulang lagi dengannya." ucap Geby membuat Wandi semakin panik.
Tentu saja panik karena jika wanita itu marah bisa jadi akan meninggalkan dirinya. Dia tidak mau itu terjadi. Karena baginya mendapatkan Geby sungguh perjuangan yang luar biasa.
"Bukan seperti itu sayang, aku tidak akan menyentuh wanita itu kalau bukan karena obat." Wandi mencoba menjelaskan
"Kamu sih bodoh, udah tau wanita seperti itu malah di tampung di rumah, dan bodohnya bisa pula di kerjain seperti itu."
Wandi akhirnya menjelaskan bahwa kejadian malam itu bukan ulah Vivian. Dia menceritakan semua dari awal.
__ADS_1
Geby semakin marah karena lelaki itu bisa - bisanya minum bersama Indri. Dia tidak habis pikir bagaimana wanita licik itu bisa tidur dengan Wandi malam itu. Sudah di pastikan Wandi akan menjadi suami wanita itu.
"Jadi Vivian itu menyelamatkan kamu dari Indri? Gitu maksudnya kamu?"
"Bukan seperti itu juga sayang, ini sama saja aku keluar dari lubang harimau tapi masuk lubang buaya." ucap Wandi membuat Geby senyum masam.
"Terbalik, keluar lubang buaya masuk lubang harimau." ralat Geby.
"Sama aja."
Setelah mengantarkan Geby ke rumahnya, Wandi lansung pulang ke rumahnya. Dia kaget ketika melihat sang ibu duduk di ruang tamu. Melihat kedatangan sang ibu membuat Wandi sedikit was - was.
"Ibu kesini kok nggak kabari aku dulu? Kan aku bisa jemput ibu kalau ibu mau kesini." ucap Wandi duduk dan menyalami sang ibu.
"Ibu kesini ingin memukul kepala kamu ini, apa yang kamu lakukan sehingga ibu Vivian menemui ibu."
"Ini pasti ulah Vivian, aku yakin dia yang menyuruh ibunya bertemu ibu, secara dia yang tau alamat ibu, dasar wanita licik." ucap Wandi dalam hatinya.
Ibu Wandi melihat anaknya sedang melamun. Dia tidak tau apa yang ada di pikiran anaknya saat ini.
"Emang apa yang ibunya katakan Bu?" tanya Wandi sangat penasaran.
"Ibunya meminta pertanggung jawaban, kenapa kamu bodoh sekali, bisa tidur dengan Vivian, lalu mencampakkan dia dan tidak mau bertanggung jawab atas perbuatan kamu, sejak kapan ibu mengajarkan kamu sebagai pengecut." ucap ibunya.
"Tapi aku dalam keadaan tidak sadar Bu melakukannya, aku dalam pengaruh obat."
Ibunya memukul sang anak karena saking geramnya.
"Jika pengaruh obat maka kamu bisa mendatangi dokter, jika kamu mabuk, kenapa kamu pergi meneguk minuman haram itu."
__ADS_1
"Maaf Bu, maafkan anakmu ini."
"Semua sudah terlanjur terjadi, kamu harus menikahi Vivian sebagai bentuk pertanggung jawaban kamu." ucap Ibunya membuat Wandi tidak terima dengan saran ibunya.
"Aku tidak mencintai dia Bu, lagian bagaimana jika itu bukan anak aku Bu, secara dia punya masa lalu yang buruk." bantah Wandi.
"Jangan memfitnah orang untuk lari dari tanggung jawab, dia sudah berubah dia tahun ini, dan kamu saksinya, lalu kamu m buat dia hamil, mau gimanapun kamu harus menikahi dia dalam keadaan suka atau tidak suka, bisa jadi itu takdirnya kamu." ucap ibunya.
Ibunya memang menyayangi Vivian walaupun wanita itu punya masa lalu yang buruk. Namun dia tidak menyangka wanita itu akan menjadi menantunya. Jejak digital wanita itu tentu akan menjadi perdebatan di keluarga besarnya.
"Aku nggak bisa Bu,aku sudah punya Geby, Geby segalanya bagi aku, Vivian tidak ada bandingannya."
"Ibu tidak menyuruh kamu membandingkan mereka, ibu hanya suruh kamu bertanggung jawab, kamu harus menikahi dia secepatnya,kalau tidak ibu nggak akan pernah mau mengakui kamu anak ibu." ancam ibunya.
Wandi merasa di lema saat ini. Dia merasa tidak sudi untuk menikahi Vivian. Apalagi dia tau bahwa dia bukan pertama untuk wanita itu.
Dia tidak bisa membayangkan bagaimana tiap malam bersama wanita itu. Dia yakin bayangan masa lalu wanita itu disentuh oleh banyak lelaki membuatnya merasa jijik.
"Jika memang anak itu bukan anak kamu, kamu bisa menceraikannya setelah anak itu lahir, tapi jika benar itu anak kamu bertanggung jawablah." ucap ibunya lalu berdiri berjalan meninggalkan Wandi.
Sang ibu mengambil nafas sedalam - dalamnya. Dia juga tidak tau apa yang dia lakukan benar atau tidak. Membayangkan kedepannya membuat kepalanya sakit. Tapi dia harus bisa belajar menerima takdir bahwa Vivian akan menjadi menantunya.
"Mungkin ini jalan Allah untuk dia agar menjadi wanita lebih baik lagi, semoga dia benar menjadi wanita baik sehingga tidak mempermalukan keluarga di masa depan." harapan ibu Wandi.
"Tidak ada salahnya mencoba, bukannya dia sudah bertaubat, bukannya Allah saja Maha pemaaf, semoga kamu semua bisa menerima dia dengan baik dan melupakan masa lalunya." ucapnya dalam hati.
Sedangkan Wandi masih terdiam diruang tamu. Jika itu sudah permintaan ibunya maka dia tidak akan bisa menolak. Berbeda jika papanya yang meminta.
"Ya Allah apa yang akan aku lakukan? Apa yang akan aku katakan pada Geby?" tanyanya pa da dirinya sendiri.
__ADS_1