
Ziana berjalan gontai menelusuri lorong rumah sakit sambil memegang buket bunga mawar putih. Sudah satu minggu dia tidak melangkahkan kakinya di lorong ini.
Ziana membuka pintu ruangan itu dengan pelan, berjalan masuk kedalam dan mengganti bungan dalam vas yang sudah layu.
"Lihat lah, bunganya sudah layu dan kamu tidak juga mau bangun untuk menggantinya."ucap Ziana.
"Betah banget ya tu mata , tertutup terus." Ziana berjalan ke tong sampa dan membuang bunga yang sudah layu itu.
"Bangun dong, gak sopan banget tamu datang tapi nggak di sambut" lanjutnya dan berjalan mendekati ranjang pasien.
"Mimpi kamu terlalu indah ya, makanya kamu nggak mau bangun" Ziana memegang tangan Ardian.
Menatap pria itu dalam diam, kemudian menghela napasnya.
"Aku lagi bingung sekarang Ar.... Ayo bangun dan dengerin aku cerita.." Ziana menghapus air matanya yang menetes begitu saja.
"Ar, kenapa ya aku bisa kangen sama kamu.... Padahal aku tahu kalau kamu itu hanya memanfaatkan aku aja tapi...." Ziana tidak sanggup melanjutkan ucapannya.
FLASBACK ON
Ziana berlari mendekati Ardian yang sudah jatuh dan berlumuran darah.
"AR... Ardi!!.. Bangun! Kamu nggak boleh meninggal gitu aja. Kamu harus jelasin dulu semuanya sama aku!!" teriak Ziana menguncang tubuh Ardian yang sudah tidak sadarkan diri.
"Zia, tenang lah. Jangan begini" Arsen menarik tangan Ziana dan membawanya ke dalam pelukannya.
"Nggak... Aku nggak boleh biarin dia meninggal Ars... Aku harus dengerin sendiri, apa alasan dia melakukan ini semua pada Ku?... Hiks..." ucap Ziana
"Tenang lah..." Arsen mencoba menenangkan Ziana, dia mengerti apa yang di rasakan Ziana.
~_~
Arsen dan Ziana, berdiri dengan gelisah di depan ruang operasi. Enatah kenapa Arsen merasa sangat kacau saat ini, hati dan pikirannya sedang dalam keadaan yang tidak bisa di aja kompromi. Pikirannya menginginkan Ardian meninggal dan tidak bisa di selamatkan, namun dalam hatinya Arsen berasa sangat bersalah dan sedih melihat sahabat masa kecilnya itu tidak sadarkan diri dan semua itu karena ulahnya sendiri.
"Gimana kalau dia nggak bisa di selamat?"ucap Ziana pelan.
__ADS_1
"Bisa, dan aku pastikan itu." tegas Arsen.
Ziana hanya diam, dia menyandarkan tubuhnya ke dinding. Tubuhnya terasa sangat lemas dan pandangannya mulai berkunang.
' Tolong jangan sekarang...' batin Ziana.
"Kamu kenapa?"tanya Arsen yang menangkap gelagat mencurigakan dari ziana.
"Tidak, ada apa - apa.." jawab Ziana, memaksakan senyumnya.
Ceklek~
Mereka berdua pun menoleh saat mendengar pintu operasi di buka.
"Bagaimana keadaannya?"tanya Arsen.
"Dok,apa operasinya lancarkan?"tanya Ziana.
"Alhamdulillah, operasinya lancar tapi pasien mengalami koma..."
"Saya juga tidak tahu tuan... Tapi kita akan melakukan yang terbaik.
"Baik dok."
"Kalau begitu saya permisi.."pamit dokter
Ziana berjalan mendekati jedenla ruangan itu dan tak lama dia pun kehilangan ke sadarannya. Arsen pun sangat panik dan dengan cepat membawa tubuh Ziana ke ruang UGD.
"Dokter!!"teriak Arsen, meletakkan tubuh Ziana dengan pelan di atas ranjang pasien.
"Dia kenapa tuan?"tanya seorang suster yang datang menghampiri Arsen.
"Dia tiba - tiba pingsan... Oh iya, belum lama ini dia habis operasi... Cepat periksa dia!!" seru Arsen dengan sangat panik.
~_~
__ADS_1
Setelah mengobati lukanya, Bram bergegas berjalan ke ruangan Sila dan Oma. Dia tidak tenang jika belum memastikan kedua wanita itu aman.
"Bram?"tanya Sila yang menatap Bram dengan tatapan aneh, bagaimana tidak. Sekretaris kakaknya itu membuka pintu kamar rawatnya itu datang dengan keadaan yang sangat kacau.
"Bagaimana keadaanmu? Apa kamu sudah merasa baikan? Apa masih ada yang belum di obati?"tanya Bram dengan raut khawatir.
"Aku udah di obati kak, ini cuba lecet aja. O iya bagaimana keadaan Oma?"tanya Sila.
"aku belum tahu, setelah ini aku akan pergi ke ruangan nyonya" kata Bram.
"Baiklah, kalau begitu aku ikut" Sila hendak duduk.
"eh tidak usah, mending kamu istirahat agar kita bisa cepat pulang" kata Bram.
"Baiklah, tapi kabari aku ya kak. Aku sangat khawatir dengan oma. Tadi oma tu ngeluh kakinya sakit terus" ujar Sila.
"Iya, kalau gitu kamu istirahatlah. Aku pergi" Bram pun berlalu keluar dari ruangan Sila.
Ruangan Oma Yuni tidak terlalu jauh dari ruangan Sila, jadi bram tidak membutuhkan waktu lama . Bram mengetuk pintu ruangan Oma Yun. Kemudian baru masuk kedalam.
Bram menatap kearah ranjang, dia sana sedang terbaring seorang wanita paruh baya dengan mata yang terpejam.
"bagaimana keadaan nyonya?"tanya Bram pada seorang suster yang sedang memeriksa selang infus Oma Yuni.
"Tidak ada terlalu serius, semuanya baik - baik saja. Ibu ini hanya terkena serangan panik yang sangat parah" jawab suster itu.
Bram pun mengangguk, dia sudah menduganya. " lalu bagaimana dengan kakinya?"tanya Bram lagi yang baru ingat perkataan Sila.
"Kakinya Sedikit retak, sepertinya kaki ibu ini seperti habis kena benturan kuat. Jadi untuk sementara kakinya terpaksa kami gips"jawab suster itu yang melihat laporan kesehata oma Yun.
Bram hanya mengangguk dan paham, sekarang tugasnya sudah selesai. Dia pun bisa beristirahat dengan tenang. Bram juga sudah memanggil semua pengawal untuk menjaga oma dan Sila.
~_~
Arsen duduk di tepi ranjang Ziana, dia benar - benar khawatir dengan gadis itu. Bagaimana dia bisa menahan rasa sakit selama itu. Masih terngiang di telinganya yang mengatakan kalau Ziana kabur dari rumah sakit dan Ziana juga mengalami pendarahan pada bekas operasinya.
__ADS_1
"Apa sebesar itukah cinta mu padanya?"gumam Arsen.