Apakah Aku Tidak Layak Untuk Di Cintai

Apakah Aku Tidak Layak Untuk Di Cintai
Bab 32


__ADS_3

Ibu Vivian telah berada di rumah sakit. Dia tau bahwa Vivian kecelakaan dari teman - teman sosialitanya.


Dia nampak kesal Karena anak dan menantunya tidak mengabari dirinya mengenai kecelakaan itu. Dan yang membuatnya kuatir adalah kandungan Vivian.


"Aku harus memastikan kandungan Vivian, aku nggak mau dia kehilangan aset kekayaan aku."!ucapnya sambil berjalan dengan terburu-buru.


Darmi lansung masuk ke dalam ruang inap Vivian setelah tau dari suster jaga. Dia melihat Vivian sedang duduk memakan sarapannya.


"Bodoh, masih bisa kamu sarapan setelah menghilang aset penting." ucap wanita itu lansung memarahi anaknya.


Vivian bingung dengan maksud aset yang di sebutkan oleh ibunya. Dia sudah lumayan lama tidak bertemu dengan ibunya. Semenjak ibu membeli rumah, ibu yang tidak pernah lagi datang ke rumah Wandi untuk menemuinya.


Vivian tau karena selama ini keuangan wanita itu lancar di penuhi oleh Wandi. Namun saat ini Vivian tidak tau apa tujuan ibunya datang ke sana.


"Apa ibu datang karena begitu mengkuatirkan aku." ucapnya dalam hatinya.


"Malah diam lagi, kenapa kamu ceroboh sekali, udah kau hamil malah pergi ke mana-mana, kalau kamu udah nggak hamil anak Wandi, pasti lelaki itu akan membuang kamu dengan mudah." omel ibunya membuat Vivian tersenyum miris.


Dia tersenyum atas dirinya sendiri karena ibunya ternyata lebih peduli dengan harta Wandi. Ibunya peduli dengan janinnya karena takut miskin.


"Jika aku memilih tentu saja aku tidak mau kehilangan anak aku Bu, sudahlah ibu jangan menyalahkan aku terus, ada atau tidak adanya anak ini, Wandi tetap akan menceraikan aku, karena dia sudah punya calon istri." jawab Vivian mencoba menjelaskan kepada sang ibu.


"Walaupun dia sudah punya pacar, tapi kamu jangan bodoh, ibunya tidak akan merestui sampai anak kamu lahir, dan jika benar anak itu adalah anak dia, maka kamu akan selamanya jadi istri sah dia." ucap Darmi begitu kesal melihat kebodohan anaknya.


"Sudahlah, setelah ini kamu perlu berbaik - baik dengan Wandi, lakukan apapun agar kamu segera hamil lagi anaknya, dengan begitu rumah tangga kamu akan bertahan."


"Aku sudah memutuskan untuk bercerai dari Wandi." ucap Vivian membuat Darmi begitu kaget.

__ADS_1


Dia lansung memukul lengan sang anak karena menurutnya begitu bodoh.


"Bodoh, semua wanita ingin di posisi kamu saat ini, tapi kamu malah ingin berpisah dari lelaki kaya raya, apakah kamu ingin hidup miskin lalu di hina - hina orang lain lagi." ucap Darmi begitu emosi. Dia sangat shock mendengar apa yang di sampaikan oleh anaknya.


"Aku sudah bulat dengan keputusan aku bu, harta masih bisa di cari, sedangkan harga diri tidak, aku akan berusaha bangkit dan membuat orang yang menghina kita akan bungkam mulutnya dengan kesuksesan aku." ucap Vivian dengan yakin.


"Jangan banyak mimpi kamu, kamu kira gampang mengahadapi nyinyiran mulut orang kalau kamu nggak ada duit, sekarang mungkin tidak ada yang nyinyir sama kamu karena kamu istri Wandi, tapi setelah kamu bukan siapa - siapa Wandi maka Beni dan yang lainnya akan mulai mencari masalah lagi dengan kamu." ucap ibunya dengan geram.


"Aku tidak peduli Bu, aku tetap dengan keputusan aku, aku ingin bercerai." jawab Vivian dengan keputusan yang tidak dapat di ganggu gugat lagi.


Darmi tidak tinggal diam, dia merasa harus melakukan sesuatu. Setidaknya jika Vivian bercerai maka ia harus dapat keuntungan dari perceraian ini.


Darmi tidak begitu lama di sana karena ia harus berpikir ekstra untuk dapat uang dari perceraian anaknya. Dia harus mencari seseorang untuk mengabulkan keinginannya.


Pagi ini Wandi tidak berangkat ke kantor. Dia ingin menuju rumah sakit melihat keadaan Vivian. Walaupun dia di usir oleh wanita itu, namun tetap saja dia ingin ke sana.


Darmi mengajak Wandi untuk berbicara empat mata. Sebenarnya Wandi enggan untuk menemui wanita itu, namun karena dia adalah ibu dari Vivian, membuat ia hanya patuh kepada wanita itu.


"Bagaimana ini bisa terjadi? Kamu ini tidak becus menjaga cucu ibu." ucapnya sambil berpura-pura menangis sedih.


"Ini takdir Bu." jawab Wandi dengan basa - basi belaka.


"Apakah kamu benar ingin menceraikan Vivian setelah ini? padahal dia baru saja kesakitan kehilangan anaknya, masa harus menjadi janda, setidaknya biarkan dia pulih terlebih dahulu." ucap Darmi dengan tidak tau malunya berbicara seperti itu.


"Aku juga tidak berpikir seperti itu Bu, tapi Vivian yang meminta bercerai dari saya." jawab Wandi.


"Dia hanya sedang sensitif, kamu jangan gegabah seperti itu."

__ADS_1


Sementara di ruangan Vivian, Indri baru saja masuk ke ruangan Vivian. Vivian sangat kaget saat melihat wanita itu masuk ke ruangannya. Dia sendiri tidak tau apa tujuan wanita itu datang ke sana.


"Kamu benaran kecelakaan ternyata, aku menyesal tidak bisa menyelamatkan kamu dari kecelakaan ini, padahal harusnya aku bisa." ucapnya dengan mimik wajah bersedih. Vivian sama sekali tidak paham kemana arah pembicaraan wanita itu.


"Awalnya aku memang membenci kamu saat tau kamu istri Wandi, aku juga meminta papanya Wandi untuk menyuruh Wandi menceraikan kamu." cerita wanita itu dan Vivian hanya diam untuk mendengarkan.


"Lalu Wandi tidak ada reaksi, dia antara setuju dengan tidak, aku pikir karena dia sangat mencintai kamu, lalu aku di beri tahu oleh seseorang ternyata kamu adalah korban, kamu hampir sama dengan aku."


"Enak saja di samain dengan dia." jawab Vivian tentunya dalam hatinya.


"Aku tau bahwa ternyata Wandi ingin menikah dengan Geby, lalu aku mencari tau tentang mereka, ternyata mereka ingin kamu cepat - cepat kehilangan anak kamu agar mereka bisa menikah secepatnya." cerita Indri membuat Vivian agak kaget.


"Mereka tidak sabaran ingin menyingkirkan kamu, maka dari itu mereka ingin anak itu di singkirkan segera mungkin, dan aku sendiri mendengar mereka sengaja mencari kambing hitam dengan seseorang." cerita Indri seakan ingin membuat Vivian memanas.


"Jangan menuduh sembarangan."ucap Vivian tidak ingin percaya dengan Ucapan Indri.


"Kamu boleh tidak percaya, tapi kamu ingat tidak dengan mobil yang menabrak kamu dari belakang, itu adalah salah satu mobil Wandi." ucap Indri dengan meyakinkan.


Vivian mencoba mengingat mobil yang menabraknya dari belakang. Dan ingatannya membuatnya semakin jelas bagaimana dengan mobil tersebut.


Dia akhirnya percaya dengan ucapan Indri. Dia sangat yakin dengan keputusan yang di ambilnya.


Setelah berkata seperti itu, barulah Indri pamit. Vivian berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri saat ini.


Vivian tersenyum saat sudah merasa yakin dengan keputusannya.


"Sekali maju tidak akan mundur." gumamnya.

__ADS_1


__ADS_2