
Karena Ziana yang belum selesai mempersiapkan barang - barang yang akan di bawanya berlibur. Jadi, dengan terpaksa Arsen pun mengundur keberangkatan mereka menjadi ke esokan harinya dan itu pun Ziana masih minta kelonggaran waktu hingga sore hari.
~_~
Keesokan sorenya, Arsen dan Ziana bersiap - siap untuk pergi melakukan rencana bulan madu di villa milik Arsen yabg terletak di dekat pegunungan. Seharusnya, mereka berangkat pagi tapi karena Ziana yang kekeh minta Sore, makanya Arsen mengulur keberangkatannya menjafi sore hari. Wajah Ziana sore itu benar - benar tampak tak bersemangat sedikitpun.
"Kita perginta berapa hari?" tanya Ziana seraya berdiri di depan arsen yang sedang duduk dan mengikat tali sepatunya.
"Cuma tiga hari" jawab Arsen sambil merapikan ikatan tali sepatunya.
"kenapa lama sekali? Apa tidak bisa dua atau sehari saja?"kata Ziana.
"Kenapa memangnya?"tanya Arsen.
"Jangan bilang kamu mau bilang kalau kamu khawatir meninggalkan Oma sendiri di rumah" tebak Arsen.
"Tidak.." elak Ziana.
"Tc... Sudah, ayo kita pamitan sama oma dan yang lainnya" ajak Ziana.
Mereka berdua berpamitan kepada Oma , Sila dan Tasya. Ziana juga tidak lupa menitipkan Oma pada Ida, pelayan kepercayaannya dan juga semua orang.
Setelah itu, mereka berdua berangkat dan melakukan perjalanan ke Villa menggunakan mobil. Perjalanan itu membutuhkan waktu sekita empat sampai lima jam lamanya. Ziana berkali - kali menguap dan melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
Jalanan yang penuh dengan tanjakan yang bergejolak yang tidak rata itu, membuat duduk Ziana semakin tidak nyaman.
"Apa masih jauh?"tanya Ziana.
"Tidak, sebentar lagi juga sampai" jawab Arsen yang masih fokus dengan jalanan yang ada di depannya.
Satu jam kemudian...
"Apa masih lama?"Ziana bertanya kembali sembari menguap hingga membuat matanya berair.
__ADS_1
"Sebentar lagi." jawaban yang sama di dengar oleh Ziana hingga membuat dirinya kesal.
"Lama sekali, aku sudah sangat bosan dan lihat lah ini juga sudah hampir malam" ucap Ziana. Namun, Arsen hanya diam saja tak menghiraukan celotehan istrinya tersebut.
"Ars, kmau benaran tau pa nggak sih jalan ke Vilanya? Kamu bilang nya sebentar lagi, sebenatar lagi tapi nggak juga sampai - sampai, dan lihat hari sudah hampir malam"ucap Ziana kembali sambil mengerucutkan bibirnya.
"Kamu bisa diam nggak sih! Diam dan tunggu sebentar lagi! Kalau kau masih saja bicara aku tidak akan segan - segan untuk menurunkanmu di sini!"ancam arsen.
"Menurunkan aku? Turunkan saka kalau kamu berani!" saut Ziana dengan begitu menantang.Arsen seketika menginjakkan rem mobilnya hingga membuat Ziana terkejut.
"Ars, kenapa berhenti?"tabya Zuana dengan panik. Aesen hanya diam dan turun dari mobilnya, kini ia pun muai membuka pintu mobil Ziana.
"Ars, kamu mau apa?"tanya Ziana.
"Apa lagi, aku mau menurunkanmu disini. Kau kira aku tidak berani! Ayo cepat turun!" Arsen mencoba menarik tangan ziana, dan menyuruhnya keluar dari mobil.
"Tidak, aku tidak mau. Tadi itu aku hnaya becanda" ucap Zianq. Ia membulatkan kedua matanya dengan begitu takut, bahkan ia sendiri tidak menyangka bahwa suamunya benar - benar akan menurunkannya di jalanan yang di tumbuhi oleh pohon rindang dan lebt. Hingga jalanan itu terlihat sangat gelap dan menakutkan bagi siapa saja yang melintasinya. Terlebih lagi, langit kala itu sudah mulai gelap.
"Apanya yang bercanda? Aku tidak suka bercanda, jadi ayo cepat turun!"seru Arsen. Ia menarik tangan Ziana.
"Lepaskan aku, ayo cepat keluar dari mobilku!" perintah Arsen.
"Tidak mau, Ars aku tadi hbaya becanda, tolong maafkan aku. Aku sangat takut, tolong jangan turunkan aku di sini" Ziana semakin mengeratlan pelukannya di perut suaminya tersebut. Arsen hanya bisa terkekeh dengan usil melihat istrinya yang begitu ke takutan.
"Lepaskan!"Arsen mencoba menjauhkan tubuhnya dari Ziana.
"Tidak mau, nanti kamu manurunkanku!"Ziana semakin megeratkan pelukannya.
"kalau kau tidak mau melepaskanku, maka aku benar - benar akan menurunkanmu di sini" Ziana pun seketika melepaskan pelukannya.
"Jangan turunkan aku... Aku benar - benar hanya becanda tadi.." ucap Ziana memelaskan wajahnya. Melihat itu membuat Aesen dengan terpaksa harus menahan tawanya, dia tidak ingin menjatuhkan imagenya di depan Ziana.
Arsen mengangkat wajah Ziana dan emndekatkan wajahnya
__ADS_1
"Sekali lagi kau banyak bicara, maka aku tidak akan segan - segan untuk melemparkan tubuhmu ke dalam hutan ini, biar tubuhmu habis di cabik - cabik dan di makan binatang buas!"seru arsen, sengaja ingin menakut - nakuti Ziana.
"Tidak mau!" Ziana pun memejamkan matanya dan bergidik ngeri saat membayangkan apa yang baru saja di ucapkan Arsen
"Aku tidak akan banyak bicara lagi, dan aku akan diam" ucap Ziana dan langsung membungkam mukutnya rapat - rapat dengan tangannya.
Melihat hal itu Arsen pun kembali menutup pinyu mobil dengan menahan tawanya saat melihat raut wajah istrinya tadi. Ia kembali ke dalam mobil dan melajukan kembali mobilnya itu.
Ziana pun sedari tadi membungkam mulutnya rapat - raoay karen aia takut, bicara yang tidak - tidak . Sesekali Aesen melirik ke arah ziana yang tampak konyol di matanya.
"Dasar gadis bodoh." Arsen menarik salah satu sudut bibirnya ke atas .
Tak lama kemudian, mobil arsen berhenti di sebuah Villa dengan desain bangunan kuno. Diana membuka kaca jendela mobil itu, kedua matanya menyapu ke seluruh area bangunan villa itu.
" apa kita sudah sampai? Apa benar ini Vilanya?"tanya Ziana.
"Iya, ayo cepat turun!" Arsen terlebih dulu turun kemudian diikuti oleh Ziana . Lalu seorang laki-laki dan perempuan paruh baya yang tidak lain adalah penjaga Villa itu menghampiri mereka berdua.
" Selamat malam Tuan dan Nona" penjaga Villa itu menyapa hangat kedatangan arsen dan juga Ziana.
" Iya Selamat malam juga paman dan bibi" siapa zaena balik dengan melebarkan senyumnya.
" Silakan masuk tuan, nona . Kami sudah mempersiapkan makan malam dan juga tempat untuk beristirahat" ujar penjaga Villa itu.
"Terima kasih, bi. Permisi" Arsen menarik tangan Ziana dan mengajaknya masuk ke dalam Villa. Arsen dan Ziana menaiki anak tangga menujunke kamar yang telah di siapkan oleh penjaga Vulla itu. Dan saat kamar terbuka, banyak sekali kelopak bunga mawar yang bertaburan disana. Bahkan aroma bau bunga mawar itu begitu semerbak dan manari - nari di indra penciuman mereka berdua. Ziana menghirup dalam - dalam aromah itu, karena dia memang sangat menyukai aroma mawar mereka, lalu ia pun tersenyum di buatnya.
"aku suka sekali" Ziana dengan begitu girangnya masuk ke dalam sana . ia mendekati jendela dan sedikit membuka pintu jendela itu hingga udara malam masuk ke dalam kamar mereka .
Ziana menghirup dalam-dalam udara itu bahkan bau tumbuhan dan tanah basah tercium begitu pekat di Indra penciumannya. Arisan pun berjalan mendekati Ziana dan berdiri di sampingnya.
"Apa kau menyukainya?"tanya Arsen.
"Iya, memang aku sangat menyukainya, ini sangat indah."jawab Arsen semabari memperhatikan Ziana yang tak hentinya menghirup udara yang masuk dari luar jendela itu. Tiba - tiba ia tersenyum saat melihat istrinya tersebut. Seakan akmda kepuasan sendiri di kedua matanya.
__ADS_1
"Kalau oemandangannya seperti ini, aku pasti akan sangat betah Ars." ucap Ziana. Ziana menoleh dan melebarkan senyumnya ke arah Arsen.
"Hmm... Ayo kita makan" aja Arsen. Ziana mengiyakannya. Mereka berdua keluar dari kamar dan menuju ke dapur untuk makan malam bersama. Ziana dengan lahapnya menyantap makanan yang sudah di siapkan oleh oenjaga Vila itu.