
Sekarang Perut Ziana sudah sangat besar dan dia pun sudah sering mengeluh rasa sakit. Dua hari yang lalu seua orang di buat cemas karena Ziana tiba - tiba teriak seperti akan melahirkan dan saat di bawa ke rumah sakit, ternyata itu hnayalah kontraksi palsu. Dan semenjak kejadian itu Ziana tidak di perboleh kan keluar kamar, dia hanya boleh berdiam diri di dalam kamar.
"Aku sangat bosan, mungkin duduk di taman belakang seru kali ya" gumamnya.
Dengan perlahan Ziana pun mulau bangkit dari duduknya. Dia turun ke lantai bawa dengan menggunakan lift. Sebenarnya Ziana takut naik kotak berjalan itu. Tapi mau bagaimana lagi, dia benar - benar sudah sangat bosan berada dalam kamar.
Saat baru keluar dari Lift Ziana melihat Bram yang sedang duduk di meja makan dengan muka yang di tekuk. Ziana pun menghampiri kaki tangan suaminya itu.
"Hai, kak Bram! Sedang apa kamu sendirian di sini? Dimana Arsen?"tanya Ziana yang menarik kursi di sebelah Bram.
"Tuan sedang mengambil berkas di ruang kerjanya" jawab Bram.
"Kenapa kamu keluar? Bukannya Tuan melarangmu keluar kamar?!"Bram menatap Ziana penuh selidik.
"Aku sangat bosan berada di dalam kamar terus, dan aku berniat ingin duduk di taman belakang sambil melihat taman bungaku" jawab Ziana tersenyum
"Iya sih, siapa pun pasti akan sangat bosan kalau berada dalam kamar terus. Tapi, Zia apa kau sudah minta izin sama tuan untuk keluar dari kamar?"tanya Bram yang memutar duduknya menghadap kearah Ziana.
"Belum kak, aku belum ketemu sama dia"jawab Ziana.
"Eh Zia maaf ,tapi itu ada sesuatu di rambutmu"kata Bram.
"Dimana kak?"Ziana berusaha mencarinya.
"Itu sebelah kiri, sedikit ke sana..." arahan Bram.
"Mana sih kak ?" Ziana masih belum bisa membuangnya.
"Sini biar aku saja" Bram pun berdiri dari duduknya dan membantu Ziana untuk membuang daun bungan yang melekat di rambutnya.
"BERANINYA KAU!!!" teriak Arsen yang baru keluar dari ruang kerjanya. Bram dan Ziana pun sangat kaget mendengar teriakan Arsen tersebut.
"Tu-tuan ini tidak seperti yang anda kira!!" ujar Bram
"Bram!! Beraninya kau mendekati istriku!"Arsen berjalan mendekati Bram dan mencengkram kerah bajunya.
"Ars ..."
__ADS_1
"Kamu diam!" Bentak Arsen.
Arsen menyeret Bram sedikit jauh dari Ziana, dia takut nanti Ziana terkena pukulan mereka.
Perdebatan antara Bram dan Arsen pun tak terhindari lagi. Bahkan mereka berdua mengabaikan Ziana yang sedari tadi memanggil nama Arsen.
"Tuan... Tuan... Nona Ziana sepertinya mau melahirkan." seorang pelayan tiba - tiba menghampiri dan memutuskn perdebatan antara Arsen dan Bram dengan raut wajah yang panik.
Arsen dan Bram pun menoleh padah Ziana yang sedang kesakitan.
Setelah Ziana mengeluh kesakitan ada bercak darah dan juga rasa mulas yang mengguncang perutnya dengan jarang. Arsen segera membawanya pergi ke rumah sakit, begitupun dengan Bram laki-laki itu diberi perintah oleh arsen untuk membawa keluarganya untuk menyusul ke rumah sakit .
~_~
Arsen kini terlihat berada di dalam ruang persalinan menemani Ziana yang sedari tadi menahan rasa sakit karena kontraksi. Sebisa mungkin arsen menenangkan istrinya yang saat ini jerutan - jeritan kecil itu lolos dari bibir istrinya.
"Ars, sakit" Ziana tidak henti merintih dan menahan rasa sakit yang begitu luar biasa hingga air mata dan peluh bercampur membasahi wajah wanita itu, tulang belulangnya seakan dicabut satu persatu dari tempatnya tatkala perutnya yang terasa kencang .
Arsen membiarkan tangannya menjadi sasaran cakaran kuku-kuku Ziana yang lentik hingga garis-garis merah berbekas perih di sana. Tubuhnya gemetar hebat nadinya berpacu seakan membuat nyawanya ingin sekali melayang saat melihat istrinya kesakitan seperti itu.
Ini masih terhitung pembukaan ke-5 setelah Seorang perawat memberi induksi agar lebih mempercepat proses persalinan, perlu menunggu beberapa jam lagi? Sementara perawat berkata bahwa bayi sudah siap dilahirkan setelah pembukaan 9. Rasanya arsen ingin mati saja, apa dirinya sekuat itu menyaksikan dengan kedua matanya sendiri istrinya yang tidak henti menjerit kesakitan? Tidak sedikit air mata yang tergenang di kedua sudut Mata Lelaki itu. Mungkin ini yang dirasakan oleh mamanya dulu saat melahirkan dirinya
Begitupun dengan Ziana, ini sungguh di luar Perkiraannya. melahirkan sungguh menyakitkan dari apa yang ia bayangkan terlebih lagi ini untuk kali pertamanya wanita itu melahirkan .
" tahan lah sayang " hanya kata-kata itu yang terucap dari bibir pucat arsen yang gemetar
" kamu tidak mengerti Bagaimana rasa sakitnya, jadi lebih baik kau diamlah! " Ziana memejamkan kedua matanya ia mencoba meresapi dan menikmati bagaimana saat perutnya kembali kencang saat calon bayinya berusaha mencari jalan keluar dari rahimnya yang hanya memiliki sedikit celah .
"Ibu, sakit..."
"Ars, sakit...." Ziana meracau, rambut dan agian - bagian tubuh Arsen yng mampu ia jangkau kini menjadi sasarannya saat rasa sakit yang mulanya meoanda hampir sepuluh menit sekali kini telah menjadi lima menit sekali.
"Aku tahu ini sakit, ini sudah takdir seorang wanita." ucap Arsen
"Diamlah, kau tau apa? Coba saja kau yanh menggantikanku!"rasa sakit itu tak bisa membuat Ziana mengontrol emosinya.
"Astaga salah lagi."
__ADS_1
2 jam berlalu arsen bergantian dengan sila untuk menunggu Ziana. Karena istrinya sendirilah yang meminta supaya ditemani oleh adik iparnya itu.
tubuh arsen yang masih gemetar terlihat berdiri di depan ruangan persalinan sembari tak henti melihat ke dalam ruangan dari balik kaca yang transparan yang terdapat di bagian atas pintu tersebut . Oma Yun, Tasya dan Bram. Mereka Sama halnya dengan arsen yang masih menunggu Ziana dengan penuh rasa was-was dan tidak sabar.
Namun tak lama kemudian Seorang perawat dan dokter masuk ke dalam ruangan bersalin yang ditempati oleh Ziana. Sila pun keluar dari sana sesaat setelah dokter menyuruhnya.
" Tuan absen Apa kau mau menemani istrimu di dalam, Tuan ?"tanya dokter Dani yang terlihat baru saja keluar dari ruangan dan menghampiri Arsen.
"Tentu saja, siapa yang akan membantu persalinan istriku?"tanya Arsen.
"Saya sendiri yang akan membantu persalinan nona Ziana, tuan" kedua mata Arseb membulat tidak percaya.
"Kau sendiri?" Dokter Dani menjawabnya dengan di ikuti anggukan kepala.
"Aku tidak mau kau yang membantu persalinan istriku!"seru Arsen.
"Dimana dokter Maya?"tanya nya kemudian.
" dokter Maya sedang mengambil cuti akhir tahunnya tuan"
" suruh dia kemari, aku maunya yang membantu persalinan istriku, Aku tidak mau kamu yang membantunya! " perintah arsen
"Tapi tuan, nona Ziana..."
" cepat panggilkan Maya suruh dia datang kemari! " bentaknya penuh perintah.
"Ars, biarkan dokter Dani yang membantu persalinan Zia!"tutur Oma
"Dokter Dani laki - laki dan aku tidak mau laki - laki manapun menyentuh istriku!"
"Ara, Ziana di dalam sedang ke sakitan, kenapa kamu malah seperti ini" lanjut Oma, merasa kesal dengan cucunya itu.
"Zia masih tahap pembukaan enam, jadi kita masih bisa menunggu Maya.
"Aku akan masuk menemani istriku." Arsen memasukkan kedua tangannya di dalam kantung celana, berjalan masuk ke dalam ruangan dengan tatapan angkuhnya.
"Dasar bocah keras kepala" umpat Bram.
__ADS_1