ARSEN The Good Husband

ARSEN The Good Husband
Bab 13


__ADS_3

Ziana menatap Arsen tajam, dia masih kesal dengan apa yang telah di lakukan oleh pria itu.


"Kenapa kau menatapku seperti itu?"tanya Arsen yang baru keluar dari kamar mandi.


Ziana hanya diam, kemudian dia mengambil bantal dan selimut. Pergi ke sofa, malam ini dia putuskan untuk tidur di sofa.


"kenapa tidur di sana?"tanya Arsen, mengerutkan keningnya.


"Bukan urusan mu."ketusnya.


"Ayo sini! Badanmu akan terasa sakit jika tidur di sana"kata Arsen yang duduk di pinggir ranjang.


"Apa urusanmu! Urus saja urusanmu sendiri, jangan sok peduli padaku" ketusnya. Membaringkan tubuhnya di sofa dan menyelimuti tubuhnya sampai kepala.


'Sok perhatian! Orang sedang mimpi indah juga, eh malah di siram. Dasar nggak punya hati' batinnya.


Bagaimana Ziana tidak kesal, tadi Arsen tiba - tiba menyiramkan air ke mukanya. Bukankah pria itu bisa membangunkannya dengan cara lebih manusiawi. Pikir Ziana.


"Ya sudah kalau itu mau mu" Arsen pun masa bodo, dia memilih membaringkan tubuhnya dan membelakangi Ziana. Arsen tidak tidur, dia hanya diam untuk menghindari perdebatan.


Suana kamar hening, tidak ada suara sedikit pun yang terdengar.


"Apa dia sudah tidur? Cepat sekali."gumam Arsen. Membalikkan tubuhnya, melihat Ziana yang sepertinya sidah tertidur di atas sofa.


Arsen bangkit dari tidurnya dan berjalan mendekati Ziana. Menatap wajah tidur Ziana yang tertutup sebagian oleh selimut.


"Dasar gadis aneh" ucapnya.


Dengan perlahan Arsen pun mengangat tubuh mungil Ziana, memindahkan gadis itu ke tempat tidur. Arsen meletakkan tubuh Ziana sepelan mungkin, dia tidak i gin jika sampai Ziana terbangun dan melihatnya yang sedang memindahkannya seperti ini.


Setelah memastikan posisi tidur Ziana yang nyaman, Araen pun ikut berbaring di sebelah Ziana dan hendak memejamkan matanya. Namun, dia di kagetkan dengan tangan Ziana yang tiba - tiba memeluk tubuhnya.


"Lihat lah, siapa yang menyentuh duluan!" ucap Arsen tersenyum. Arsen tidak menyingkirkan tangan itu, tapi pria itu malah ikut membalasnya.


"Awas saja jika kau menedangku lagi besok!" ucap Arsen sambil menatap wajah polos Ziana.


~_~


Pagi ini Ziana terbangun sedikit ke siangan, bahkan dengan tidak biasanya Arsen si pria menyebalkan itu bangun lebih dulu dari dirinya.


"Kenapa ya aku bisa berada di atas tempat tidur?" Ziana masih bertanya - tanya bagaimana dia bisa sampai tidur di atas tempat tidur.

__ADS_1


Setelah membersihkan diri dan menunaikan salat subuh. Ziana pun keluar dari kamar, dia berniat untuk membantu para pelayan untuk membuatkan sarapan.


"Nona sedang apa?"tanya Ida, yang melihat Ziana yang sedang memakai celemek.


"Aku akan membantu kalian untuk menyiapkan sarapan" jawab Ziana.


"Tidak usah nona, kami bisa melakukannya dan lagi pula kami tidak ingin mendapatkan masalah dengan membiarkan nona berada di dapur seperti ini." Ida mencoba untuk mengambil celemek yang ada di tangan Ziana.


"Tidak apa - apa, aku yang menginginkannya. Jadi, tidak akan ada yang marah"balas Ziana.


"Tidak Nona, lebih baik nona pergi menemani tuan saja di ruang Gym!" kata Ida.


"Ngapain aku di situ aku tidak suka berolahraga."


"Setidaknya nona bisa melihat tubuh tuan yang kekar itu" sahut Jumi yang baru datang dari taman belakang.


"Kamu ini Jum, tidak boleh bicara seperti itu. Apa kamu mau kehilangan pekerjaanmu! Bagaimana kalau ada yang salah paham mendengarnya." tegur Ida.


"Maaf bu"cicit Jumi. Jumi adalah pelayan termudah di rumah ini, dia memang menyukai melihat Arsen yang sedang berolahraga. Mungkin hampir setiap pagi Jumi selalu mengintip Arsen yang berada di ruang GYM atau bahkan dia sampai mencari cara agar bisa masuk ke dlaam ruangan itu. Entah itu mengantarkan minum atau bahkan hanya menanyakan, Arsen sarapan di rumah atau tidak.


"Pergi sana!"seru Ida mengusir Jumi.


"Ayo nona, silahkan tunggu sarapannya siap. Nona bisa menunggunya sambil menonton tv atau nona ingin ke ruang GYm?"tanya Ida.


Ziana menghela napasnya, " Baiklah aku akan menunggu di kamar saja kalau begitu" kata Ziana, berlalu pergi meninggalkan Ida. Sebelum pergi Ziana tadi sempat menyerahkan celemek yang di pegangnya pada Ida.


Ziana kembali ke kamarnya, dia duduk di sofa. Mwngeluarkan ponselnya dari saku celana yang di gunakannya.


"Aoa Ardi sudah bangun? Aku sangat merindukannya" gumam Ziana. Menskrol layar ponselnya, melihat apa kah ada pesan atau panggilan tak terjawab dari prianya itu.


"Kenapa dia tidak ada menghubungi, apa dia sibuk" gumamnya lagi. Ziana meletakkan ponselnya di atas meja yang ada di depannya.


Melihat Ardi yang tidak ada menghubunginya, Ziana mengurungkan niatnya untuk menghubungi pria itu. Dia takut mengganggu Ardi. Ziana mengalihkan pandangannya ke sekeliling. Melihat apakah ada sesuatu hal yang mencurigakan di kamar itu.


~_~


"Aku tidak mau tau, pokoknya kamu harus bisa melacak tentangnya!"


"Kenapa kamu tidak menyerah saja sih, sudah berapa lama kamu mengusut tentang dia? Dan sampai sekrang apa kamu mendapatkan titik terangnya? Sadarlah, dia bukan tandingan orang seperti kita." Arvin menepuk bahu sahabatnya.


Ardi diam menatap ujung sepatunya. " Tidak! Aku tidak akan menyerah! Kamu tau kan apa yang telah dia lakukan padaku."

__ADS_1


"Aku tahu, tapi..."


"Kamu tidak tahu!" Ardi pergi meninggalkan Arvin yang terdiam menatapnya.


"Ini salah Ardi, dendammu ini akan menjerumuskan mu kelak."gumam Arvin.


"Kamu tidak tahu siapa lawan yang sedang kamu hadapi."gumamnya lagi.


Karena kesal mendengar perkataan Arvin yang menyuruhnya untuk menyerah. Ardi tidak bisa menerima kata itu. Menyerah! Yang benar saja! Ardi tidak bisa melupakan bagaimana perbuatan pria itu terhadap orang yang sangat berarti baginya.


~_~


"Kamu sedang apa? Oma sedari tadi mencarimu dan kau ternyata enak - enakan tidur di kamar." kata Arsen berkacak pinggang di hadapan Ziana yang sedang bermalas - malasan di atas tempat tidur.


"Aku sangat pusing"rengek Ziana.


"Apa kau sakit?"tanya Arsen sedikit khawatir.


"Hm.."


"Kenapa bisa, bukannya tadi pagi kamu terlihat baik - baik saja?"tanya Arsen.


"Iya, tadinya aku baik. Tapi setelah melihatmu aku jadi pusing dan mual"ucap Ziana asal. Arsen mengerutkan keningnya.


"Kenapa bisa begitu?"tanya Arsen mengerutkan keningnya.


"Sudahlah pergi sana, suaramu membuat kepalaku semakin pusing saja." Ziana membalikkan tubuhnya membelakangi Arsen.


"Hei, apa kau tidak punya sopan satun! Suamimu sedang bicara kau mala buang muka begitu"Arsen menarik tubuh Ziana dan membuat Zia menghadap pada nya.


"Apa lagi?"tanya Ziana malas.


"Katakan kenapa kau bisa pusing saat melihatku?"tanya Arsen


"Serius kamu mau tahu?"Arsen menganggukkan kepalanya .


"Ayo cepat katakan!"seru pria itu.


"Tapi kamu janji dulu, tidak akan marah saat mendengarnya." Ziana mengarahkan kelingkingnya pada Arsen.


"Kekanakan!"ucap Arsen, menautkan kelingking nya dengan kelingking milik Ziana.

__ADS_1


"Karena kau itu sangat memuakan dan menggelikan!"ketus Ziana.


"APA?? KAU!!"


__ADS_2