
Arsen pergi ke ruangan Aries.
"Sibuk nggak?"tanya Arsen yang langsung masuk dan duduk di kursi depan Aries.
"Tuan Arsen Marvino yang terhomat, bisa nggak kalau masuk itu ketuk pintu dulu." ketus Aries kesal.
"Lama, lagian kayak lagi sibuk aja kamu. Aku mau ngomong"kata Arsen to the poin. Aries langsung mendongak, dia tau kalau nada bicara Arsen seperti ini berarti sahabatnya itu sedang ingin membahas hal yang penting.
Arsen pun menjelaskan situasinya saat ini, Arsen ingin menyelamatkan Oma, Sila dan juga Bram. Tapi di satu sisi dia sangat tidak ingin meninggalkan Ziana sedikitpun karena Arsen taju kalau saat ini Ziana sedang dalam bahagia.
"Kamu jangan khawatir, biar aku yang handle Ziana, kamu pergi aja ke tempat Oma dan Sila!"kata Aries
"Tapi Zia?...
"Udah kamu pergi saja..." Kata Aries. Arsen terdiam sejenak, lalu dia pun berdiri.
"Aku benar - benar membutuhkan bantuan kamu dan tolong jangan lengah! Awas kalau kau sampai lengah dan terjadi sesuatu pada istriku!"ancam Arsen.
"Nggak sadar diri banget sih manusia zaman sekarang. Biasanya kan kalau orang yang minta tolong itu selalu bermulut manis, rai dia kenapa amlah bermukut pedas dan pahit ya. Dasar aneh!"dengus Aries menatap kepergian Arsen.
"Huft... Kerjaanku jadi bertambah jadinya" Aries pun degan cepat menyelesailan pekerjaannyan.
Arsen sampai di ruangan Ziana, dia melihat Ziana yang sedang tertidur. Mungkin karena efek biusnya masih ada.
"Doain aku ya, semoga aku bisa menyelamatkan oma tanpa harus kehilangan apa pun" bisik Arsen pada Ziana.
Arsen memegang tangan Ziana cukup lama, mencium kenibg gadis itu. " Baik - baik ya, tunggu aku kembali" ucap nya kemudian dengan berat hati Arsen pergi meninggalkan ruangan Ziana.
~_~
Bary tiba di oerusahaannya, Arsen langsung menyuruh sekretarisnya untuk mengumpulkan semua pemilik saham.
Pukul 2 siang rapat oun di lakukan, dan dengan regas Arsen mengatakan semua keinginannya dan dia juga tidak lupa meminta kepercayaan penuh dari semua orang.
"Kami yakin kamu bisa dan lakukanlah apa yang menurutmu senang. Yang penting jaga dirimu."ucap Salah seorang wanita yang mana dia adalah pemilik saham terbesar di perusahaannya.
"Tuan, kami semua tahu bagaimana permasalahan mu sekarang dan kami juga sudah dengar semuanya. Makanya kami pun sudah sepakat untuk mempercayakan semuanya pada anda." kata salah satu pemilik saham lagi.
"Tapi bagaimana kalian...."
__ADS_1
"Kita semua tau kerja keras anda tuan." potongnya lagi dan Arsen sungguh tidak bisa mempercayai semua ini. Padahal niatnya tadi mengumpulkan mereka untuk membagikan kembali saham yang mereka miliki. Arsen tidak mungkin merugikan seseorang hanya karena kepentingan pribadinya.
"Terima kasih, semuanya." ucap Arsen.
~_~
"Sekarang kita harus atur strategi, kalian tahu kan musuh kita kali ini tidak sama dengan musuh - musuh yang pernah kita lawan." kata Arsen pada para pengawalnya. Sekarang Arsen sedang berada di rumahnya, dia mengumpuljan semua pengawal untuk mengatur strategi yang akan di gunakannya. Kali ini Arsen tidak ingin melakukan kesalahan apa pun karena kali ini nyawa Oma dan adik bungsu nyalah yang menjadi taruhannya.
Setelah selesai urusannya dengan pengawalnya itu,Arsen pergi ke kamarnya Tasya. Tasya sedang berada di kamar Oma, dia sedang menangis. Kaget pasti saat dia mendengar kabar kalau Oma dan adik bungsunya sedang di culik.
"Udah kamu jangan nangis terus, senyum biar kakak semangat." kata Arsen merengkuh tubuh adiknya itu.
"Kak, bagaimana dengan keadaan Oma kak? Mereka tidak menyakiti Oma dan Sila kan?"tanya Tasya dengan suara yang bergetar.
"Kita berdoa saja , semoga oma dan sila selalu dalam lindungannya."kata Arsen,
~_~
Keesokan harinya, Arsen mulai dengan rencana yang telah di aturnya dengan mateng. Dia mendatangi markas yang di perintahkan oleh orang itu.
Tanpa ragu Arsen masuk dan mulai mencari ke beradaan Oma , Sila dan juga Bram.
"NAIK KE ATAS!" Arsen menengadahkan kepalanya melihat ke lantai dua yang di maksud kertas itu.
Dengan sedikit berlari Arsen sampai di lantai dua dan dia dia di kagetkan dengan melihat Sila yang sedang menangis terikat di sebuah kursi.
"Ka...kak..." cicit Sila ketakutan.
"Tenang Sila, tenang kakak ada di sini"kata Arsen mencoba menenangkan adiknya itu. Arsen berjalan mendekati Sila, namun dengan cepat Sila berteriak melarangnya.
"Jangan ke sini kak, jangan!"teriak Sila. Arsen langsung menghentikan langkahnya dan melihat ke sekelilingnya, yang benar saja Arsen dapat melihat begitu banyak penembak jitu yang sedang bersembunyi dari berbagai penjuru.
Arsen mengangguk kecil.
"AKU SUDAH DI SINI, SEKARANG APA MAU MU!"teriak Arsen kuat dia tahu kalau Martin ada di sini.
Sila menggeleng saat mendengar Arsen meyebut nama Martin.
"Cek... Cek... Hallo... Apa kau mendengar dengan jelas suaraku?"tanya sebuah suara yang tiba - tiba terdengar entah dari mana.
__ADS_1
"Hai, bro. Akhirnya kamu sampai juga ke markas kita ini..."Arsen mengerutkan keningnya seolah melihat ke sekelilingnya.
"apa kamu ingat sesuatu dengan tempat ini?"tanya Suara itu. Arsen mencoba untuk mengingat sesuatu.
"Jangan di paksakan! Nanti kamh.juga bakala. Ingat." kata suara itu lagi.
"Kau siapa?"teriak Arsen.
"Siapa aku? Oh ayolah, masa kau melupakan orang yang sangat berharga seperti diriku ini" kata pemilik suara itu.
"Apa maumu?"tanya Arsen lagi, dia tidak ingn terjebak dengan kata - kata itu.
"Mau ku ? Inilah salah satu yang membuat aku suka denganmu, sifat mu yang to the poin itu lo sangat aku sukai." kata lagi.
"Cepat katakan, tidak usah bertele - tele!" seru Arsen yang mulai geram. Kalau tidak memikirkan Omaa dan Sila. Arsen sudah dari tadi menyerang mereka semua.
"Sabar teman sabar... Kenapa kau tidak sabaran sekali. Aku masih mau bermain dengamu" kata orang itu.
Inilah yang paling di benci Arsen dari dirinya sendiri, dia paling susah untuk mengingat seseorang.
~_~
Ziana terbangun dari tidurny, dia melihat keadaan sekelilingnya.
"Kemana dia? Apa di sudah pergi? Apa hanya segitu kepeduliannya padaku?.." pikir Ziana.
Ziana memijit kepalanya yang terasa sedikit pusing. Potongan memori saat dia di seka pun berkelebat di ingatannya.
"tidak, tidak... Bagaimana mungkin dia tega melakukan ini padaku.." gumam Ziana. Air matanya mulai menetes begitu saja saat mengingat percakapannya saat di sekap kemaren dengan seseorang yang telah membuatnya sangat merasakan sakit.
"Kenapa? Kenapa kau tega melakukan ini? Apa salah ku?"racau Ziana.
"Tidak, tidak... Aku harus menyelesaikan semua ini, aku tidak akan diam saja..." kata Ziana. Dengan keadaan yang masih lemah Ziana bangun dan duduk, dia mencabut selang infus yang tertancam di pergelangan tangannya.
BRUGHH..
"AWWW..." Teriak Ziana saat dia mulai berdiri.
Ceklek.
__ADS_1
"APA YANG KAU LAKUKAN?"