
3 bulan kemudian.
"Ars, bangunlah! Nanti kamu terlambat ke kantornya." Ziana menggoyang - goyangkan lengan sang suami, nmaun dari tadi tidak ada pergerakan sedikit pun dari pria itu.
"Ars... Ok, terserah kamu mau bangun atau nggak, " Ziana yang sudah mulai jengah pun berniat hendak pergi meninggalkan sang suami yang masih memejamkan matanya.
"Mau kemana?"Arsen Menahan tangannya. Ziana menoleh.
"Kamu sudah bangun? Pantesan nggak bangun - bangun... "dengus Ziana.
"Mau kemana?"tanya Arsen lagi.
"Argh.." dengan satu kali tarikan , Ziana sudah jatuh dalam pelukannya.
"Lepas, aku mau bantu bi Ida nyiapi sarapan" kata Ziana.
"Biarkan saja, itu bukan tugas kamu. Lakukan saja yang tugas kamu" kata Arsen, dengan mata yang masih tertutup.
"Makanya aku bantu dia, karna itu adalah tugas aku, minggir!" Ziana memutar badannya, hingga kini ia menghadap Arsen.
"Aku sudah membayar mereka untuk melakukan itu semua"
"Terus aku harus ngapain? Nggak mungkin aku hanya duduk saja, nggak enak ah kalau nggak ngapa - ngapain" kata Ziana pada Arsen.
Arsen tersenyum, ia mengansur kepalanya ke dalam ceruk leher Ziana, dihirupnya aromah khas yang sudah candu baginya kemudian di ciumnya.
"Tugas kamu hanya memperhatikan aku" ucapnya.
Ziana tersenyum. " Ars, hentikan! Geli Ars."
~_~
Semua anggota keluarga sudah duduk di meja makan, kini tinggal Ziana dan arsen saja yang belum.
"Kemana kakak kalian?"tanya oma yang tidak melihat keberadaan Ziana dan Arsen.
"Oma seperti tidak tau kakak saja, dia itu terlalu manja sama kakak ipar" seru Tasya.
"Kakak iri ya, yaudah nikah sana biar bisa manja - manja" sambung Sila menahan tawa.
"Apaan si Sil, ogah banget. Nikah cuma bikin ribet" ujar Tasya sambil memakan sarapannya.
"Siapa bilang, nikah itu seru tau, ya kan sayang" saut Arsen yang baru turun dari tangga dan berjalan mendekati meja makan.
"Kakak iya enak, tapi kak Zia yang hmm...." Ziana dengan cepat membungkam mulut Tasya dan membesarkan matanya.
"Maksudnya... Sayang, mulut tasya kok di tutup gitu? Apa kalian membicarakan kakak di belakang?" tanya Arsen yang menyipitkan matanya.
"Oma, Sila mau ke kamar dulu ya mau siap - sia" pamit Sila tiba - tiba dan berlalu pergi begitu saja.
Tasya dan Ziana menatap kepergian Sila dengan tatapan yang sangat sulit di artikan.
"Hmm... Sya juga oma, Sya ada kelas pagi" dengan buru - buru tasya pun menyusul Sila. Kini tinggalah Ziana yang tertunduk, tidak sanggup menatap Arsen.
"Aku..."
__ADS_1
"Apa? Kamu juga mau kabur?"potong Arsen.
"Ti-tidak, aku mau makan" Ziana menarik kursi di sebelah oma, mengambil makanan untuk Arsen dan untuk dirinya. Arsen menatapnya dengan tatapan penuh selidik.
"Zia?..."
"Ayo sarapan, nanti kamu telat ke kantor" seru Ziana.
"Awas kau kalau ketahuan macam - macam!"ancam Arsen.
Ziana pun hanya bisa diam, dan memulai menyuap makanannya.
"Kamu kenapa Zia?"tanya Oma saat melihat gelagat aneh dari Ziana.
"Tidak tahu oma, Zia tiba - tiba mual dan kepala Zia juga pusing" ucap Ziana, yang seperti menahan sesuatu.
"Uuuwhm...."Zia berlari ke dapur sambil membekap mulutnya.
"Zia..." Arsen langsung mengejar Ziana. Ziana masuk kedalam Kamar mandi yang ada di dapur.
Ia memuntahkan semua isi perutnya. " kamu kenapa?"tanya Arsen yang berdiri di belakang Ziana.
"Aku nggak tahu, tapi... Uumm."Ziana kembali memuntahkan isi perutnya.
~_~
"Sayang...."Arsen langsung memeluk Ziana. Ziana yang baru siuman pun hanya bisa diam.
"Selamat ya..." ucap Arsen mengecup kening Ziana.
"Kita akan menjadi orang tua" seru Arsen.
"A-apa, orang tua? Kamu kalau ngomong yang jelas dong"ziana yang masih belum paham.
"Tc, semoga anakku kelak tidak menurunkan kebodohanmu" ucap Arsen.
"Ihh... Kamu kok ngomong gitu sih..." dengus Ziana kesal.
"Ya mau gimana lagi. Sayang kanu itu sedang hamil 2 bulan dan karena hal itulah makanya kamu muntah - muntah dan pusing, bahkan kamu sampai pingsan" jels Arsen.
"A-apa ak-aku ha-hamil, Ars? Kamu serius?"tanya Ziana yang sangat kaget, dia refles mengusap perutnya. Air matanya menetes tanpa di perintah, Ziana sangat terharu.
"Hmm... Kamu hamil, kamu senang?"tanya Arsen.
"Sangat, aku sangat senang Ars. Akhirnya kamu hadir juga, sehat - sehat ya di dalam" ucap Ziana sambil mengelus perutnya yang masih rata.
~_~
"Ars, ayo bangun!"Ziana menggoyangkan tubuh Arsen yang masih tidur di sampingnya.
"Tc, apaan sih Zia?"tanya Arsen tanpa membuka matanya.
"Anak kamu lapar, ars"ucap Ziana.
"Yaudah kamu kan tinggal makan, kenapa malah ganggu aku sih"Arsen benar - benar masih sangat mengantuk..
__ADS_1
"Aku pengen nasi goreng buatan kamu Ars."
"APA? Jangan aneh - aneh! Yang benar aja, minta yang lain aja."ucap Arsen.
"Tapi ini yang minta anak kamu ,Ars."rengek Ziana.
"Sayang, aku nggak bisa masak"Arsen duduk dengan wajah ngantuknya.
"Tapi aku pengen makan makanan yang kamu masak"rengek Ziana, dan wanita itu pun mulai mengeluarkan air matanya.
"Ehhh... Kenapa kamu malah menangis?" Arsen oun mulai panik, beginilah kondisi Ziana akhir - akhir ini. Dia akan mulai menangis jika keinginannya tidak di penuhi dan karena ini juga lah, Arsen pun sudah sangat jarang pergi mengurus urusan bisnis gelapnya.
Dan karena Ziana yang tidak memperbolehkan Arsen mengurus bisnis gelapnya, maka Bram lah yang menjadi korbannya. Pekerjaan pria itu menjadi 10x lipat bertambah.
"Baik - baiklah, kau mau makan apa tapi udah jangan menangis lagi" bujuk Arsen. Ziana menghentikan tangisnya seketika, mengelap air mata yang membasahi pipinya.
"Benarkah kamu mau memasakkannya?"tanya Ziana.
"Iya, ayo kamu mau makan apa?"tanya Arsen.
"Tidak usah, kamu tidak ikhlas melakukannya. Tidurlah lagi" ucao Ziana kemudain membaringkan tubuhnya.
"Tc, yang benar saja. Tadi kamu merengek mint aku masak dan sekarang aku sudah mau dan kau bilang aku tidak ikhalas? Ayolah, kau mau aku masakkan apa? Aku ikhlas melakukannya"ujar Arsen , dia mulai sangat kesal dengan sikap istrinya ini.
"Tapi..."
"Kau mau makan atau tidak?"tanya Arsen dengan nada yang sedikit membentak.
"Kau membentakku?"Arsen membalikkan tubuhnya dan menatap Arsen dengan tatapan tidak percaya.
"Oh ayolah, aku tidak membentak. Sekarang ayo kau mau makan apa. Wahai istriku yang sangat cantik dan sexy" bujuk Arsen.
"Baiklah karena kamu sangat memaksa, aku ingin makan lontong sayur"
"Yang benar saja sayang, itu sangat sulit dan membutuhkan waktu yang sangat lama. Yang lain saja"
"Hmm... Kamu benar, kamu bisa nya masak apa?"tanya Ziana.
"Kan sudah aku bilang, aku tidak bisa masak"
"Lalu bagaimana kamu akan membuatkan aku makanannya?"tanya Ziana.
"Demi istri dan anakku, aku akan mencobanya"ucap Arsen.
"Baiklah, nasi goreng saja"
"Baiklah, ayo" Arsen pun turun dari tempat tidur.
"Kemana?"tanya Ziana
"Kedapur, kemana lagi" ujar Arsen
"Pergilah sendiri, aku akan tidur sementara kamu memasak" seru Ziana kmbali membaringkan tubuhnya.
"Yang benar saja, aku bekerja di dapur dan kau enak - enaan tidur di kamar. Ayo" Arsen menarik tangan Ziana dan mengajak istrinya itu ke dapur.
__ADS_1