ARSEN The Good Husband

ARSEN The Good Husband
Bab 40


__ADS_3

"Aku--"


Arsen mengernyitkan dahinya, ia mengira Ziana tidak mau melakukannya sehingga ia mengurungkan niatnya.


"Pergilah!" Seru arsen. Ia menjauh dari tubuh Ziana dan hendak memakai kembali baju yang sempat ia lepas tadi.


"Ars, tunggu!" Diana menggelayuti tangan arsen, namun arsen menepisnya.


" Keluarlah dari kamar ini dan pergilah tidur di kamar yang lain!"bentak Arsen.


" Kenapa kamu marah sampai seperti ini, Ars? Aku bukannya belum siap, tapi aku hanya malu saja" ujar Ziana. Iya tidak gentar dan mengalah terus menggelayuti tangan arsen namun arsen hanya diam akan perasaan yang masih kesal dengan penolakan Ziana barusan.


"Ars, ayo bicaralah. Ayo kita lakukan, tolong jangan marah..."


"Ars, tolong jangan marah" dengus Ziana. Ia menatap sendu kedua mata Arsen. Hingga membuat Arsen tidak tega melihatnya.


" aku sudah kehilangan selera kita lakukan lain kali saja, minggir aku ingin istirahat!" Arsen merebahkan tubuhnya dan membelakangi Ziana.


"Ars..." Ziana memanggil arsen. Arsen sama sekali tidak menghiraukannya dan mencoba memejamkan kedua matanya. Entah kenapa Ziana begitu sedih saat melihat Arsen yang begitu marah dengannya.


"Ars, kumohon jangan marah." Ziana memeluk Arsen dari belakang.


Alasan membuka kedua matanya dan memperhatikan tangan Ziana yang sedang melingkar di dadanya. Ia juga merasakan ada sesuatu yang basah di bahu kekar itu. Arsen melepaskan tangan Diana dan menghadap ke arahnya.

__ADS_1


"Kenapa kamu menangis? Begitu saja udah nangis."ucap Arsen mengusap air mata Ziana.


" Tolong jangan marah, ayo kita lakukan! Ini pertama kalinya bagiku. Aku hanya malu saja jadi , tolong percayalah." Ziana menangis terisak dan mengusap kedua sudut matanya yang basah. Berharap suaminya tersebut percaya, arsen hanya terdiam dan menatap Ziana.


"Ars, ayo bicaralah!"


"Tidak, aku tidak marah, sudah diamlah!"seru Arsen.


"kamu sudah tidak marah?"tanya Ziana.


"Tidak, aku tidak marah, sudah diamlah!"seru Arsen


"kamau sudah tidak marah agi kan?"tanya Ziana lagi.


"Kenapa masih diam saja? Ayo!"perintah Arsen.Ziana pun mendekatkan bibirnya hendak menvium Arsen. Namun, Arsen malah menahan tawanya hingga membuat Ziana kesal.


"Kenapa kmau malah tertawa? Apa ada yang lucu? Aku tidak mau menciummu!"ucap Ziana kesal.


"Ya sudah kalau kau tidak mau menciumku, biar aku saja yang menciummu."Arsen kembali mencium dan ******* bibir Ziana. Ziana menggerutu kesal , namun Arsen tidak menghiraukannya. Arsen, menarik gaun Ziana yang masih membaluti tubuh Ziana. Ia juga membuka semua pakaiannya, hingga kini mereka berdu tak memakai sehelai benang sama sekali di tubuhnya. Ziana berkali - kali menutupi tibuhnya karena malu. Namun, Arsen menyingkirkan tangannya dan kini mulai menindih tubuh Ziana.


"Hmm... Ars, sakit!" desis Ziana.


"tahanlah sebentar!" Arsen pun kembali mencium Ziana, untuk mengurangi rasa sakit itu.

__ADS_1


"Argh..." Arsen tiba - tiba.menjerit kesakitan.


"Aku yang kesakitan. Kenapa malah kau yang berteriak?"tanya Ziana.


"Kenapa kau menggigit bibirku?"tanya Arseb seray memegangi bibirnya yabg baru saja di gigit oleh istrinya tersebut.


"Sakit!" ucap Ziana dengan begitu memelas.


"Aku tau. Makanya diamlah!"seru Arsen. Bahkan ia melihat darah yang baru saja keluar dari bibirnya.


"Tau apa? Memangnya kau pernah merasakan jadi wanita?"tanya Ziana.


"Kamu ini banyak bicara! Diamlah sebentar!"Arsen mulai melanjutkan kembali niatnya.


Tubuh Ziana terhentak dengan kasar ia memejamkan kedua matanya saat merasakan Suaminya itu semakin menyakiti dirinyadi bawah sana .


"Ars..." Ziana mencengkram dan mencakar habis dada arsen dengan kukunya hingga membuat bekas merah di sana.


" kenapa kamu malah mencakarku dengan kukumu ? Kenapa tidak sekalian kamu menggunakan pisau saja ?" Arsen mendesis Karena rasa perih bekas goresan kuku Ziana di tubuhnya.


"Maaf tapi ini benar - benar sangat sakit." ujar ziana dengan terkekeh.


"Aku tahu, dan maafkan aku."

__ADS_1


"Tapi tenanglah, nanti tidak akan sakit lag" lanjut Arsen.


__ADS_2