ARSEN The Good Husband

ARSEN The Good Husband
Bab 31


__ADS_3

Ziana memijit kepalanya yang terasa sedikit pusing. Potongan memori saat dia di seka pun berkelebat di ingatannya.


"tidak, tidak... Bagaimana mungkin dia tega melakukan ini padaku.." gumam Ziana. Air matanya mulai menetes begitu saja saat mengingat percakapannya saat di sekap kemaren dengan seseorang yang telah membuatnya sangat merasakan sakit.


"Kenapa? Kenapa kau tega melakukan ini? Apa salah ku?"racau Ziana.


"Tidak, tidak... Aku harus menyelesaikan semua ini, aku tidak akan diam saja..." kata Ziana. Dengan keadaan yang masih lemah Ziana bangun dan duduk, dia mencabut selang infus yang tertancam di pergelangan tangannya.


BRUGHH..


"AWWW..." Teriak Ziana saat dia mulai berdiri.


Ceklek.


"APA YANG KAU LAKUKAN?" teriak Aries yang kaget saat masuk kedalam ruangan Ziana. Sebenarnya Aries tdiak sengaja lewat di depan ruangan Ziana, taoi hati nya tergerak untuk sekedar mengecek keadaan gadis itu. Dan yang benar saja, dia kaget saat melihat Ziana yang terjatuh ke lantai.


"Dokter!"ucap Ziana pelan.


Dengan gerakan cepat Aries pun membantu Ziana untuk berdiri.


"Kamu kenapa bisa jatuh?"tanya Aries membenarkan posisi Ziana.


"aku harus pergi Dok, ada urusan yang sangat penting untuk di seesaikan" akta Ziana.


"Tidak boleh, kamu baru sadar .


"Tapi dok..."


"apa kamu tahu, aku tidak di beri pilihan apa pin oleh suamimu"kata Aries yang kembali memasangan jarum infus ke tangan Ziana.


"kenapa malah di pasang lagi sih dok? Lepas aja aku sudah sembuh kok" kata Ziana.


"Masa kau takut hanya dengan jarum yang sangat kecil ini"kata Aries dengan nada meledek.


"Bukan gitu dok... Ya sudahlah. Eh iya dok apa anda melihat pria yang menjagaku kemaren?"tanya Ziana.


Arie langsung terdiam, dia tidak tau harus mengatakan apa. Tidak mungkinkan dia mengatakan kalau suaminya sedang pergi mempertaruhkan nyawanya demi keselamatan keluarganya.


"Itu... Hmm... Itu dia pamit pergi ke kantor" balas Aries. Ziana menatap Aries curiga. Dia tahu Aries sedang berbohong.

__ADS_1


"Benarkah? Dokter tidak sedang berbohongkan?"tanya ziana yang sudah menangkap glagat aneh dari Aries.


"Iya... Apa kamu tidak percaya padaku?"tanya Aries.


"Bukan seperti itu Dok, tapi aku... Aku hanya bertanya saja" kata Ziana tidak enak hati.


~_~


Sambil terus bernegosiasi Arsen terus melangkah kecil untuk mendekati Sila. Dia tau kalau resikonya akan sangat fatal tapi klaau dia hanya diam saja, dia pasti hanya akan jadi mainan bagi orang yang sedari tadi menyuruh Arsen untuk mengingatnya.


"Sila, jangan berisik ok" bisik Arsen saat sudah sampai dekat Sila. Dia membuka ikatan pada Sila dan dia juga memberikan sebuah pistol pada adiknya itu.


"Aku sedang tidak ingin main - main, kalau kau punya urusan denganku maka ayo keluar lah tidak usah main petak umpet begini!" kata Arsen.


"Jangan senang dulu kawan, aku tahu kau sudah sedikit lega karena sudah bisa melepaskan adik kesayangan mu itu tapi ingat lah Oma dan asistent kesayanganmu masih berada dalam genggamanku!" ucap Orang itu.


"Benarkah, apa kau yakin dengan semua itu? Jangan bermain lagi denganku Ardian, ayo keluar dan selesaikan masalahmu denganku!"kata Arsen ketus.


Tidak ada suara,Arsen Yakin kalau Ardian sekarang sedang mengecek keadaan anak buahnya yang sudah tumbang semua oleh anak buah Arsen.


Sebenarnya Arsen tadi sudah ingat dengan tpat uni dan dia juga bisa mengenali suaranya. Tapi Arsen hanya berpura - pura bodoh agar ardian tidak mengetahui langkahnya.


"HEI BRO, APA KABAR ? JANGAN DIAM SAJA! BUKANKAH KAU INGIN BERMAIN DENGANKU! AYO KITA MAIN!!"teriak Arsen.


"Sila, kamu keluarlah dari sini, kakak ingin menyelesaikan masalah kakak dulu... Di depan sudah ada mobil dan di sana sudah ada Oma dan Bram."bisik Arsen.


"Tapi kak..."


"Kamu tidak usah memikirkan kakak, kakak akan baik - baik saja. Dan bawa ini, jika ada yang menghadang makan tembak saja, ok"kata Arsen. Sila mengangguk dan mulai berjaaln meninggalkan Arsen yang saat ini terlihat sedang mencari keberadaan Ardian.


"ARDI, KAU DIMANA? AYO KITA MAIN TEMBAK - TEMBAK AN SEPERTI DULU!!"teriak Arsen yang sengaja ingin memancing Ardi keluar.


Plug~


Seseorang melemparkan sebuah kertas pada Arsen, dengan segera Arsen menganbil kertas itu dan mulai membacanya.


~DATANGLAH KE TAMAN BELAKANG SEKOLAH DASAR KITA DULU, SEKARANG!!!~


"Apa lagi ini?"Arsen meremas kertas itu kuat, dia tidak habis pikir dengan jalan pikirnya Ardi. Entah kenapa pria itu sangat terobsesi dengan dirinya. Padahal dulu mereka adalah sahabat karip, tapi sejak hari itu, Ardi seperti menjauh dan menghilang dari peradabannya.

__ADS_1


Tidak butuh waktu lama bagi Ardi untuk sampai di tempat yang di maksud Ardi. Dengan langkah pelan dan hati - hati Arsen berjalan mendekati taman itu.


"Apa mau mu sebenarnya?" Arsen menghentikan langkahnya saat mendengar suara seseorang yang sangat familiar di telinganya.


"Kenapa kamu melakukan ini semua?"Lanjutnya dan kali ini terdengar seperti sedang menangis.


"Aku hanya mau kematian Arsen marvino dan karena ulahmu aku hampir gagal mendapatkannya."balas seorang pria.


"Tidak, tidak... Kamu bukan Ardian yang ku kenal, kemana Ardianku?"tanya Ziana yang tidak menyangka denga. Segala sikap kasar pria yang ada di depannya ini.


"HAHAHA... Ardianmu? Hei sadar lah wanita murahan, kau itu hanya alat bagiku tidak lebih" ucap Ardian.


"Dan inilah Ardian Prasetya sebenarnya!" kata Ardian tersenyum smirk.


Ziana menggeleng," Tidak... Tidak mungkin" ucapnya.


"Apa kau pernah mencintaiku? barang sedikit saja"kata Ziana yang berjalan mendekati Ardian.


Ardian tidak menjawabna, dia hanya diam.


"JAWAB!!" bentak Ziana.


"Hiks... Kamu jahat Ar. Aku mencintaimu.... Aku mencintaimu... Aku mencintaimu"ucap Ziana histeris di depan Ardian. Ardian hanya diam dan memperhatikan segalanya.


"Kenapa?... Kenapa kamu tega berbuat seperti ini padaku?" Sekarang Ziana menguncang kerah baju Ardi.


"Apa yang di lakukan gadis itu di sini? Kenapa dia bisa berada di sini?" ucap Arsen yang masih saja memperhatikan percakapan mereka dari jauh.


"Aku tidak ingin menyakitimu Zia, jadi kumohon mengertilah posisiku!"kata Ardian denga nada lembut.


"Apa? Kamu bilang tidak mau menyakitiku? Lalu apa yang kamu lakukan di ruangan itu? Kau menampar dan memukulku bagaikan tubuhku ini adalah samsak yang bisa dengan seenaknya kau pukul dan kau tendang!" ujar ziana.


"Hmm... Kau benar, kau itu hanya seperti samsak bagiku dan terus lah seperti itu" ucap pria itu.


"Cih, jangan harap. Karena sekarang aku sudah tahu, sebenarnya Arsen tidak salah apa pun tapi karena apa kamu ingin melihatnya menderita"kata Ziana.


"KAULAH YANG JAHAT ARDIAN PRASETYA! KAULAH YANG MEMBUNUH ADIKMU SENDIRI!!"teriak Ziana di depan wajah Ardi.


"DASAR ******!!" Ardian sudah mulai emosi, dia pun mendorong tubuh Ziana kuat hingga gadis itu jatuh tersungkur.

__ADS_1


"BERANINYA KAU!!"


__ADS_2