ARSEN The Good Husband

ARSEN The Good Husband
Bab 47


__ADS_3

Setelah mendapat perintah dadakan, dokter Maya yang mulanya sedang beristirahat di rumah. Dengan terpaksa pergi ke rumah sakit saat itu juga dan ia segera membantu persalinan Ziana dengan ditemani oleh Arsen. Tubuh Ardan semakin gemetar dan tidak bisa terkondisikan , darahnya seakan berhenti saat dirinya melihat secara langsung bagaimnaa proses istrinya melahirkan


" Hati-hati jangan menyakiti istriku! "bentuk Arsen. kedua matanya terpejam tak kalah melihat dokter Maya menggunting area perineum supaya memperluas jalan lahir agar mempermudah bayi untuk keluar bahkan arsen bisa mendengar dengan jelas bagaimana gunting yang di bawah oleh Maya merobek area itu.


Mulut Maya rasanya ingin sekali mengumpat laki-laki yang ia anggap cerewet dan menyebalkan di saat situasi darurat seperti ini.


Maya memberikan instruksi terakhir kepada Ziana untuk lebih kuat mengejan hingga akhirnya suara tangisan bayi memecah seisi ruangan.


Begitupun di luar ruangan persalinan, Omah dan yang lainnya bisa mendengar suara tangisan cucu pertamanya yang serasa menggetarkan jantungnya hingga air mata wanita paruh baya itu lolos begitu saja dari kedua sudut matanya rasa syukur ia ucapkan hingga berulang kali.


Arsen menghujani begitu banyak ciuman di puncak kepala istrinya dan berulang kali mengucapkan terima kasih.


Ziana seketika merasa begitu lega rasanya sakit yang sudah ia tahan berjam-jam lamanya akhirnya berbuah manis setelah sesaat dirinya melihat sosok bayi mungil yang masih berlumuran darah itu keluar dari rahimnya.


Kedua sudut mata wanita yang baru saja menyandang status sebagai seorang ibu itu terlihat basa, sebuah keajaiban yang pertama kali ia lihat di dalam hidupnya ialah melahirkan.


Saat dokter Maya dan perawat melakukan tindakan selanjutnya kepada Ziana, mereka menyuruh Arsen untuk menunggu di luar ruangan.


Laki-laki itu berjalan dengan langkah yang gemetar menemui keluarganya yang masih berdiri penuh penantian saat pintu ruang persalinan ia buka lebar.


"Ars bagaimana? Ziana dan cicit Oma? Apa mereka baik - baik saja" oma menyambar kedua tangan cucunya dan melontarkan pertanyaan dengan tidak sabar.


"Kakak Bagaimana keadaan keponakan dan kakak ipar , apa mereka baik-baik saja ?"Semua orang bertanya secara bergantian kepada Arsen yang masih berusaha mengatur nafasnya setelah jantungnya dibuat naik turun di dalam ruang persalinan.


Hasan mengangguk kedua matanya berkaca-kaca. " Iya Ziana dan anakku baik-baik saja"


Arsen menatap lekat wajah Oma yang terlihat sudah menua. Rasa kepanikan Oma terlihat jelas saat garis-garis tipis itu mengurat di wajah wanita yang telah melahirkan ibunya dan wajah Omah sangat mirip dengan wajah ibunya.


Arsen tiba-tiba menghamburkan pelukannya kepada Oma, mendekap tubuh wanita itu dan memberikan ciuman berulang kali dengan rasa penuh penyesalan.

__ADS_1


~_~


Dokter Maya terlihat berjalan menghampiri Arsen dan yang lainnya ia terlihat sedang menggendong seorang bayi mungil yang sudah dibersihkan itu adalah bayi Ziana dan juga Arsen. Maya sendirilah yang memberikan bayi itu kepada mereka.


"Tuan Arsen, ini anak anda. Dia laki-laki selamat untukmu "Maya melulurkan bayi yang baru beberapa menit lahir itu kepada ayahnya yang masih menatap dengan penuh ketidakpercayaan.


Arsen terperangah, ia tidak langsung mengambil alih bayi laki-laki mungil itu dari tangan Maya, perlu beberapa saat untuk kedua matanya mengamati bayi itu dengan seksama, hingga kedua matanya yang berwarna coklat bagai biji Kakao itu mengkilat karena cairan bening yang hampir menyenangi. Namun sebisa mungkin Arsen meredam rasanya harunya.


Arsen menoleh ke arah Omah yang berada di sampingnya ." Omah Dia anakku? "


" Iya itu anakmu " Oma Yuni mengusap-usap bahu Arsen. Seraya tersenyum hingga kedua matanya yang basah terlihat menyempit


Arsen dengan perlahan mengambil alih bayi itu dari tangan Maya memberi ciuman untuk pertama kalinya sungguh tidak bisa dipercaya bahwa dirinya sudah benar-benar menjadi seorang ayah


" Kenapa dia mirip sekali denganmu, Tuan ? " saut Bram secara tiba-tiba, Arsen mengalihkan pandangannya ke arah asisten pribadinya itu dengan tatapan penuh kesinisan.


" Tentu saja dia mirip denganku, ini Putraku! " seru Arsen, namun ia masih bisa mengontrol suaranya agar tidak mengganggu putranya yang baru saja lahir itu.


" Jika iri buatlah sendiri. Tapi ingat kau tidak bisa membuatnya sendirian" Arsen ingin sekali menertawakan asistennya itu yang rawat wajahnya mendadak masam. Rasanya Bram ingin sekali membelah diri.


Hanya bisa diam membisu, tidak ada perlawanan untuk membalas ledekan Bosnya itu


Arsen membawa putranya itu masuk ke dalam ruang persalinan untuk menemui Ziana yang berada di dalam sendirian.


Dengan langkah yang penuh hati-hatian, ia berjalan menghampiri istrinya yang duduk bersandar di atas tempat pembaringan. Seulas senyuman terulang di leader pucat Ziana sesaat setelah mengetahui bahwa yang masuk ke dalam ruangannya adalah suaminya.


" Sayang ini anak kita" Arsen dengan perlahan mengalihkan bayi mungil yang kedua matanya masih terpejam itu kepada Ziana. Ziana pun menerimanya dengan baik kedua mata wanita itu bertatap haru hingga kedua sudut matanya tergenang air mata.


" Dia mirip sekali denganmu ar" puji Ziana Seraya memberi ciuman dengan penuh kehati-hatian di bibir putranya hingga bayi mungil itu tersenyum.

__ADS_1


"Tentu saja dia mirip denganku, jangan sampai dia mirip dengan Bram! "seru Arsen


" Kau ini selalu saja! " cebik Ziana


" Tadi itu sungguh menakutkan" Arsen menatap lekat wajah pucat Ziana yang di bawah kedua matanya membekas kantung hitam, lalu menghadiahkan ciuman yang cukup lama di puncak kepala istrinya tersebut.


" Terima kasih banyak, Sayang" ucapnya dengan suara yang sangat berat


" Kamu sudah tahu, nak. Bagaimana perjuangan istrimu untuk melahirkan anakmu? " Oma yuni terlihat menghampiri mereka secara tiba-tiba.


" Oma..." senyuman Arsen dan Ziana mengembang secara bersamaan


" Iya Omah Arsen sekarang sudah tahu bagaimana, tadi Ziana melahirkan, itu benar-benar sangat menyeramkan karena" tubuh Arsen bergidik ngilu, telinganya dan yang saat mendengar suara robekan dari gunting yang dilayangkan oleh dokter Maya di bagian inti jalan keluar bayi.


" Sangat menyakitkan. Lihatlah istrimu berjuang hingga kau mendapatkan bayi selucu ini. " Oma Yun mengambil alih cicitnya itu dari tangan Ziana ia menggendong dan memberi ciuman di pipi bayi yang masih belum diberi nama itu .


" Jangan pernah sekali-sekali pun kamu menyakiti istrimu " tutur Oma Yuni pelan , namun penuh dengan peringatan dan ancaman


" tidak Oma, itu tidak akan pernah terjadi " air mata Arsen merebak, ia memeluk Ziana dan memberi ciuman di beberapa wajah Ziana lalu disambung mencium Puncak kepala Oma Yuni dan juga Putra pertamanya.


"Ars, mau diberi nama siapa putra kita ini? " Tanya Ziana


" Iya nak. apa kau sudah menyiapkan nama untuk anak kalian ? " Timpal Oma Yuni


"Sudah, aku akan memberikan dia nama Renard Marvino yang berarti tangguh dan pemberani"


"Nama yang bagus, aku menyukainya" ujar Ziana, seulas senyuman ia kembnakan di bibir tipisnya.


"Oma juga menyukai nama itu , Renard " Oma Yuni memberi ciuman di pipi cicitnya tersebut .

__ADS_1



__ADS_2