
Pagi harinya Ziana terbangun, dia melihat ke sebelahnya dan tidak menemukan siapa pun. Ziana bernapas lega.
"Apa dia tidak pulang semalam?"gumam Ziana sambil merenggangkan otot -ototnya.
Ziana duduk dan melihat ke sekeliling kamar, betapa terkejutnya dia saat melihat Arsen sedang tidur si sofa.
"Dia tidur si sofa?" Ziana tersenyum, ternyata pria itu tidak seburuk yang dipikirnya.
Ziana turun dari ranjang dan membawakan selimut untuk Arsen. Dengan perlahan Ziana menyelimuti tubuh pria itu kemudian dia masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Sekitar 30 menit, Ziana pun keluar dari kamar mandi, dengan menggunakan handuk yang melilit di tubuh mungilnya.
"Dia belum bangun? Apa dia tidak akan sholat subuh?"gumamnya saat melewati sofa tempat Arsen tidur.
"Bodoh amat lah, mending aku sholat lebih dulu nanti baru bangunin dia."lanjutnya.
Ziana mengganti pakaiannya, kemudian melakukan sholat subuh. Setelah selesai, Ziana kembali berjalan ke sofa untuk membangunkan Arsen yang terlihat masih pulas dengang tidurnya.
"Hei... Bangun!" Ziana menggoyangkan kaki pria itu.
Tidak ada pergeraka, Ziana pun sudah merasa lelah untuk membangunkanya. Akhirnya Ziana menyerah dan memilih untuk menyiapkan barang - barangnya, karena hari ini juga Ziana berniat untuk kembali pulang ke Indonesia.
Pukul 8 pagi Ziana memesan makanan dan menyuruh pelayan hotel untuk mengantarkannya ke kamar. Berbarengan dengan datangnya makanan, Arsen pun bangun dari tidurnya. Dia menatap Ziana aneh, sepertinya pria itu belum sadar seluruhnya.
"Kamu siapa dan ngapain kamu di kamarku?!"tanya Arsen.
"Aku malaikat pencabut nyawamu dan aku di sini untuk menjemputmu" jawab Ziana sekenahnya.
"Mandi dan ayo kita sarapan! Pukul 10 nanti aku akan kembali ke Indonesia terserah kamu mau ikut atau tidak" lanjut Ziana .
"Pulang? Bukankah kita disini sampai lusa, nikmati lah liburannya dan kita akan tetap di sini" balas Arsen yang sudah kembali ke dunia nyata.
"Tidak mau, aku harus menyelesaikan ini semua secepatnya dengan oma"
"Percuma, nanti bukannya kamu dapat solusi agar berpisah dari hunungan ini. Tapi, nanti kamu malah di minta untuk mengandung seoranv cucu sama Oma, apa kamu mau?"
"Idih ogah banget"dengus Ziana kesal.
"Ikuti saja alurna, aku pasti akan memikirkan bagaimana cara agar kita bebas." kata Arsen.
Ziana menatap Arsen seolah dia sedang mencari kebenaran dari ucapan pria itu.
__ADS_1
Arsen bergerak dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Sekujur tubuhnya terasa berat karena tadi malam dia harus tidur meringkuk di sofa.
Setelah seesai mandi, Arsen duduk bergabung dengan Zuanan yang sedang menikmati sarapannya.
"Lain kali kalau memesan makanan untuk sarapan, cukup pesan roti dan kopi saja untukku"kata Arsen yang melihat di atas meja, terdapat dua gelas susu dan dua piring nasi goreng.
"Pagi itu kita harus makan nasi dan lebih bagus minum susu dari pada minum kopi" balas Ziana.
"Aku tidak biasa minum susu pake gelas" kata Arsen memegang segelas susu miliknya.
"Jadi kamu minum susu pake apa?"tanya Ziana polos.
"Dari kemasannya langsung" jawab Arsen. Ziana menoleh menatap Arsen aneh.
"Dasar Aneh!"dengus Ziana.
~_~
Selama dua hari Ziana dan Arsen hanya menikmati waktu mereka di dalam kamar. Mereka tidak pergi ke mana pun karena menurut mereka sekarang bukan lah moment yang tepat untuk pergi jalan - jalan.
Walaupun pada kenyataannya, Ziana sangat ingin pergi keluar untuk berkeliling tapi semua itu di pendamnya karena susana hatinya yang hancur karena hubungan dadakan itu.
"Kamu mau kemana?"tanya Ziana tanpa menoleh.
"Aku ada kerjaan, jangan menungguku" tanpa menunggu jawaba Ziana, arsen berlalu begitu saja keluar kamar Hotel.
"Dasar pria aneh" dengusnya.
"Kenapa aku terkesannya seperti wanita simpanan yang di kurung dalam sebuah kamar " gumam Ziana.
"Nasib - nasib..." lanjutnya.
Sementara Arsen pergi ke sebuah klub malam yang ada di kota itu. Tadi saat hendak tidur dia tiba - yiba dapat berita penting dari anak buahnya.
"Bagaimana?"tanya Arsen pada salah satu anak buahnya.
"Semuanya sudah siap, bos. Ayo!" Arsen mengikuti langkah kaki anak buahnya itu yang membawanya ke sebuah ruangan VIP.
Di dalam ruangan itu Arsen sedang melakukan negosiasi dengan seseorang. Urat - urat di keningnya terlihat bermunculan. Emosinya tiba - tiba membuncah saat seseorang yang ada di hadapannya itu memancing emosinya.
'BRAK!!!'
__ADS_1
"KALAU KAU TIDAK MAMPU, LEBIH BAIK MENJAUHLAH. DAN JANGAN PERNAH MENGAJUKAN BERGABUNG DENGANKU!"Arsen membalikkan meja kaca yang ada di hadapannya.
"Bram, urus semuanya!" Arsen pun melangkag pergi meninggalkan ruangan itu. Kalau di lebih lama lagi berada di dalam ruangan itu mungkin orang itu tidak akan bisa berjalan lagi di buatnya.
Bram menatap Orang itu tatkala tajam nya dengan tatapan mata milik Arsen.
"Buknkah sudah pernah aku peringatkan, jangan gegabah!"
~_~
Aesen melajukan mobilnya kembali ke hotek tempatnya menginap dengan seorang gadis yang sekarang sudah sah menjadi istrinya.
Arsen tidak langsung masuk kedalma kamarnya, dia pergi ke rooftop hotel lebih dulu untuk menenangkan dirinya terlebih dulu. Setelah memastikan emosinya sudah memabaik barulah Arsen masuk ke dalam kamar.
Dengan langkah pelan Arsen berjalan mendekati gadis yang sedang tertidur di sofa. Saat tiba di hadapan gadis tersebut, Arsen berjongkok dan menatap wajah damai itu.
"Kenapa kamu masih bisa setenang ini, padahal masa depanmu sedang di permainkan oleh seseorang"kata Arsen menatap wajah Ziana. Ia menyingkirkan anak rambut yang mengganggu kecantikan wajah itu.
Setelah puas menikmati keindahan wajah Ziana, Arsen pun memutuskan untuk memindahkan Ziana ke atas ranjang.
Arsen meletakkan tubuh Ziana dengan pelan, takut gadis itu akan terbangun. Arsen menyelimuti tubuh Ziana dengan selimut dan merapikan anka rambut yng menutupi wajahnya.
"Maaf, aku tidak bisa berbuat apa - apa untukmu"ucap Aesen pelan. Kemudian dia hendak beranjak pergi. Namun tangannya di tahan oleh Ziana. Dalam satu kali tarikan Arsen sudah jatuh terduduk di sebelah Ziana.
"Jangan pergi!"ngigau Ziana sambil memeluk erat lengan Arsen.
"Kuharap kau tidak akan terkejut besok, saat melihatku di sini" kata Arsen memaringkan tubuhnya di sebelah Ziana.
Ziana pun membenarkan posisinya dengan memeluk tubuh Arsen.
"Kalau seperti ini, aku tidak akan bisa tidur." gumam Arsen gusar.
Semalaman penuh arsen berusaha untuk memejamkan matanya, namun hasilnya tetap nihil. Bagaimana dia bisa tidur dengan keadaan seperti ini. Tubuh Ziana benar - benar menempel padanya.
Setelah dengan perjuangannnya, arsen pun berhasil tidur pada pukul 3 dini hari.
Seperti biasa pukul 5 pagi Ziana terbangun dari tidurnya, gadis itu mengernyitkan keningnya saat merasa ada sesuatu hal yang aneh.
Dengan pelan gadis itu meraba benda yang ada di dalam pelukanyan " kenapa gulingnya seperti berotot gini dan apa ini kok gerak" gumamnya. Karena penasaran akhirnya Ziana membuka matanya dan...
"ARGGGGHHHH!!"...
__ADS_1