
Ziana menghela napas dalam, kemudian tersenyum. "Ternyata aku sebodoh itu ya..."gumamnya.
"Ayo bangun Ar, aku ingin memperjeas semuanya dan aku juga ingin dengar semuanya dari mulut kamu"ucap Ziana lagi.
Dddrrrr..... Drrrtttt....
Ziana mrngambil ponselnya dan melihat siapa yang menghubunginya.
"Ars.." ucapnya tersenyum
"Kamu lihat, dia.. Orang yang kamu bilang jahat dan kamu tuduh seorang pembunuh itu.... Dialah orang yang berusaha menjaga dan meyembuhkan luka aku Ar..." ucap Ziana menunjukkan ponselnya pada Ardian , seolah pria itu bisa melihatnya.
"Hallo... Ars..."
....
"Aku, lagi di rumah sakit"
....
"Iya, kamu jangan marah ya karena ini akan menjadi yang terakkhirnya, aku janji" ucap Ziana, saat mendengar helaan nafas Arsen yang seakan ingin marah.
....
"Iya... Bye"
...
Ziana menyimpan kembali ponselnya dalam tasnya.
"Kamu tahu, dia itu sangat posesiv... Beda banget sama kamu yang sangat cuek sama aku dulu"
"Hmm... Aku pergi Ar, semoga kamu cepat pulih dan kamu bisa jelasin apa yang telah kamu lakukan padaku " ucap Ziana berdiri, ia mengusap tangan Ardian sebelum dia melangkah pergi.
Tanpa Ziana sadar Ardian mengeluarkan air matanya.
~_~
Ziana sampai di rumah, dia masuk dan langsung pergi ke kamarnya.
"panas banget, berendam enak kali ya" ucapnya . Meletakkan tas dan jaketnya di atas sofa. Kemudian dia langsung masuk kedalam kamar mandi.
Sekitar 30 menit, ziana menghabiskan waktunya di dalam kamar mandi. Saat keluar kamar mandi, ziana di kagetkan dengan berdirinya seorang wanita yang tidak di kenal di depan pintu kamar mandi.
__ADS_1
"Siapa kamu?"tanya Ziana.
"Maaf nona, saat tidak punya banyak waktu untuk menjawab pertanyaan nona itu. Mari ikut saya..." ucap wanita itu mengiring ziana untuk duduk di sofa.
"Ehhh... Apa - apaan ini... Jangan lancang ya kamu!"Ziana menepis tangan wanita itu.
"Nona tolong jangan mempersulit pekerjaan saya, saya tidak mau bermain ekstrim sama nona."ucap wanita itu dengan nada dingin.
"tapi..."
"Nona!!"panggil wanita itu. Nada itu terdengar sangat menyeramkan bagi Ziana. Akhirnya Ziana pun mengikuti semua perlakuan wanita itu.
"Seenarnya kamu ini mau apain saya sih... Ini dari tadi kok tubuh saja di pijit - pijit gini?" Ziana merasa heran.
....
"Baiklah saya nggak akan bertanya lagi. Tapi pijitan kamu enak, saya suka"ucap Ziana yang tidak mendapatkn jawaban sepatah kata pun dari wanita itu.
Sekitar satu jam lamanya, wanita itu teah selesai menyelesaikan tugasnya. Dia pun membangunkan Ziana yang sudah tertidur.
"Nona... Bangunlah" ucapnya.
Dengan perlahan ziana membuka mata dan dia menatal wanita itu heran. "apa kau sudah selesai? "tanya Ziana dengan nada sebal.
Ziana menatap paper bag itu. " apa Arsen yang menyuruhmu?"dan wanita itu pun mengangguk.
"Pantesan kau sangat datar... Sesuai dengan bosmu"dengus Ziana mengambil paper bag itu kemudian masuk kembali kedalak kamar mandi.
saat tiba di kamar mandi, Ziana sangat kaget saat melihat wajahnya yang sudah di rias dengan sangat cantik.
"Kerjanya sangat bangus" ucapnya senang.
Setelah ganti pakaian, ziana pun keluar kamar mandi dan wanita itu kembali mengarahkannya untuk duduk di meja rias miliknya.
"Maaf nona saya akan menata rambut anda" ucap wanita itu
"ternyata kamu bisa ngomong sopan juga ternyata"wanita itu hanya tersenyum dan melanjutkan pekerjaannya.
~_~
"Ini kamu mau bawa saya kemana sih?... Dari tadi kok nggak sampai - sampai" ziana sudah benar - benar kesal dengan wanita yang di kirimkan oleh suaminya itu. Bagaimana nggak kesal, semua pertanyaan Ziana satu pun tidak ada di jawabnya, yang di lakukan wanita itu hanya mengarahkan dan diam.
"Maaf nona, saya akan menutup mata anda sebentar." ucap wanita itu yang memperlihatkan sebuah kain kecil di tangannya.
__ADS_1
"Tidak mau, kamu jangan aneh - aneh ya... Jangan mentang - mentang saya diam saja dari tadi terus kami bisa semena - mena gitu aja" kata Ziana.
"Maaf nona tapi ini perintah" dengan sedikit paksaan wanita itu pun berhasil menutup mata Ziana.
Dengan langlh perlaham wanita itu mengiring Ziana untuk ke suatu tempat.
"Ini kamu bawa saya kemana sih... Dari tadi jalan mulu daya capek!... Udah saya nggak sanggup jalan lagi" ucap Ziana menghentikan langkahnya dan hendak membuka penutup matanya.
LJangan di buka nona, kita sudah sampai."Cegat wanita itu, memutar bada Ziana dan membuka penutup matanya.
"Nanti saat nona mendengar ada suara di belakang anda, baru nona boleh berbalik, ok!" intrupsi wanita itu.
"Iya... Eh kamu mau kemana?"tanya Ziana saat melihat wanita itu melangkah mundur.
"Tugas saya sudah selesai nona, semangat!" balas Wanita itu memeberikan senyum cantiknya pada Ziana.
"Suara apa sih?... Kalau suaranya nggak muncul - muncul gimana?"gumam Ziana penuh keraguan.
Treeezzzz...
"ASTAGA!!!" kaget Ziana saat mendengar bunyi yang ada di belakangnya.
Dengan perlahan Ziana berbalik dan dia tambah kaget saat melihat Arsen yang sudah bersimpuh di hadapannya dengan setangkai bunga mawar merah.
"Ars? Ini..."
"Ayo cepat ambilah, kakiku sudah sakit berdiri seperti ini"ucap Arsen, dengan polosnya Zina pun mengambil bunga itu.
"Kamu nga..."
"Diam dan ikuti saja semuanya"bisik Arsen, meraih tangan Ziana dan megandengnya. Membawa Gadis itu ke tempat piano.
"Duduklah"Arsen mempersilahkan Ziana duduk dan dia pun ikut duduk di sebelah gadisnya itu.
"Aku harap kamu suka dengan lagu yang akan aku mainkan ini"ucap Arsen dan dia pun mulai menekan tuts piano yang ada di hadapannya saat ini.
Ziana mengangguk dan terharu melihat Arsen yang sedang sangat serius memainkan lagunya.
Sesekali Arsen pun menoleh dan tersenyum manis pada Ziana. Mungkin ini adalah senyum terbaik pertama yang di tunjukinya pada Ziana.
'Desiran apa ini, kenapa sangat menyukai senyumnya it dan kenapa juga jantungku berdebar seeprti ini?... Dulu dengan Ardian aku tidak seperti ini.... Ya allah apakah aku sudah.... Ah tidak mungkin...' pikir Ziana dalam hati, dia benar - benar di buat galau oleh Arsen malam ini.
Entah kenapa pria itu berubah menjadi semanis ini malam ini.
__ADS_1