
Menantimu hingga saat...
Cintaku temukan dirimu...
Usai sudah.. sampai di sini...
Berdiri melabuhkan asmara..
Menikah denganku...
Menempatkan cinta...
Melintasi... perjalanan usia..
Menikah denganmu..
Menetapkan jiwa..
Bertahtakan kesetiaan cinta...
Selamanya...
Menantimu (menantimu) hingga saat (hingga saat)
Cintaku (cintaku) temukan dirimu...
Usai sudah... sampai disini..
Berdiri melabuhkan asmara...
Menikah denganku...
Menempatkan cinta...
Melintasi... perjalanan usia...
Menikah denganmu...
Menetapkan jiwa...
Bertahtakan kesetiaan cinta
Selamanya (oh)~
Menikah denganku (menikah denganku)
Menempatkan cinta (menempatkan cinta)
Melintasi perjalanan usia...
Menikah denganmu (menikah denganmu)
Menetapkan jiwa (menetapkan jiwa)
Bertahtakan kesetiaan cinta
Selamanya (oh na na na)~
Arsen pun menghentikan permainan pianonya, ia bernyanya sambil berdiri dan mengelilingi Ziana. Arsen berdiri di hahadap Ziana.
Menikah denganku...
Menempatkan cinta...
Melintasi perjalanan usia....
Menikah denganmu...
Menetapkan jiwa...
Bertahtakan kesetiaan cinta
Mengeluarkan sebuah kotak putih dari dalam daku celananya, Arsen pun mulai bersimpu di depan Ziana.
__ADS_1
Ziana menutup mulutnya tak percaya dengan apa yang di lihatnya saat ini..
Menikah denganku (selamanya)
Menempatkan cinta (menempatkan cinta)
Melintasi perjalanan usia...
Menikah denganmu (na na na)
Menetapkan jiwa (na na na)
Bertahtakan (na na na) kesetiaan cinta
Selamanya.
"Mau kah kamu menikah kembali denganku dan kali ini tidak ada keterpaksaan atau karena hal lain selain rasa ingin saling memiliki....."
"Kalau kamu mau, ambil dan pakailah cincinya!" ucap Arsen, dia banar - banar sangat grogi saat mebgatakan hal itu. Tapi dengan topengnya yang dingin dia pun berhasil menutup rasa gugupnya.
"Kenapa aku harus aku yang memakainya?"tanya Ziana. Dan dengan kata - kata itu berhasil membuat Arsen menoleh kaget.
"APA?..."
"Kenapa harus aku yang memakainya?"Ziana mengulang pertanyaannya.
"Jadi kau tidak mau menikah lagi denganku? Tc... Sudah ku duga, baiklah lupakan saja." balas Arsen hnedak berdiri. Namun, dengan cepat - cepat Ziana menahannya.
"Tc, kamu ini niat nggak sih ngelamarnya?" tanya Ziana.
"Apa kau tidak melihat niatku? Sudah lah, lupakan sajanaku sudah tau kalau kau juga tidak akan mau... Kau pasti belum bisa melupakannya"ucap Arsen.
Ziana menarik kerah baju Arsen. Mengecup bibir pria itu sekilas dan tersenyum. Arsen sangat kaget saat mendapatkan perlakukan seperti itu.
"Bodoh" ucapnya.
"Kau?" Arsen menatap ziana dalam, dia mencba membaca pikiran gadis itu dari tatapan matanya.
"Aku tidak mau memakainya sendiri, aku mau kamu yang pakaikan."bisik Ziana tersenyum malu.
Dengan senang hati Arsen pun mekaikan cincin itu yang ternyata sangat pas di jari Ziana.
"Pas.. Kamu tau dari mana ukuran jariku?"tanya Ziana tersenyum melihat jarinya.
"Dari hati," balas Arsen ,menarik tubuh Ziana masuk kedalam pelukannya.
"I LOVE YOU"bisik nya, Ziana menganggukkan kepalanya.
"Jadi kita akan menikah lagi?"tanya Arsen melepaskan pelukannya, dan dengan cepat Ziana menggelengkan kepalanya.
"Kenapa? Bukannya tadi kmau sudah menyetujuinya?"tanya Arsen bingung.
"Bukankah kita sudah mneikah? Lalu untuk apa menikah lagi?"tanya Ziana.
"Tapi..."
"Aku sudah ikhlas menerimamu sebagai suamiku dan ayah dari anak - anakku kelak" ucap Ziana. Arsen terperangah mendengar penuturan istrinya itu.
"Jadi...."
"Apanya yang jadi?"tanya Ziana.
"Apa kamu sudah mulai mencintaiku?"tanya Arsen. Ziana pun mengangguk dan tersenyum.
"benarkah?"Arsn langsung memeluk Ziana erat
"Terima kasih" ucapnya, di kecupnya kepala ziana berulang kali.
PROK... PROK... PROK...
Ziana kaget mendengar suara tepuk tangan , dengan perlahan ia pun melepaskan pelukan mereka dan lampu pun menyala.
"Oma? Sila? Kalian?"Ziana bingung kenapa oma dan adik iparnya bisa berada di sini.
__ADS_1
"Selamat ya..." ucap oma tersenyum haru. Rasa bahagia oma tidak bisa di ucap kan dengan kata - kata. Dia bersyukur akhirnya cucu nya bisa hidup bahagia.
Ziana pun menghampiri Oma dan memeluknya. " oma bohong ya sama zia? Katanya oma akan ke paris tapi..." ziana menatap oma dengan tatapan mengintimidasi.
"Ini semua rencana Sila nak. Dia yang merencanakan ini semua" balas oma. Ziana pun mengalihkan pandangannya pada Sila.
"hehe... Sorry kak, habisnya aku geram liat kalian nggak ada perkembangan gitu." balas Sila nyengir.
"Thank you ya.." ucap Ziana memeluk Sila.
~_~
"Kenapa harus di majuin sih..." dumel Ziana yang sedang mempacking pakaiannya dan Arsen.
"Apanya... Ini tuh udah telat banget tau nggak, seharusnya kita perginya 6 bulan yang lalu" balas Arsen yang sibuk dengan laptopnya.
Pugh!
"Gimana mau pergi 6 bulan yang lalu, kamu aja serem gitu sama aku" dengus Ziana.
"Itu perasaan kamu saja, padahal aku selalu baik sama kamu" balas Arsen yang masih fokus dengan kerjaannya.
"Bodoh ah nyebelin"dengus Ziana yang kembali fokus dengan kegiatannya.
"Oh iya, jangan lupa untuk ikut ke peresmian dengan ku besok" ujar Arsen tiba - tiba.
"Peresmian apa?" tanya Ziana.
"kamu akan tahu besok" Ziana pun memanyunkan bibirnya. Dia benar - benar kesal dengan suaminya itu.
"Jangan seperti itu, atau kau akan menyesalinya nanti."
"Jangan harap!"ucap Ziana berdiri dan hendak ke luar kamar.
"Mau kemana?"tanya Arsen
" Ke kamar Oma" jawab Ziana.
"Ngapain? Sini aja" kata Arsen mengalihkan tatapannya dari laptopnya.
"Malas, ngomong aja sana sama laptop kamu itu" ketus Ziana dan berlalu keluar kamar.
"dasar gadis aneh" gumam Arsen.
~_~
"Katanya kita mau ke peresmian , terus kenapa kita malah ke toko aku?"tanya Ziana bungung saat dia menyadari arah mobil Arsen.
"Iya, kita mampir dulu" jawabnya.
"Jangan bilang kamu mau ambil bunga gratis dari sana.. Ihh nggak modal banget jadi Bos" ledek Ziana.
"Jangan Soudzon, gak baik" balas Arsen yang kini memakirkan mobilnya di depan toko bunga Ziana.
"Ayo turun!" ajak Arsen dan langsung keluar dari mobilnya.
Arsen menunggu Ziana di depan mobil, namun, istrinya itu tidak kunjung keluar juga.
"Apa yang dia lakukan di dalam?"tanya Arsen saat melihat Ziana yang masuk duduk manis dalam mobil. Arsen pun berjalan ke arah sisi mobil dan membuka kan pintu mobil untuknya.
"Ayo kenapa malah bengok?"
"Tunggu Ars, kayaknya ada yang salah deh.."ucap Ziana.
"Salah gimana?"tanya Arsen.
"Iya salah, ini kan benar alamat toko aku tapi... Ini bukan toko aku.... Di mana toko aku ?"gumamnya yang tidak mengerti dengan apa di lihatnya.
"Sudah jangan banyak tanya. Ayo kita masuk"ajak Arsen, meraih tangan Ziana.
"Tapi..."
"Yasudah, kau tinggal saja" Arsen kembali menutup pintu mobil.
__ADS_1
"Apa - apaan ini?"gumam Ziana yang tidak mengerti. Mau tidak mau, Ziana pun mengikuti Arsen dari belakang.
"Tunggu!!"