ARSEN The Good Husband

ARSEN The Good Husband
Bab 32


__ADS_3

"Aku tidak ingin menyakitimu Zia, jadi kumohon mengertilah posisiku!"kata Ardian denga nada lembut.


"Apa? Kamu bilang tidak mau menyakitiku? Lalu apa yang kamu lakukan di ruangan itu? Kau menampar dan memukulku bagaikan tubuhku ini adalah samsak yang bisa dengan seenaknya kau pukul dan kau tendang!" ujar ziana.


"Hmm... Kau benar, kau itu hanya seperti samsak bagiku dan terus lah seperti itu" ucap pria itu.


"Cih, jangan harap. Karena sekarang aku sudah rahu, sebenarnya Arsen tidak salah apa pun tapi karena apa kamu ingin melihatnya mnederita"kata Ziana.


"KAULAH YANG JAHAT ARDIAN PRASETYA! KAULAH YANG MEMBUNUH ADIKMU SENDIRI!!"teriak Ziana di dean wajah Ardi.


"DASAR ******!!" Ardian sudah mulai emosi, dia pun mendorong tubuh Ziana kuat hingga gadis itu jatuh tersungkur.


"BERANINYA KAU!!" teriak Arsen yang sudah tidak tahan dengan tindakan Ardian.


Arsen berjalan mendekati Ziana dan membantu gadis itu berdiri.


"Ars.." Ziana langsung memeluknya. Dia senang karena pria itu datang untuk menyelamatkannya.


"WOW... Akhirnya tamu yang di tunggu - tunggu pun datang juga" kata Ardian.


"Hay... Ars, akhirnya kita ketemu." lanjutnya dengan senyum smirk nya.


"Ars, jangan gegabah dia sangat berbahaya" bisik Ziana. Arsen melepas pelukannya dan menatap manik mata Ziana.


"Semuanya akan baik - baik saja" ucapnya tersenyum. Srsen menggenggam tangan Ziana.


"Sudah puas main - main nya?!"tanya Arsen dengan nada datar.


"Hmm... Sebenarnya aku masih mau main sama kamu lebih lama lagi, tapi kelihatannya kamu sudah tidak sanggup." kata Ardian berjalan mendekati Arsen dan ziana.


"Sepertinya kau sudah tidak sabar ingin ke permainan inti" lanjutnya sambil terus menatap Ziana dengan tatapan intens.


"Kau berurusan denganku, jangan bawa - bawa dia!" Arsen menarik Ziana menjauh dari Ardian.


"HAHA... Kau sangat posesif, " ucap Ardian dengan nada mengejek.


"Aku tanya sekali lagi, apa maumu?"tanya Arsen.


"Jangan terburu - buru, apa kau tidak merindukan sahabatmu ini?" tanya Ardian.


Ziana kaget dan langsung menatap Arsen.


'Sahabat? Apa maksudnya ini?' batin Ziana.


"Cih... Sahabat? Beraninya kau mengaku sebagai sahabatku setelah apa yang telah kau lakukan!!" ketus Arsen, menatap Ardian tajam.


"Hmm... Memangnya apa yang telah aku lakukan? Aku hanya ingin bermain denganmu." balas Ardian santai.

__ADS_1


Arsen mengeratkan genggaman tanganya, Ziana daat merasakan amar Arsen. Dengan pelan Ziana pun mengelus pelan tangan Arsen, dia berniat untuk meredam amarah pria itu.


Arsen menoleh dan tersenyum. " Thank you" ucapnya.


"Kau jahat sekali Zia, baru lepas dariku kau sudah bisa bermesraan begitu dengan pria lain dan parahnya kau lakukan itu di depan MANTAN PACARMU SENDIRI" ucap Ardian yang dengan sengaja menekankan kata mantan pacar.


"Huft... Kalau kau tidak ada yang ingin di ucaokan lagi, aku akan pergi"kata Arsen berjalan melalui Ardian begitu saja.


"Berhenti!!!"teriak Ardian.


Arsen dan Ziana pun menghetikan langkahnya dan dengan pelan mereka berbalik.


"Apa benaran ini yang kau inginkan"tanya Arsen, dia sudah menduganya kalau Ardian pasti menginginkan pertumpahan darah.


"Berdirilah di belakangku dan tolong jangan lakukan hal bodoh lagi."kata Arsen pada Ziana.


"Tapi..."


"Ku mohon Zia, kali ini saja kamu menurut padaku!"pinta Arsen. Melihat tatapan Arsen Ziana pun mengangguk mengiyakan.


"Aku sudah sangat lama menantikannya, kau tahu!" kata Ardian, pria itu menatap Arsen seolah pria yang ada di depannya ini sedang tidak berdaya.


"Hmm.... Meski aku tidak tahu, salah nya di mana. Tapi aku akan mewujudkan keinginanmu itu"kata Arsen.


DORR!


"Jangan buang - buang pelurumu!" tegur Arsen.


Ardian tersenyum, dan pergulatan mereka pun tidak bisa di hindari lagi. Saat Ardian akan menyerangnya , Arsen dengan cepat - cepat mendorong tubuh Ziana menjauh darinya. Dia tahu sekarang istrinya itu pasti merasakan sakit akibat dorongannya barusan.


Selangkahpun Arsen tidak ibgin mengalah pada Ardian, dalam hatinya sudah bertekat akan menghabisi Ardian. Karena pria ini orang - orang yang di kasihi nya merasakan hal yang menyakitkan dan dia juga baru dapat kabar kalau Martin orang yang jadi musuhnya di dunia bisnis itu pun telah tiada.


Dan Arsen sanat yakin kalau Ardian telibat degan semuanya.


Bugh!


"Jangan harap lepas dariku Ardian?!" kata Arsen.


"Tidak kali ini, hari ini adalah hari keberuntunganku." kata Ardian tersenyum sinis.


"Benarkah?" Balas Arsen, dia melihat cela untuk menyerang Ardian


BUGH!!


SLASH!!


Arsen melayangkan bogemnya ke perut Ardian, dan saat Ardian terhuyung Arsen langsung menikamnya.

__ADS_1


"Bukan kah sudah pernah ku bilang kalau kau itu tidak akan pernah bisa berada di depanku!!" kata Arsen.


"Brengsek! Tapi aku senang akhirnya kau juga melakukan pembunuhan." ujarnya tersenyum sinis.


Hukh~ Ardian sudah mulai batuk dan mengeluarkan darah segar.


"Bertaubatlah Ardian!"kata Arsen melemahkan nadanya.


"Ti...dak, tu...han ti...dak a..kan me..maaf...kan ke..sa..la..han..ku."ucap Ardian dengan nafas yang tersengal.


"Tidak, kau salah tuhan pasti akan mmaafkan setiap hambanya yang ingin bertaubat" Arsen berjongkok di depan Ardian.


Ardian tersenyum, " kenapa kau masih baik padaku? Bukankah aku sudah sangat jahat padamu" tanya Ardian yang merasa bingung dengan sifat Arsen.


Pria yang terkenal sangat jahat dan kejam ini, sebenarnya adalah pria yang sangat lembut bahkan selama ini Arsen tidak pernah membunuh orang yang di lakukan pria itu hanyalah menyiksa dan menghancurkan usaha orang tersebut dan yang melakukan pembunuhan selama ini adalah Ardian.


Dialah yang selama ini membunuh semua musih Arsen, dia ingin memberikan daftar hitam pada Arsen tapi selama ini entah saalhnya di mana, Arsen selalu saja bisa menyelamatkan dirinya sendiri.


~_~


1 bulan kemudian


Arsen berdiri di depan jendela kamarnya, menatap keluar dengan tatapan kosong.


"Ars..." panggil Ziana dengan suara lemah.


"Kau sudah bangun?.." Arsen berjalan keranjang dan mendekati Ziana.


"Kamu sedang apa?"tanya Ziana


"Aku sedang menunggu putri tidur ini bangun." Ucap Arsen tersenyum, dia pun ikut berbaring di samping Ziana dan memeluk gadis itu.


"Apa tidurmu nyenyak?" tanya Arsen. Ziana pin menganggukkan kepalanya.


"Ayo bangun dan kita sarapan, Oma dan yang lain sedang menunggu kita" kata Arsen mengusap pelan rambut Ziana.


"Hmm" Ziana pun melepaskan pelukannya dan hendak duduk.


"Tapi sebentar lagi aja, aku masih ingin memelukmu." ucap Arsen kembali menarik Ziana kedalam pelukannya.


"Dasar" Ziana pun membalas pelukan itu.


"Apa kau sidah mencintaiku?"tanya Arsen.


Yap, itu adalah pertanyaan setiap pagi yang selalu di lontarkan oleh pria itu dan entah ke berapa kalinya pria itu harus menerima ke kecewaan karena Ziana tidak pernah menjawab nya.


Arsen hanya bisa menghela napas dan lebih mengeratkan pelukannya.

__ADS_1


__ADS_2