
Ey... Apa kau tidak tau Sila. Semenjak menikah kakakmu ini tidak pernah meninggalkan rumah. Dia terlihat tidak bisa lepas dengan istrinya itu" ledek Oma tersenyum.
"Oma, ayolah. Jangan bikin Sila salh paham" kata Arsen.
"Cieeee kakak, ternyata kakak bucin juga ya"ledek Sila.
"tuhkan Oma Lihat."
"Apa kakak sudah mencintai kakak ipar?"tanya Sila, dan hal itu berhasil membuat Arsen bungkam.
"Kenapa kakak diam? Jangan bilang kalau kakak tidak tahu" kata Sila.
"Sila, kakak ke kamar dulu. Oma Ars ke kamar ya" pamit Arsen dan berlalu meninggalkan Oma dan Sila yang sedang menahan senyum melihatnya.
"Oma, apa mau bertaru denganku?"tanya Sila.
"Boleh,"
"Aku yakin kalau kakak sudah mulai mencintai kakak Zia" ata Sila yakin.
"Dan oma sudah sangat yakin kalau kakakmu itu sudah mencintai Zia pada saat hari pernikahan mereka "ucap Oma.
"Oma kalau seperti ini,apa yang kita pertaruhkan? Tapi nggak apa - apa, Sila akan anggap Oma yang kalah dan Oma harus traktir Sila beli Tas" kata Sila dengan semangat
"Taruhan macam apa ini Sila? kalah menang sudah di tentukan sebelum pertandingan" balas Oma.
"taruhan Oma dan cucunya" Sila pun tertawa sambil memeluk sang Oma. Oma Yun hanya tersenyum melihat tingkah cucunya itu.
~_~
Sesampainya di kamar, Arsen tidak melihat Ziana,dia mencari Ziana seluruh penjuru kamar. Saat berdiri di depan pintu kamar mandi, Arsen mendengar suara gemercik air.
Arsen pun memutuskan untuk menunggu Ziana di sofa. Sambil menunggu Arsen mengambil laptopnya dan mengerjakan pekerjaan yang tadi tidak sempat di selesaikannya di kantor.
Saat mendengar Ziana yang ingin pergi kesuatu tempat tadi, tiba - tiba Arsen jadi khawatir dan memutuskan untuk langsung pulang.
Sebenarnya Arsen seperti ini bukan karena dia bucin atau bersikap lebay pada gadis itu. Tapi sikap Arsen ini lebih ke rasa takut kehilang. Dia masih trauma dengan kata suatu tempat.
Dulu mendiang ibunya juga seperti Ziana, meminta izin pada ayahnya ingin pergi kesuatu tempat. Ayah Arsen memang buka tipe orang yang suka mengekang dan dia selalu mengizinkan Ibu Arsen pergi kemana pun. Dan hari itu, setelah satu jam memberi izin. Ayah Arsen mndapat telpon dari kepolisian yang mengatakan kalau mereka menemukan ibu Arsen meninggal di sebuah cafe.
Sejak saat itulah, Arsen menjadi overprotektif pada orang - orang yang di sayanginya. Menempatkan banyak pengawal dan selalu memantau.
Ceklek.
Arsen mwngalihkan pandangannya saat mendengar suara pintu terbuka. Ziana keluar dari kamar mandi dengan menggunakan handuk selutut dan handuk kecil di kepalanya.
__ADS_1
Sepertinya, gadis itu tidak menyadari keberadaan Arsen. Dengan santainya Ziana berjalan menuju kamar mandi. Arsen tersenyum saat melihat Ziana yang seperti sedang menyanyikan sebuah lagu, dan gadis itu juga terlihat sedikit menari.
"Cute" ucap Arsen pelan.
'DARUMDARIMDA gureumeul tago yeogijeogiro
DARUMDARIMDA urideurui geungjireul nopireo
DARUMDARIMDA tto dareun segye naagaja go
i Rhythme majchwo
Say Say Say Say... Nananaana...'
"Ih susah kali..." gerutu Ziana. Sepertinya gadis itu tidak terlalu hapal dengan lirik lagu yang sedang di nyanyikannya.
"Tapi bodoh amat lah, yang penting aku suka liriknya yang DARUMDARIMDA gureumeul tago yeogijeogiro
DARUMDARIMDA urideurui geungjireul nopireo
DARUMDARIMDA tto dareun segye naagaja go
i Rhythme majchwo~"
"Sejak kapan kamu berdiri di situ?"tanya Ziana yang langsung menutupi dadanya dengan tangan.
"Hmm... Kalau berdiri di sini sih baru, tapi kalau melihatmu menari dan bernyanyi mungkin sejak kau keluar dari kamar." ucap Arsen berjalan mendekat kearah Ziana.
"Ka-kamu mau apa?"tanya Ziana yang berjalan mundur.
"Aku ingin menari bersamamu" ucap Arsen tersenyum miring.
"Tidak - tidak, aku tidak mau. Pergi sana, aku mau berpakaian" Ziana mendorong tubuh Arsen.
"Biarkan aku membantumu berpakaian" ucap Arsen yabg terus menyudutkan Ziana.
Ziana sudah terpojokkan ke tembok, dia sudah tidak bisa bergerak kemana - mana lagi.
Ziana menatap Arsen dengan tatapan angkuh, tidak ada rasa takut sedikitpun dari mata gadis itu.
"Menarik..." ucap Arsen, memegang pipi Ziana dan menatap bibir pink gadis itu.
Ziana menyadari arah mata pria itu dan dengan spontan dia menutup bibirnya.
"Kenapa di tutup? Biarkan aku melihatnya"ucap Arsen, Ziana menggeleng keras.
__ADS_1
"Baiklah, karena aku sedang tidak berminat aku akan melepaskanmu kali ini. Tapi ingat kau tidak akan aku lepaskan "bisik Arsen tepat di telingan Ziana.
Arsen melepaskan Ziana kemudian berlalu pergi ke kamar mandi.
"Dasar gila!"ucap Ziana.
~_~
Malam ini Ziana akan melakukan misinya, dia sudah bertekat akan mencari bukti - bukti kejahatan Arsen. Dia sudah mengetahui kemungkinan letak bukti - bukti itu.
Saat memastikan Arsen yang sudah tertidur pulas, Ziana pun dengan perlahan turun dari atas tempat tidur.
Setelah Ziana keluar dari kamar, tanpa Ziana sadari kalau Arsen sedari tadi melihat gerak geriknya. Walau pun suasan kamar gelap gulita, Arsen masih bisa melihat dengan jelas kalau Ziana sudah mengambil kunci ruang kerjanya.
"Untuk apa dia ke ruang kerja?"ucapnya.
Sementara itu, Ziana dengan perlahan membuka pintu ruang kerja Arsen. Dengan menghandalkan senter ponselnya, Ziana mencari kontak lampu dan menyalakan lampu ruangan.
"Aku harus mendapatkan semuanya, aku akan menyelesaikan semua ini secepat mungkin" ucap Ziana.
Ziana membuka semua lemari dan memeriksa semua berkas dan laci.
"kenapa tidak ada?"Ziana menatap lemari dan meja kerja Arsen bergantian, dia sabgat yakin kalau pria itu menyimpan sesuatu di ruangan ini.
Tanpa sengaja Ziana pun melihat sebuah foto yang terselip di laci meja kerja.
"Foto apa ini?" Ziana mengambil foto itu dan mengamatinya.
"Dimana ini?"dengan cepat Ziana memfoto kertas foto itu.
"Aku akan mencari tahu besok." Ziana kembali mematikan lampu ruangan dan keluar dari ruangan itu. Dengan mengendap - edap Ziana berjalan kembali ke kamarnya.
Setibanya di kamar di melihat Arsen yang masih dalam keadaan tertidur.
"Untung dia masih tidur" gumamnya. Meletakkan kunci ruang kerja Arsen kembali pada tempatnya dan Ziana pun kembali berbaring di sebelah Arsen.
Ziana menghadap kearah Araen dan mengamati wajah pria itu.
"Kamu terlihat sangat polos jika sedang tertidur. Dan sampai sekarang aku belum mengerti kenapa kamu bisa berbuat kejam." ucap Ziana pelan.
"Entah kenapa, sekarang aku berharap kalau apa yang sedang ku cari ini tidaklah benar. Aku tidak yakin kalau kamu bisa berbuat jahat."
"Maaf, aku melakukan ini semua demi kebaikan mu juga dan demi kebaikan orang banyak" lanjutnya.
Berdasarkan informasi yang di dengarbya dari Ardi, Arsen telah melakukan hal yang sangat kejam pada orang - orang yang tidak bersalah.
__ADS_1