
"Bagaimana keadaannya?"tanya Arsen pada dokter, saat dokter baru membuka pintu.
"Dia sudah berhasil melewati masa kritisnya, dan kita hanya perlu menunggu dia untuk sadar" jelas dokter.
"Apa kau saja tidak bisa membuatnya sadar? Pakailah obat - obatan yang kau punya!" seru Arsen.
"Apa kau sudah gila? Aku ini dokter bukan dukun yang bisa seenaknya memberi - berikan obat." dengus dokter.
"Dasar payah, pergilah aku ingin melihatnya!" Arsen mendorong Bahu Aries.
"Dasar teman kurang asem! Kenapa juga dia harus jadi pasien gue!"gumam Aries berlalu pergi . Arsen pun masuk ke dalam ruang Ziana.
Sampai di dalam kamar, arsen tudak mendapati siapa pun." Tc kemana dia?" Arsen langsung mengehar Aries.
"Eh tunggu!" Arsen menghadang aries.
"Apa lagi?"tanya Aries malas.
"Istri gue di mana? Kenapa dia nggak ada di dalam ruang icu?"tanya Arsen.
"Yang bilang dia di masih di sana siapa? Makannya kamu dengerin dulu kalau orang lagi bicara" kata Aries
"Brengsek, lalu di mana dia?"tanya Arsen kesal.
"Carilah sendiri aku malas dengan mu" Aries hendak melangkah pergi.
"cepat katakan atau kau akan menyesal nantinya?!"ancam Arsen.
"Nggak seru, kenapa kamu suka sekali mengancam orang?"
"Aries!" Panggil Arsen
"Baik - baiklah, dia sudah di pindahkan ke ruangan rawat inap... Sus, tolong antarkan dia!" kata Aries akhirnya.
Arsen tersenyum puas, " thank you!" Arsen pun berlalu pergi mengikuti langkah suster yang ada di depannya
"Dia tidak pernah berubah sama sekali" desis Aries merapaikan letak jas putihnya.
"Ini tuan ruangannya." Kata suster itu pada Arsen, tanpa menjawab Arsen pun masuk kedalam.
Arsen tersenyum pias saat melihat seorang gadis yang sedang terbaring di atas tempat tidur.
"Tidur saja kamu sudah membuatku pusing, "kata Arsen berjalan mendekati ranjang tidur Ziana.
"Hei putri tidur. Apa kau tidak lelah dari kemarin tidur terus!!" kat Arsen duduk di samping gadis itu.
Drrrttt.....
Drrrrttt...
Arsen mengambil ponselnya yang bergetar di dapam saku celananya.
"Bram?... Apa dia sudah sampai?" Arsen pun menerima panggilan itu.
"Hallo, Ada apa? Ruangannya sudah pindah ke ruangan 102" kata Arsen.
__ADS_1
'HAHAHA... Kenapa kau terburu - buru seperti itu Arsen Marvino santai.... Santai aku pasti akan menemui istrimu.' kata seseorang.
"Brengsek!!! Beraninya kau, di mana Bram?"tanya Arsen geram.
'Ayo lah, kau ini bagaimana? Biarkan aku menyapamu dulu, bukan kah kita sudah lama tidak mengobrol'kata orang itu.
"Aku tidak ingin bermain sekarang. Apa mau mu?"tanya Arsen berjalan menjauh dari Ziana dan berdiri tepat di depan jendela kamar rawat Ziana.
'Kau tahu mau ku ars, ayolah...'
"Jangan becanda, sampai kapan pin aku tidak akan pernah memberikan apa yang kau mau." kata Arsen dengan nada dingin.
'Baiklah jika itu mau mu'
Filp...
Orang itu mematikan sambungannya, Arsen mencengkram ponselnya kuat.
Ting~
Sebuah pesan masuk kedalam ponsel Arsen, dengan cepat Arsen membuka pesan itu. Dan betapa kagetnya dia saat melihat isi pesan itu.
"Brengsek! Bagaimana bisa Oma dan Sila bisa ada di tangannya!.." geram Arsen.
"Inilah yang aku takuti.." desis Arsen.
"Air... Air" Arsen mendongak saat mendengar suara itu. Dengan gerakan cepat Arse berlari kearah Ziana.
"kau sudah sadar?... Syukurlah" ucap arsen mencium kening Ziana.
"Air... Air..." ucap Ziana lagi.
Arsen meletakkan kembali gelas itu ke atas nakas. " Apa yang kau rasakan? Apa ada yang sakit?"tanya Arsen.
Ziana menatap Arsen dengan tatapan khawatir. " apa kau baik - baik saja?"tanya Ziana pada Arsen.
"Kenapa kau malah balik bertanya? Yang terluka itu kau bukan aku" kata Arsen.
"Aku sedikit merasa sakit di sini dan di sini" kata Ziana memegang kepala dan dadanya.
"Tunggulah, sebentar lagi dokter akan datang memeriksa mu"kata Arsend an tak lama kemudian Ariea dan dua orang suster pun masuk ke dalam ruangan itu.
"bisakah kau keluar sebentar!"kata Aries.
"Tidak, aku akan melihat dari sofa saja" kata Arsen berjalan ke arah sofa.
"Dasar keras kepala" Aries hanya bisa menggeleng melihat sahabatnya yang sedang menatapnya dari ke jauhan.
~_~
"Brengsek, lepaskan kami!!"teriak Bram yang terus mencoba meronta.
Bram menoleh melihat keadaan Oma Yun dan juga Sila.
"Nona Sila... Sila.." panggil Bram, Sila pun menoleh kearah Bram.
__ADS_1
"tolong lakukanlah sesuatu kak, aku sangat takut dan aku khawatir dengan kondisi Oma" kata Sila dengan nada takut.
"tenanglah, kau harus tenang dan tolong kamu yakinkan Oma kalau semuanya akan baik - baik saja" kata Bram. Sila pun mengangguk paham, Sila yakin kalau Bram pasti akan berhasil menyelamatkan nyawanya dan juga Oma.
"Kak Ars, datang dan selamatkan lah kami" gumam Sila pelan.
FLASHBACK ON.
Brakkk... Brakkk...
Mobil yang di belakangnya pun terus saja menabrak mobil mereka. Bram sudah melakukan penyerangan balik. Namun sialnya orang itu malah menembak ban mobilnya hingga ban itu meletus.
"Argghhh... Kakak ada apa ini?"tanya Sila yang mulai panik.
"Sila, apa kau yakin dengan ku?"tanya Bran dan Sila pun mengangguk.
"Ok, dengar. Saat mobil ini berhenti kau harus cepat keluar dari mobil dan membawa Oma keluar dan lari lah sekencang mungkin."kata Bram dan Sila pun mengangguk.
"Maaf nyonya, sebenarnya aku tidak tega melakukan ini tapi aku mohon lakukan lah." kata Bram
Karena mobilnya yang sudah tidak bisa di kendalikan lagi, Bram pun dengan terpaksa harus mengerem dan menghentikan mobil itu.
"Sekarang Sila!" teriak Bram, dengan cepat Sila meletakkan Oma di punggungnya. Mereka pun mulai berlari. Bram merasa lasihan saat melihat Sila yang terlihat sangat kesulitan menggendong oma.
"Sila, ayo pindahkan Oma kepada ku." Kata Bram berhenti di depan Sila.
Dengan gerakan cepat Sila pun memindahkan oma ke punggung Bram.
"Maafkan aku.. Aku hanya mejadi beban kalian" Oma pun mulai menangis.
"Bukan sekarang Oma, sekarang kita harus memikirkan cara agar selamat, oke." kata Sila
"Nyonya jangan nangis ya ,dan maaf kalau nantinya aku membuat nyonya terluka" Kata Bram. Oma yun hanya bisa menggeleng sambil menahan Air matanya.
DORRR~
"Jangan takut Oke, kita harus cepat mereka sudah mendekat" kata Bram saat mendengar suara tembakan.
"Fokuslah ke jalan yang ada di depanmu Sila jangan menoleh kebelakang!" kata Bram saat melihat Sila yang suka menoleh ke belakang.
DORRR~
AHRRGG~
Teriak Sila yang jatuh tersungkur. " Sila!" panggil Bram menghentikan larinya.
"Pergilah kak, aku akan menyusul nanti" kata Sila yang berusaha berdiri namun kakinya sangat sakit untuk di gerakkan.
"Kak kakiku sakit!..." kata Sila meneteskan air mata.
"Ayo aku bantu.." Bram berjalan kebelakang dan membantu Sila berdiri.
"Tidak kak, tidak! Pergilah dan selamatkan Oma" kata Sila.
"Kau bicara apa Sila, kami tidak akan meninggalkanmu sendiri"kata Oma.
__ADS_1
Bram membantu Sila berdiri dan sial nya para penjahat itu sudah datang dan mengepung mereka.
"****!"