Apakah Aku Tidak Layak Untuk Di Cintai

Apakah Aku Tidak Layak Untuk Di Cintai
Bab 7


__ADS_3

"Jadi malam ini kamu mencoba menggoda aku?"


Vivian sangat kaget mendengar pertanyaan yang di lontarkan oleh lelaki itu.


"Kamu itu mabuk, tidurlah." jawab Vivian mencoba memaklumi bahwa lelaki itu dalam keadaan mabuk.


"Aku tidak sepenuhnya mabuk, aku masih sadar, ini kan yang kamu tunggu, menunggu aku seperti ini, lalu kamu melancarkan aksimu untuk menggoda aku." ucap Wandi begitu menyakitkan hati Vivian.


"Kenapa kamu bicara seperti itu ndi? Aku tadi terburu - buru kebawa h karena cemas mendengar kamu dalam keadaan mabuk." jawab Vivian mencoba menjelaskan.


Wandi berdiri dengan kesal mengingat bagaimana wanita itu mencium Alby di tempat umum. Dia lalu mencengkram rahang bawah Vivian dengan kuat.


"Sekali murahan akan tetap murahan, tabiat kamu tidak akan bisa di ubah, sudah berapa lelaki yang kamu ajak tidur selama ini?" tanya Wandi dengan suara yang keras.


Vivian merasakan rahangnya sakit saat ini. Di tambah ucapan lelaki itu lansung membuka luka lamanya.


"Ternyata kamu tidak begitu puas dengan masa lalumu, lalu kamu mencoba lagi mendekati pengusaha kaya demi hidup kamu, apa kamu begitu frustasi karena tidak bisa melakukan hal tersebut kepada aku?" ucap lelaki itu lagi.


"Wandi kamu bicara apa?" tanya Vivian mencoba menahan air matanya.


"Kamu itu pelacur tetap saja pelacur, dan yang lebih parahnya kamu meniduri bapak dan anak sekalian, apa begitu inginnya kamu masuk ke lingkungan ornag kaya." ucap Wandi tanpa berperasaan .


Wandi melihat air mata Vivian mengalir dengan deras. Ingin rasanya ia menghapus air mata itu. Namun entah mengapa saat ini dia begitu membenci wanita itu.


"Kamu kenapa jahat begitu." ucap Vivian mencoba untuk menenangkan dirinya yang sudah menangis.


Wandi menatap manik mata wanita itu. Dia melihat wanita itu semakin cantik semakin di tatapnya. Apalagi dengan pakaian yang ia gunakan saat ini.


Wandi lansung mencium wanita dengan membabi-buta. Dia tidak peduli saat ini bagaimana dengan wanita itu yang memberontak.


Vivian tidak habis pikir dengan Wandi saat ini. Sudah lama ia tinggal dengan lelaki itu, namun selama ini lelaki itu memperlakukan dirinya dengan sopan.


"Lepas ndi."

__ADS_1


"Kenapa? Bukannya ini yang kamu mau? Bukannya kamu terbiasa seperti ini? berapa uang yang mereka beri, nanti aku akan kalikan sepuluh kali lipat." ucap Wandi dengan membara.


Saat ini dia tidak bisa mengendalikan dirinya. Dia juga tidak paham kenapa saat ini tubuhnya terasa begitu panas dan sangat ingin memeluk wanita itu.


Sedangkan di dalam mobil, Indri begitu kesal dan kuatir. Karena dia sangat ingat apa yang dia lakukan tadi saat di diskotik.


Dia masih ingat bagaimana dia melihat Wandi saat memasuki sebuah bar. Saat itu lah dia mengambil kesempatan untuk mendekati lelaki itu.


Dan dia juga tidak lupa untuk bekerja sama dengan seorang bartender yang merupakan salah satu kenalannya karena ia sering nongkrong di sana bersama teman - temannya.


"Siap, harusnya aku berhasil membawa lelaki itu ke hotel, tapi kenapa malah ada pengawalnya, dan malah membawanya pulang." ucapnya dengan kesal.


"Lalu siapa wanita tadi? Apakah dia pacar Wandi yang tinggal satu rumah? Atau itu istri sirihnya." ucapnya lagi dengan pikiran yang tidak tenang.


"Bagaimana jika Wandi justru meniduri wanita itu, aku harus memastikan hal itu."


"Pak tolong antarkan aku kembali ke rumah bos kamu." ucap Indri mencoba meracau.


"Maaf nona, saya akan tetap mengantarkan anda kerumah nona." jawab Sopir Wandi.


"Banyak orang yang akan menjaga tuan muda, sebaiknya anda pulang saja." ucap lelaki itu membuat Indri semakin kesal.


"Awas aja itu terjadi, maka akan aku bunuh wanita itu." ucapnya dengan mata berapi - api.


...****************...


Wandi terbangun dari tidurnya yang terasa pegal sekali. Tiba-tiba ia juga kaget saat melihat Vivian sedang tertidur di sampingnya.


"Apa yang terjadi?" tanyanya pada diri sendiri.


Dia Mencoba mengingat apa yang terjadi tadi malam. Tiba-tiba semua kejadian tadi malam lewat di otaknya.


Dia lansung marah kepada dirinya sendiri karena tidak bisa mengontrol emosinya dan birahinya.

__ADS_1


"Sial, apa yang akan aku lakukan? Aku tidak mungkin bertanggung jawab, aku sangat mencintai Geby." Wandi berbicara dengan sendiri.


Wandi menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Setelah mandi yang lama akhirnya dia menemukan solusi untuk menyelesaikan masalah ini.


Saat keluar dari kamar mandi, dia melihat Vivian juga sudah bangun. Dia melihat wanita itu tengah berlinang air matanya.


"Kamu tidak perlu cemas, aku sudah menyiapkan bayarannya sesuai dengan apa yang aku janjikan." ucap Wandi mengeluarkan sebuah cek dengan nominal fantastis.


"Saya tidak butuh uang anda tuan, saya tau bahwa anda orang kaya jadi jangan menghina kami yang miskin ini." ucap Vivian dengan nada berapi-api.


Saat ini dia begitu benci dengan lelaki yang ada di kamar tersebut.


"Kamu nggak usah muna, apa uang segitu kurang? Aku tau bahwa itu yang kamu mau, makanya kamu sengaja mendekati diri kepada Alby, karena saat ini dia salah satu pemegang usaha keluarganya."


Vivian bangkit dari duduknya dengan amarah yang tidak dapat ia bendung.


"Saya kira anda berbeda dengan lelaki lain, mungkin lelaki lain memang menganggap saya sampah masyarakat, tapi anda ternyata sama saja, lalu jika saya wanita seperti itu apa bedanya dengan anda? Bukannya anda begitu menyukai tubuh saya ini tadi malam?" Vivian tidak tahan dengan hinaan lelaki itu lagi.


Wandi kaget saat melihat wanita itu berjalan mendekati dirinya. Bahkan wanita itu dengan sangat berani memperlihatkan tubuhnya yang hampir telanjang.


"Menjauh Vi, jangan mendekat."


"Kenapa? Bukankah aku ini hanya pelacur, bukankah seperti ini cara pelacur untuk membuat anda puas." ucap Vivian sudah kehilangan akal sehatnya.


Hampir dua tahun dia mengubur masa lalunya dengan baik, namun saat ini lelaki yang menolongnya dari kematian malah membuka luka lama itu kembali.


Wandi mencoba menutupi tubuh Vivian. Entah kenapa dia merasa menyesal telah menyakiti hati wanita itu. Dia melihat bagaimana frustasinya wanita itu saat ini.


"Maafkan aku." ucapnya Wandi tiba-tiba memeluk tubuh Vivian agar tenang.


Dia juga menyesal telah mabuk tadi malam. Dia tidak sadar dengan apa yang dia lakukan tadi malam sehingga menyakiti wanita itu.


"Maafkan aku." ucapnya yang juga hampir frustasi mengingat apa yang terjadi tadi malam. Dia merasa bahwa dirinya begitu bejat. Dia merasa saat ini telah menyakiti hati wanita itu begitu dalam saat ini.

__ADS_1


Vivian hanya menangis dalam pelukan lelaki itu. Dia merasa saat ini dirinya telah hancur sehancurnya. Dan saat ini dia merasa sudah tidak punya masa depan lagi. Dia merasa semua harapan pada dirinya sudah tidak ada lagi.


__ADS_2