ARSEN The Good Husband

ARSEN The Good Husband
Bab 41


__ADS_3

Keesokan paginya, Arsen terbangun lebih dahulu. Kedua matanya mengerjap menyesuaikan dengan cahaya yang masuk dari setiap cela yang ada di kamar Villa itu. I masih melihat Ziana tertidur pulas dengan posisi memeluknya.


"Dia masih belum bangun?"Arsen memperhatikan tu uh polos Ziana yang masih terbalut selimut. Ia memandangi wajah Ziana kemudian mencium keningnya, Arsen memeluk Ziana dan tersenyum seakan ada sesuatu yang menyiratkan kebahagiaan di kedua mata laki - laki itu.


Aesen beranjak bnagun dan meraih sebuah cermin kecil di atas meja.


Ia memperhatikan pantulan bibirnya yang terluka akibat gigitan Ziana. Kemudian, ia memperhatukan tubuhnya yang banyak sekali goresan merah akibat cakaran kuku Ziana.


"Apa memang harus begini?"Arsen menyentuh setiap bekas luka itu.


"Wah, dia bnar - benar liar sekalo"Arsen mendesis pedih akan luka yanh menggores di tubuhnya itu.


"Siapa yang liar?"tiba - tiba suara Ziana menyaut hingga membiat laki - laki itu terkejut. Arsen menoleh dan elihat istrinya itu sedang melototkan kedua matanya seakan hendak menerkamnya hidup - hidup.


"Bukan siapa - siapa. Kenapa kau sudah bangun?"tanya Arsen


"Kenapa memangnya? Apa kau mau aku tidur untuk selamanya?"seru Ziana seraya beranjak dari tidurnya.


"Apa kau tidak bisa bicara pelan sedikit? Telingaku sakit mendengarnya."ujar Arsen.


"Siapa yang kamu maksud liar? Apa aku?"tanya Ziana seraya memegang erat selimut yang masih membaluti tubuhnya.


"Sudah tau masih aja bertana!" seru Arsen.


"Kenapa kamu mengataiku liar? Aku liar apanya?"tanya Ziana.


"Lihatlah, tubuhku penuh dengan bekas goresan cakaran dari kukumu itu. Seperti macan saja."gerutu Arsej , Ziana terkekeh di buatbya.


"Tidak usah tertawa, tidak ada yang lucu!"seru Arsen sembari mengusap kasar wajah Ziana.


"Menyebalkan." gerutu Ziana.


"Ars, aku lapar."ucap Ziana dengan memelas. Bahkan bunyi suara perutnya terdengar hingga ke telingan Arsen


"Bangun tidur langsung minta makan. Mandi lah dulu, setelah itu baru kita makan" perintah Arsen.

__ADS_1


"Baiklah." Zia a melilitkan selimut ke seluruh tubuhnya dan hendak beranjak dari tempat tidurm namun, ia mendesis akan rasa nyeri yang ia rasakan.


"Kenapa?"tanya Arsen yang tidak lepas memperhatikan Ziana.


"Tidak apa - apa"jawab Ziana dengan melebarkan senyumnya.


"Aduhhh, sakit sekali" gumam Ziana. Ia berlalu meninggalkan Arsen dan perlahan - lahan berjalan masum ke dalam kamar mandi.


Arsen mengenakan pakaiannya dan mandi di kamar mandi yang letak ha ada di dekat dapur Villa itu.


~_~


Ziana dan Aesen hendak sarapan di balkon atas Villa itu. Ziana berdiri di dekat oembatas balkon, kedua matanya menyapu ke indaham pegunubgan dari atas sana. Demi apa pun suasana itu sangatlah di gemari oleh Ziana. Bau tanah akan aliran air dari pegunungan begitu menenangkannya dan seakan berdamau dengan jiwanya


"Ars, pemandangannya sangat indah sekali"Ziana menghirup dalam - dalam bau alam yanh ia rasa layaknya surgawi itu.


"Katanya kau lapar. Ayo kemari dan makanlah!" akta Arsen menarik tangan Zinaa dan mengajaknya untuk duuk di meja yang sudah di siapkan dengan begitu banyak menu makan di atasnya.


Ziana duduk berhadapan dengan Arsen, ia memperhatikan Arsen yang sedang melipat lengan bajunya. Karena saat itu, Arsen mengenakan kaos lengan panjang berwarna hitam.


"Apa apa kau melihatku seperti itu?"tegur Arsen


"tidak, siapa juga yang sedang memperhatikanmu"ziana mengalihkan pandangannya. Ia mulai mengambil makanan untuk Arsen dan juga dirinya.


~_~


Ziana dan arsen mulai menyantap sarapan mereka. Angin pagi itu menari-nari di sana hingga membuat rambut Ziana yang tergerai panjang itu menjadi sedikit berantakan


Arsen mengunyah makanannya perlahan-lahan sembari memperhatikan Ziana yang sedang makan dengan begitu lahapnya .


~_~


Seusai sarapan, arsen mengajak Ziana jalan-jalan di sekitar villa itu. Arsen memperhatikan raut wajah istrinya yang nampak begitu bahagia.


" dia benar-benar menyukai suasana seperti ini?" arsen menarik kedua sudut bibirnya hingga membentuk sebuah senyuman.

__ADS_1


Arsen dan Ziana berjalan-jalan hingga sore hari. mereka mengobrol bercanda dan diakhiri dengan adu mulut dan terus seperti itu rasanya hal itu. sudah wajar dan menjadi perekat di antara hubungan mereka.


Meskipun tidak seromantis pasangan suami istri lainnya. namun rasanya begitu menggemaskan akan tingkah konyol mereka berdua. seakan ada kesenangan sendiri saat melihat mereka berdua. Dia benar-benar menghabiskan waktu tanpa ada yang mengganggu mereka berdua.


Burung-burung yang ndak kembali ke sangkarnya ,menandakan bahwa Bentang akan segera datang.


Kedua mata arsen melirik ke arah jarum jam yang melekat di pergelangan tangannya.


" sudah sore Ayo kita kembali" ajak arsen Seraya mengulurkan tangannya kepada Ziana. Ziana mengiyakan dan saat anda kembali, Ziana melihat Sunset yang membentang di langit.


"Tunggu dulu, Ars. Tolong fotokan aku, sunsetnya mulai terlihat."pinta Ziana.


"Mana ponselnya.?"tanya Ziana.


"Pakai ponselmu saja dulu" Ziana memundurkan langkah kakinya untuk mencari view yang tepat. ia berdiri di samping pohon tua yang akarnya terlihat timbul hingga ke permukaan tanah.


"Hati-hati jangan terlalu ke belakang karena di bawah itu jurang!" Kata arsen Ziana mengiyakan, kemudian arsen mengambil ponsel miliknya yang terselip di saku celananya.


Lalu. ia memfokuskan ponselnya tersebut untik memotret Ziana, bahkan berulang - ulang kali.


"Apa sudah, Ars?"tanya Ziana.


"Sudah"


Ziana dengan girangnya hendak menghampiri arsen. namun, kakinya tiba-tiba terlilit akar pohon hingga membuat dirinya hendak terjatuh .


"ZIA!"Arsen berteriak dan dengan cepat menarik tubub Ziana.


"Aku bilang hati - hati! Kenapa kau begitu ceroboh sekali!" Arsen berteriak dengan tidak sadar.


"Maaf Ars, tadi kakiku telilit akar pohon ini"ucao Ziana.


"Kenapa tidak berhati - hati? Kalau kau jatuh kebawa bagaimana?" teriak Arsen Lagi,Ziana hanya diam dan menatap Arsen heran.


"Maaf" cicit Ziana.

__ADS_1


"Ayo kembali!"Arsen menarik tangan Ziana.


__ADS_2