
Sepulang dari rumah keluarga Marvino, Ziana kembali ke toko nya. Ia mulai mempersiapkan semuanya, karena besok dia akan mulai akan membuka toko seperti biasa.
"Sepertinya aku akan merekrut karyawan, tidak mungkin toko ini selalu ku tutup saat aku kerumah Oma yun." ucap Ziana, sambil merangkai bunga.
Ziana melihat kearah dinding, disana terpajang poto kedua orang tuanya.
"Pah, Mah... Sekarang Zia telah melakukan pekerjaan yang papa dan mama impikan" ucapnya sambil menyeka air mata yang mengenang di sudut matanya.
"Kalian pasti banggakan sama, zia"ucapnya lagi, kali ini Ziana mendekat kearah poto itu.
"Zia, rindu"mengusap figura tersebut, air mata pun tak bisa di bendungnya lagi.
~_~
Hari ini Zia sangat sibuk, dia harus menginterview beberapa orang yang melamar untuk bekerja di tokonya.
Tadi malam Zia melakukan penyebaran berita lowongan kerja di beberapa situs media sosialnya. Dan paginya dia sangat kaget melihat begitu banyak pelamar yang menghubunginya. Karena terlalu banyak, akhirnya Zia pun melakukan seleksi dan menerima beberapa orang saja yang akan mengikuti interview hari ini.
Zia sangat ketat menyeleksi karyawan baru, dia hanya akan mencari orang - orang yang jujur dan sabar saja. Karena berdasarkan pengalamannya, begitu banyak custumer yang banyak maunya dan kadang mereka juga suka memancing emosinya.
"Selamat karena kalian telah lulus dan kalian juga bosa langsung masuk kerja besok, dan yang harus kalian ingat adalah kalau sekarang ini kalian hanyalah karyawa training dan kalau aku tidak suka dengan kinerja kalian. Aku minta maaf ,aku harus memecat kalian."kata Ziana menjelskan .
"Oiya, yang paling penting adlah, aku tidak suka orang yang tidak on time!"
"Baik bu, kami mengerti."jawab salah satu karyawan.
"Eh jangan panggil ibu! Saya belum setua itu. Kalian bisa memanggil saya Nona saja,oke!"ucap Ziana tersenyum.
Hari ini dengan terpaksa toko bunganya kembali di tutup, karena Zia sangat lelah melakukan penyeleksian sendirian.
~_~
Arsen, menginjakkan kakinya di perusahaan milik keluarganya. Hari ini dia ada rapat penting, kalau biasanya dia jarang datang ke sinj. Tapi karena ini berhubungan dengan saham milik keluarganya, jadi Arsen tidak mungkin menyuruh sekretarisnya untuk menghadiri rapat ini, seperti biasanya.
Semua karyawa menunduk takut melihat Arsen melewati mereka. Tidak ada satu pun karyawan yang berani mengangkat kepalanya.
Arsen dan beberapa pengawalnya pun masuk kedalam lift untuk menuju ke ruangannya yang berada di lantai paling tinggi di gedungnya.
"Rapatnya jam berapa?"tanya Arsen pada Bram selaku orang kepercayaan keluarganya.
__ADS_1
"Setelah makan siang tuan, dan sebelum itu. Anda sudah ada janji dengan salah satu investor "balas Bram yang di angguki oleh Arsen.
Mereka pun sampai di ruangan Arsen, para pengawal menunggu Arsen di luar sementara Arsen dan Bram masuk kedalam ruangan.
"Aku lelah!"ujar Arsen.
"Apa anda ingin aku yang menggantikan anda?"tawar Bram.
"Memangnya bisa?"tanya Arsen mulai tertarik.
"Tapi tidak jadi, ini masalahnya akan sangat rumit. Apa kamu mau melihatku di marahin sama nenek?"kata Arsen.
"Saya hanya menyarankan tua"
"Saranmu, tidak sebagus sebelum - sebelumnya"kata Arsen.
Arsen pun mulai mengistirahatkan tubuhnya yang terasa sangaamt lelah.
Bram yang melihat itu pun, langsung berjalan menuju ke arah mejanya yang berada di depan pintu ruangan Arsen.
~_~
'Bagaimana sayang?'
'Bagus sayang, aku makin cinta deh sama kamu'
Ziana tersenyum mendengar kata cinta dari Ardian sang kekasih.
' Tapi sayang, bagaimana kalau aku dalam bahaya disana? Siapa yang akan menolongku?"tanya Ziana yang sedikit ragu dengan hal itu.
'Kamu tenang saja,semuany sudah aku perhitungkan, tidak akan terjadi apa pun denganmu selama aku masih hidup' balas Ardi yang berhasil membuat ziana bernapas lega.
'Baiklah, aku tutup dulu ya telponnya, besok aku harus bersiap - siap untuk pergi ke rumah Oma yun besok"kata Ziana.
'Iya, good nigth baby❤'
' too❤'balas Ziana.
Enatah kenapa, aku masih saja ragu dengan semua ini. Ya walau pun tadi Ardi bilang akan menolongku, tapi.... Aish..
__ADS_1
Ziana meletakkan ponselnya di atas meja belajarnya. Malam ini benar - benar malam yang panjang. Waktu seolah berjalan sangat lamban.
"Aku seperti merasa akan ada masalah besar yang sedang menungguku." ucap Ziana pelan.
~_~
Oma Yun sangat bersemangat hari ini, dia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Ziana. Untuk pertama kalinya Oma Yun sampai di meja makan pertama kalinya, biasanya Oma akan ke mej makan jika sudah di jemput oleh salah seorang cucunya.
"Kemana mereka? Kenapa belum ada yang turun?"tanya Oma Yun pada kepala pelayan.
"Maaf nyonya, tapi ini Oma terlalu cepat datang untuk sarapan"jawab pelayan itu. Oma Yun hanya bisa tersenyum.
"Kamu benar"
Tak lama Sila dan tasya pun turun, mereka berdua oun sangat kaget melihat Oma Yun yang sudah duduk manis dengan kursi rodanya di meja makan
"Oma? Tumben..."kata Sila, yang menarik kursi sebelah oma.
"Iya, kenapa nggak nunggu kita jemput aja sih Oma"sambung Tasya.
"Kalian bangunnya lama, oma udah kelaparan menunggu kalian!"kata Oma. Sila dan Tasya oun slaing bertatapan, tidak biasanya Oma mengatakan kata - kata itu. Bukankah selama ini Oma mereka sanat susah makan bahkan kadang harus di paksa oleh Arsen baru Omanya mau makan.
"Selamat pagi!" sapa Arsen, dengan ekspresi datarnya.
"Pagi, senyum dikit napa sih kaka. Cemberut mulu tu muka" kata Sila, Arsen hanya diam tidak menanggapi ucapan sang adik.
Mereka pun mulai sarapan, walau tidak tenang karena di sana suara Sila dan tasya terdengar membahana di ruangan itu.
Selesai makan, semua orang pergi melanjutkan aktivitasnya. Tinggallah Oma Yun sendirian dan hanya bertemankan dengan para pelayan.
Oma Yun sedang duduk di ruang tamu, dia ingin segera bertemu dengan Ziana. Gadis lugu dan polos itu sudah menyita perhatian Oma saat 10 tahun yang lalu.
Sudah sekian lama Oma mencari keberadaan Ziana, taoi tetap saja hasil nya nihil. Dan mungkin karena takdir atau apa. Tiba - tiba saja Ziana sendiri yang datang kepadanya. Sejak hari dimana Arsen menggunakan Ziana sebagai penata bunga di acara itu. Oma pun tidak meyianyiakan kesempatan, ia langsung mengikuti dan mencari tahu bagaimana keadaan Ziana sekarang dan betapa kagetnya oma saat mengetahui apa yang di rasakan oleh Ziana.
"Aku tidak akan melepaskanmu nak, kamu harus aku lindungi" gumamnya.
"Assalamualaikum, Omaaa~" ucap seseorang dengan suara cemprengnya...
Oma Yun tersenyum melihat siapa yang mengucapkan hal itu.
__ADS_1
"Waalaikum salam"balas Oma Yun
"Kenapa kamu lama sekali?!.."