
Ke esokan paginya, dokter masuk keruang Ziana untuk melakukan memeriksa keadaan Ziana.
"Bisa kamu keluar dulu?!"Dokter menatap Arsen yang hanya diam di tempatnya.
"Lakukan saja pekerjaan kalian, jangan hirau kan aku"kata Arsen dengan ekspresi datarnya.
"Tc, mana bisa seperti itu. Keluarlah! Nanti kau juga di perbolehkan masuk lagi. Kami butuh ruang untuk melakukan pemerjaan ini" kata Dokter.
"Dokter macam apa kalian ini, masa hanya karena aku ada disini kaullian tidak bisa fokus" desis Arsen, akhirnya dia pun menyerah dan pergi keluar.
Arsen memilih untuk tetap berdiri di depan pintu, dia ingin melihat melalui kaca jendela namun, Aries yang melihatnya pun langsung menutup kain pintu ruangan itu denga tidak memikirkan perasaan Arsen yang srsang galau.
"Dasar dokter gadungan" desisnya.
Bram yang baru datang pun menatap aneh kearah bosnya yang berdiri di depan pintu.
"Maaf tuan, sedang apa anda disini?"tanya Bram.
"Aa kau tidak lihat aku sedang berdiri"
"Bukan.. Ah... Maksudku, kenapa tuan di luar kenapa tidak di dalam saja bersama nona?" Bram memperjelas pertanyaannya.
"Zia lagi di periksa... Dari mana kamu?"tanya Arsen pada Bram yang terlihat sedikit fress.
"Tadi aku habis mandi di toilet rumah sakit dan aku juga udah belikan sarapan untuk anda." jelas Bram.
"Kau saja yang makan, aku tidak lapar" Arsen berjalan menuju ke kursi yang tidak jauh dari mereka.
"Tapi tuan, anda belum makan dari semalam"kata Bram mengikuti Arsen.
"Apa telingamu tidak berfungsi?... O iya, apa kau sudah mendapatkan info mengenai Martin?"tanya Arsen.
"Maaf tuan, kami belum menemukan info apa pun. Tapi kami gelagat aneh dari pegawai toko bunganya nona Ziana"jelas Bram.
"Aneh gimana?"tanya Arsen mengerutkan keningnya, ia menatap Bram dengan tatapan serius.
"Pegawai toko bungan nona yang pria itu tiba c yiba menghilang pada 2 hari nona menghilang dan keesokan harinya di kembali terlihat dengan luka memar di wajah dan kakinya yang sedikit pincang. Dan awalnya kami mengira hal itu hanyalah kebetulan dan..." Bram menjedah ucapanya.
"Dan apa? Kenapa kau suka sekali menjedah ucapan mu huh!" dengus Arsen kesal.
"Dan saat kami menggeledahnya, kami menemukan sebuah pistol dan kartu ID."lanjut Bram.
"Lalu sekarang di mana dia?"tanya Arsen.
__ADS_1
"Kami d
Sudah mengurungnya di ruang introgasi"
"Bagus, dan pastikan dia mengaku siapa bos nya!" peritah Arsen.
"Baik tuan"
"Bekerjalah lebih cepat sedikit, dan kalian berhati - hatilah karena aku merasa mereka sedang mengincar sesuatu dari kita" tegas Arsen berdiri dan berjalan mendekati pintu.
"Kenapa dia lama sekali memeriksanya? Apa dokter gadungan itu mebgambil kesempatan dulu dengan tubuh istriku?"gumam Arsen pelan, namun masih bisa di dengar oleh Bram.
"O iya tuan, apa saya boleh membawa nyonya kesini?"tanya Bram yang baru ingat dengan permintaan Sila.
"Oma? O iya bagaimana keadaan Oma? Kenapa aku bisa sampai lupa." tanya Arsen.
"Semalam nyonya kembali kambuh karena dia terlalu mengkhawatirkan nona dan tuan" jawab bram.
"Bagus pantau terus dan jangan bikin oma khawatir karena itu sangan tidak baik untuk ke sehatannya.
"Iya tuan. Tapi dari semalam nyonya merengek minta fi antar ke sini, apa boleh?"tanya Bram. Arsen terdiam dia seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Baiklah, tapi kau sendiri yang akan menjemputnya!" seru Arsen.
~_~
"Oma, ayo ceapt bersiaplah, sebentar lagi kak Bram datang menjemput kita" kata Sila pada Oma yangs edang duduk termenung di gazebo taman belakang
"Benarkah itu? Baiklah kalau begitu ayo bantu dorong Oma ke kamar. Oma sangat lemes menggerakan kursi roda ini"kata Oma Yun.
"Oma kan tinggal mencet tombolnya,"kata Sila menggelengkan kepala.
"Sudahlah, ceaot aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengan cucy dan cucu mantuku" kata Oma semangat.
Dengan perlahan Sila membantu Oam untuk pi dah ke kursi roda dan membaeanya ke kamar.
"Sila bantu Oma berpakaian!" kata Oma.
"Tunggu ya, Sila ambi baju dan tisu basa nya dulu"
Oma pun mengangguk dan dia hanya melihat Sila melakukan semuanya hingga selesai.
"Sudah, ayo oma tunggulah di ruang keluarga, Sila mau tukar baju dan pake lipstik sikit" kata Sila.
__ADS_1
"Iya" O lma pu. Mulai keluar dari kamarnya dan di ikuti oleh Sila.
Tak berapa lama Bram pun datang, di sudah melihat oma yang sedang duduk di ruang keluarga.
"Assalamualaikum nyonya" sapa Bram mencium tangan Oma Yun.
"Waalaikum salam, kamu sudah datang kalau begitu ayo kita pergi"kat Oma yun semangat.
"Apa Sila tidak jadi ikut?"tanya Bram yang tidak menemukan keberadan Sila.
"Dia lagi ganti baju, dan kau tahu sendirikan kalau dia itu sangat lama dandanny" dengus oma kesal.
"Oma tidak baik loh menceritakan orang lain di belakanhnya"sahut Sila dari pintu lift dan berjalan kearah oma dan Bram berdiri.
"Kan cucu sendiri jadi tak apalah" kata oma tersenyum. Sila senang karena oma sudah mulai tersenyum.
"Sudah siapa? Apa kita bisa berangkat?"tanya Bram menengahi nenek dan cucu itu kalau di biarkan mereka berdua bisa tidak pergi - pergi dan percuma saja Bram jauh - jauh kesini kalau hanya untuk melihat perdebatan mereka.
~_~
Sepanjang jalan, Sila selalu saja mengoceh, hingga Bram pun jadi kewalahan meladeninya. Oma Yun juga tidak berhenti menanyakan ini dan itu mengenai penculikan yang di alami Ziana kemaren.
BRUGH~
"Eh apaan tu kak?"tanya Sila kaget saat tiba - tiba ada sebuah mobil yang menubruk mobil mereka.
Bram melihat ke belakang dari kaca spion. " ****!"
"Hmm.. Oma, Sila... Tolong pake sabuk pengamannya, kita sedang di ajak main balapan sama yang di belakang" kata Bram, yang sengaja menggunakan kata gurauan agar Oma dan Sila tidak ketakutan.
"Kamu ada - ada aja, Bram yang benar aja" kata Oma.
"Maaf nyonya, tapi ini darurat. Saya minta maaf kalau harus sedikit ugal - ugalan bawa mobilnya" kata Bram. Sila yang mengerti pun langsung mengcoba memberi pengertian pada Oma.
Bram melihat ke belakang, dan dia tamba kaget saat melihat saah seorang dari mobil di belakangnya mengelarkan pistol.
"****, sial...." Bram menambah kecepatan mobilnya.
DORRR~
BRAGHHH~
"ARGGGGHHH~"
__ADS_1