
"Assalamualaikum, Omaaa~" ucap seseorang dengan suara cemprengnya...
Oma Yun tersenyum melihat siapa yang mengucapkan hal itu.
"Waalaikum salam"balas Oma Yun
"Kenapa kamu lama sekali?!.."
"Maaf Oma, tadi saya ke toko dulu" balas Ziana, mendekati Oma yun dan menyalaminya.
"Kok tasnya cuma ini? Tas baju kamu mana?"tanya Oma Yun yang hanya melihat tas peralatan Ziana.
"Pakaian? Untuk apa Oma? "Ziana mengerutkan keningnya.
"Apa Bram belum memberitahukannya pada mu?" Ziana menggeleng .
"Tc, dasar anak itu. Yaudah biar oma yang bilang, hari ini itu tepatnya siang ini kita akan melakukan perjalanan ke eropa selama seminggu"
"Kita? Maaf Oma saya belum mengerti, Oma akan pergi liburan? Lalu hubungannya apa sama saya?"tanya Ziana.
Oma Yun menghela napanya." sayang, kamu kan sedang mengobati Oma jadi kamu itu harus ikut dengan Oma dan semuanya sudah Oma persiapkan" kata Oma Yun.
"Tapi Om..."
"Oma tidak terima penolakan, ayo bantu Oma bersiap" Oma Yun menjalankan kursi rodanya dan meninggalkan Ziana yang masih terdiam di tempatnya.
"Mau sampai kapan kamu berdiri di sana?!"teriak Oma Yun.
~_~
Di sini lah Ziana sekarang, di dalam pesawat jet milik keuarga Marvino. Tapi sedari tadi Ziana belum melihat kehadiran seorang Arsen Marvino, apa pria itu tidak ikut?
Sila sedari tadi memperhatikan Ziana, " Hey, kamu belum memperkenalkan dirimu padaku!"kata Sila
Ziana menoleh kearah Sila yang duduk di sebelahnya.
"Aku Ziana, perawat Oma Yun yang baru"Ziana mengulurkan tangannya. Dengan senang hati Sila menyambut tangan itu.
"Aku Sila, putri bungsu dari keluarga ini" Ziana tersenyum. Dalam waktu yang singkat Sila dan ziana pun langsung akrab. Berbeda dengan Tasya, adik Arsen yang satu itu sedikit cuek dengan orang asing dan gadis itu juga selalu menatap Ziana dengan tatapan sinis dan dingin.
Setelah menempu perjalanan yang cukup jauh, kini tibah lah mereka di salah satu negara benua eropa, Swiss.
Ziana melihat ke sekelilingnya, ini adalah pengalaman pertamanya melakukan perjalanan keluar negeri.
__ADS_1
"Oma,..."
"Ayo, kita ke hotel. Oma sangat lelah dan ingin beristirahat" jawab oma. Sebenarnya Oma Yun tahu kalau ini adalah pengalaman pertama Ziana untuk perjalanan jauh. Tapi Oma Yun harus nekat melakukan ini demi melancarkan rencananya.
"Ziana, nanti malam kita akan pergi berkeliling ya" kata Sila bergelayut manja di lengan Ziana.
"Maaf Sila, tapi ini adaalh pengalaman pertamaku keluar negeri dan aku tidak tahu apa pun mengenai tempat ini." balas Ziana jujur.
"Ya sudah, kalau begitu biar aku perkenalkan padamu betapa indahnya negara Swiss ini" kata Sila semangat.
"Norak!" ucap Tasya berjalan mendahului mereka.
"Ish... Sirik aja" dengus Sila. Ziana hanya diam menatap kepergian Tasya.
~_~
Sesuai dengan janjinya, Sila datang ke kamar Ziana untuk mengajak gadis itu pergi jalan - jalan.
"Apa urusanmu suda selesai?"tanya Sila saat Ziana membuka kan pintu kamar hotelnya.
"Masuk lah dulu, yuk" Ziana mengajak Sila masuk kedalam.
"Tunggulah sebentar, aku akan bersiap - siap dulu. "Ziana pun masuk ke dalam kamar mandi meninggalkan Sila yang sedang duduk di sofa yang ada di dalam kamarnya itu.
Tak berapa lama Ziana pun keliar dari kamar mandi, gadis itu sudah memakai pakaiannya.
"Apa kamu akan keluar dengan itu?"tanya Sila yang melihat penampilan Ziana yang hanya memakai kemeja kebesaran dengan di padukan dengan celana jeans yang senada dengan kemejanya.
"Kenapa, apa ini tidak cocok?"tanya Ziana.
Sila menghela napasnya, "kemarilah!" Sila membawa Ziana untuk duduk di kursi meja riasnya.
"Apa yang akan kamu lakukan?"
"Sudah diamlah!" Sila pun mulai menggerakkan tangannya menari di wajah dan rambut Ziana. Tidak butuh waktu lama. Siala telah selesai mendandani Ziana make up yang natural dengan rambut yang di biarkan tergerai.
"Udah yuk!"Sila pun mengandeng tangan Ziana.
Ziana tersenyum, " Thank you Sila"ucap Ziana, dia tidak menyangka kalau Sila akan sebaik ini padanya.
Sila benar - benar mengajak Ziana untuk berkeliling, tidak peduli dengan waktu yang sudah larut. Tapi Sila belum juga mau mengajak Ziana pulang. Enatah mengapa Ziana merasa sepertinya ada sesuatu hal yang di sembunyikan oleh Sila padanya.
"Sila, ini sudah terlalu larut, bagaimana kalau kita pulang dan kita akan melanjutkan jalan - jalannya besok saja."kata Ziana.
__ADS_1
"Tidak bisa Ziana, besok status mu sudah berbeda dan kamu tidak akan bisa keluar seperti ini bersama ku"balas sila.
"Apa maksudmu status ku akan berbeda?"tanya Ziana yang merasa ada yang aneh dengan ucapan gadis itu.
"Lupakan, ayo kita ke sana!" Sila kemblai mwnarik tangannya, membawa Ziana masuk ke dalam toko periasan.
"Ngapain kita ke sini?"tanya Ziana
"Aku ingin membelikanmu, periasan dan aku sepertinya akan membelikanmu ini" kata Sila menunjuk ke salah satu cincin yang ada di depannya.
"Tidak perlu, aku tidak membutyhkannya" balas Ziana.
"Kenapa kamu menolak pemberian orang lain, kamu tahu itu sangat tidak baik." Ziana tidak bisa berkata lagi dia hanya bisa diam dan menerima semua perlakuan Sila.
~_~
"Aku benar - benar capek! "desah Ziana menghepaskan tubuhnya di atas ranjang.
"Untuk apa sih Sila membeli ini semua? dan kenapa juga dia menyuruhku untuk memakai nya besok!" Ziana mengangkat semua barang yang di belikan Sila untuknya.
"Kalau bukan karena Ardi, aku tidak akan mau melakukan ini semua!" Zuana melempar semua paper bag yang di pegangnya tadi ke bawah.
~_~
Pukul sembilan pagi Ziana di suruh untuk bersiap dan di arahkan untuk pergi ke ruangan ball room hotel.
Dengan keadaan bingung Ziana melangkah masuk kedalam ruangan itu. Menatap heran dengan keadaan di ruangan itu yang terlihat sangat ramai.
Saat Ziana melangkah masuk, semua mata tertuju padanya. Ziana pun jadi salah tingkah dengan tatapan itu.
"Ayo nona, semua sudah menunggu!" seorang pelayan mengarahkan Ziana untuk berjalan terus kedepan. Di depan sana Ziana sudah melihat Oma Yun, Sila , Tasya dan Arsen.
Ziana makin tidak mengerti dengan semua ini, dia melihat Arsen menatapnya dengan tatapan seolah ingin membunuhnya.
'Ya allah, apa lagi ini? Kenapa tatapannya begitu dingin padaku.'batin Zia takut.
"Ziana sayang, ayo nak sini!" terdengar suara Oma Yun yang memanggil Ziana dengan suara lembut.
Ziana mengangguk dan berjalan dengan pelan mendeki Oma Yun. Jika diperhatikan dengan seksama kenapa baju yang di kenakan Arsen begitu cocok dan serasi dengan gaun yang di kenakannya.
'Kenapa aku merasa aku dan pria itu seperti pasangan!'batin Ziana lagi.
"Ayo duduk di sini nak," kata Oma Yun, saat Zia sudah berdiri di dekatnya.
__ADS_1
"Sekarang mempelai wanita, di persilahkan mencium tangan mempelai laki - laki!" kata bapak yang berpeci hitam yang duduk di hadapan Arsen.
DEG!