
Wandi saat ini sedang duduk memikirkan ucapan dari ibunya Vivian. Dia ingat betul dengan jelas permintaan ibunya Vivian.
Jujur saja saat ini Wandi bingung memberikan keputusan. Dulu dia merasa sangat ingin berpisah dengan wanita itu. Tapi entah kenapa saat ini hatinya sangat berat untuk menceraikan wanita itu.
"Kenapa aku merasa berat untuk menceraikan dia? Padahal bukannya ini keinginan aku? Aku sangat ingin menikah dengan Geby." ucapnya dalam hati.
"Mungkin ini karena aku gengsi aja, masa dia yang menceraikan aku." ucapnya lagi.
Geby menatap Wandi dengan bingung. Akhir - akhir ini lelaki itu sering melamun jika bersamanya. Geby tau bahwa saat ini Wandi pikirannya sedang tidak bersamanya.
"Ndi gimana dengan Vivian?" tanya Geby bertanya kepada Wandi.
"Dia masih bersikukuh meminta cerai, tapi ibunya memohon untuk tidak bercerai, anehnya ibu malah meminta uang harta gono-gini." ucap Wandi sambil tertawa mengejek.
"Memang ya, memang matre kali ibu dan anak, meminta yang bukan haknya."
"Mau gimana lagi, aku juga malas memperpanjang ini."
"Kamu setuju bercerai dengan Vivian?" tanya Geby dengan sangat berhati-hati.
"Maaf mungkin belakang ini, aku terlalu mengabaikan kamu, aku hanya ingin menikah dengan kamu, tapi entah kenapa saat ini aku merasa tidak terima di ceraikan oleh Vivian." Wandi memilih jujur kepada Geby.
Geby hanya menganggukkan kepalanya. Diapun tidak tau bagaimana merespon dalam hal ini. Dia sangat ingin melihat Vivian menderita dan membayar semua apa yang di lakukan terhadap keluarganya. Namun dia juga tidak bisa menikah dalam waktu cepat dengan Wandi.
"Bagaimana jika Wandi menikahi aku dalam waktu dekat, aku hanya memanfaatkan Wandi untuk membalaskan sakit hatiku." ucapnya dalam hatinya.
"Kok kamu malah melamun? Apa kamu pengen banget kita nikah?" tanya Wandi kepada Geby.
__ADS_1
"Jika kamu masih belum puas membayar sakit hati kamu, mending kamu pertahankan saja dia, buat dia menderita sampai pada akhirnya dia memilih untuk pergi tanpa harta gono-gini."
Wandi mencerna ucapan dari Geby. Dia tidak mengerti kenapa Geby bisa berpikir seperti itu.
"Tapi bukannya itu kejam sekali?"
"Kalau kamu setuju memberikan harta gono-gini, maka tujuannya menikahi kamu tercapai, ingat tujuan dia menikahi kamu adalah demi harta, tetapi ternyata dia tidak bisa menjadi nyonya Wandi selamanya, makanya dia memilih meminta harta gono-gini untuk hidupnya kedepannya."
Wandi membenarkan ucapan Geby. Dia merasa juga sangat sakit hati dengan tipu muslihat wanita itu. Namun dia masih memikirkan yang lainnya.
"Tapi setidaknya dia tidak mencari lelaki lain lagi untuk mencari uang." jawab Wandi.
"Kamu segitunya memikirkan dia, ih jahat banget." ucap Geby berpura-pura merajuk.
Wandi hanya tersenyum melihat sang kekasihnya merajuk. Dia sangat jarang merajuk kepadanya. Geby selalu cuek kepadanya, berbeda dengan dirinya yang begitu bucin kepada wanita itu.
...****************...
"Kamu pikirkan diri kamu, jangan sok pandai, setelah bercerai dengan Wandi maka kamu akan sengsara."
"Bu hidup itu sudah ada yang mengatur, percayalah Bu, lagian ibu sangat peduli sekali dengan harta itu daripada perasaan aku Bu."
"Bertahan aja apa susahnya, walaupun dia selingkuh yang penting kamu istri pertama, dan kamu tetap yang tinggal di rumah itu." jawab Darmi.
"Bu bisa nggak ibu nggak mikir uang terus, aku loh capek hidup bersama dengan dia, dia itu sangat membenci kita, kita bisa cari yang sendiri." ucap Vivian menjelaskan kepada sang ibu.
Bu Darmi hendak menjawab Vivian. Namun wanita itu tidak jadi menjawab karena terdengar suara ketukan pintu.
__ADS_1
"Masuk."
"Maaf Bu, saya pengacara pak Wandi, ingin memberikan surat ini." ucap lelaki itu sambil memberikan amplop coklat.
"Surat apa ini pak?" tanya Bu Darmi.
"Ini surat cerai yang di kirimkan oleh pak Wandi."
"Bagaimana dengan harta gono-gini pak?" tanya Bu Darmi. Dia tidak menyangka bahwa lelaki itu akhirnya benar-benar menceraikan anaknya.
"Tidak ada pembagian harta gono-gini sepersen pun Bu, karena pernikahan ini cuma sebentar dan juga bukan keinginan dari pihak klien kami."
"Nggak bisa gitu dong pak."
"Udah pak, saya terima, makasih pak." ucap Vivian dengan cepat memotong pembicaraan sang ibu. Dia tidak ingin memperlihatkan bahwa dia sangat begitu matre.
Setelah lelaki yang mengaku pengacara Wandi pergi, ibu Vivian kembali mengomeli sang anak. Namun Vivian masa bodoh aja. Baginya kesehatan mentalnya lebih penting daripada uang.
Melihat anaknya yang diam saja tanpa bantahan, membuat Bu Darmi akhirnya memilih meninggalkan Vivian. Dia begitu kesal dengan kebodohan sang anak.
"Dasar anak bodoh, udah di ajari malah nggak mau ngikutin, mana mau aku hidup susah lagi." omelnya sepanjang jalan.
Tiba-tiba tanpa sengaja dia menabrak seseorang. Bu Darmi sungguh kaget melihat siapa yang di tabrak nya saat ini.
"Kamu?" ucapnya lansung pucat melihat sosok itu. Bu Darmi ketakutan seperti melihat hantu di siang hari.
"Apa kabar Darmi? Senang bertemu dengan anda, bagaimana dengan kabar anak anda?" tanya sosok yang berdiri di depannya sambil tertawa.
__ADS_1
Sudah lama dia mencari keberadaan Darmi, namun saat ini dia berhasil menemukan wanita ini.
Siapakah sosok yang di tabrak Bu Darmi? Ayo coba tebak sosok ini.