
Dengan malas, akhirnya Ziana melangkah kearah ranjang. Merebahkan tubuhnya dan memandang dengan pandangan menatap langit - langit kamar itu.
Tak butuh waktu lama, Arsen dan kelur dari kamar mandi. " Mandi sana, tidak ada gunanya jika kamu terus melamun. Kamu akan tetap jadi istriku., jadi tidak usah di pikirin lagi, pergilah mandi" jelas Arsen.
"Kamu mau apa?"tanya Ziana, memundurkan tubuhnya. Saat Arsen mendekatinya.
"Menurutmu apa yang akan aku lakukan?"Arsen terus mendekat. Dengan gerakan cepat Ziana turun dari ranjang dan menatap Arsen dengan tatapan tajam.
"Hei jaga pandanganmu, aku ini suami mu. Tidak sepantasnya seorang istri menatap suaminya seperti itu."
"Seprertinya kita harus bicara serius."kata Ziana.
'aku harus memperjelas semua, aku tidak mau kalau sampai terjebak dengan pria ini selamanya. Hanya Ardi yang berhak menjadi suamikum' batin Ziana.
"Bicaralah!"
"Ayo kita duduk di sana.." Ziana menunjuk ke arah sofa yang ada di dekat jendela.
Arsen tidak menjawab tapi dia berjalan kearah sofa. Ziana pun mengikuti Arsen,tapi dia memilih duduk agak jauhan dari pria itu.
"Apa harus sejauh itu?"tanya Arsen mengerutkan keningnya.
"Jangan perdulikan aku, mari kita bahas mengenai hubungan ini."kata Ziana.
"Apa yang harus di bicarakan lagi, bukan kah ini keinginanmu!"tuduh Arsen.
"Apa maksudmu?"
"Sudahlah, jangan sok naif gitu."ucap Arsen dengan nada dingin.
Ziana menarik nafasnya, " Aku ingin kita bercerai!"ucap Ziana tanpa basa basi.
Arsen menatap Ziana tajam.
"Aku tahu kamu juga tidak menginginkan pernikahan ini dan begitu juga denganku." Ziana melihat ekspresi Arsen, sebenarnya dia sangat ketakutan melihatnya. Namun, bagaimana lagi. Pernikahan bukanlah suatu hal yang bisa di permainkan, pernikahan adalah hubungan yang sangat di impikan oleh setiap pasangan yang saling mencintai.
"Kalau aku tidak mau bagaimana?"tanya Arsen dengan tatapan tajamnya.
Ziana terdiam, dia tidak tau harus bagaimana lagi.
"Alasan?"
"Mandilah, aku ngantuk."Arsen berdiri berjalan meninggalkan Ziana yang terdiam di tempatnya.
'Ada apa ini, kenapa dia tidak mau berpisah? Aku harus mengatakan ini semua pada Ardian siapa tahu dia punya solusi untuk masalah ini' batin Ziana.
Ziana berdiri berjalan hendak keluar kamar. "Kemana?"tanya Arsen yang sudah berbaring di atas ranjang.
"Aku akan ke kamarku"
"Untuk apa, Bram sudah mencek out kamar mu dan lihatlah barangmu sudah ada di kamar ini" jelas Arsen.
Ziana menoleh kearah tunjuk Arsen dan benar saja di sana sudah ada koper dan juga tas nya.
"Aku akan ke taman sebentar, "
__ADS_1
"Untuk apa?"
"Menjernihkan pikiranku" balas Ziana.
"Terserah, tapi kalau sampai terjadi sesuatu padamu aku tidak akan membantumu!" ujar arsen kembali menutup matanya.
"Tc, siapa juga yang butuh bantuannya"dengus Ziana, keluar dari kamar itu.
"Dasae keras kepala" ucap Arsen pelan.
Ziana berjalan menuju ke taman deoan Hotel, di sana terdapat sebuah kursi dengan penerangan warna lampu warna warni yang indah.
"Mungkin di sini saja" Ziana duduk di bangku itu dn muai menghubungi Ardian.
Sambungan pertama dan kedu, pria itu tidak menjawabnya dan saat panggilan ke tiga pada deringan ke 3 telpon itu pun di terima oleh.
"Hallo, Assalamualaikum" sapa Ardian.
"Waalaikum salam, sayang..."rengek Ziana, mendengar suara Ardian, Ziana tidak bisa menahan air matanya.
"Heiii... Kamu kenapa?"tanya Ardian dengan nada khawatir.
Ziana tisak bisa menjawabnya, dia terlalu sakit untuk mengatakan semuanyanpada Ardian.
"Zia, kamu kenapa? Apa semuanya baik - baik saja?"tanya Ardian.
"Ar, aku... Aku.... Aku sudah menikah..." ucapnya ragu.
Tidak terdengar suara apa pun disebrang saja. Mungkin Ardi terlalu kaget sehingga dia tidak bisa berbicara apa pun.
"Ar... Sayang..." panggil Ziana.
"kamu marah ya, ta-tapi...."
"HAHAHAHA...." terdengar suara seseorang tertawa dengan keras pada sebrang sana.
Ziana menjauhkan ponselnya dari telinganya dan menatap heran ponsel tersbut
"Kenapa kamu ketawa? Tidak ada yang lucu di sini"kata Ziana kesal
"Maaf sayang, tapi aku tidak menyangka kalau kamu akan melakukan misi yang aku suruh sampai sejauh ini"
"Ta...."
"Udah dulu ya sayang, aku ada urusan sampai jumpa di indonesia ya dan jangan lupakan oleh - oleh untukku!"potong Ardian, dan memutuskan panggilan secara sepihak.
Ziana mentap ponselnya heran, dia tidak mengerti dengan sikap Ardian. Bukankah sehrusnya dia akan marah dan kecewa, tapi apa ini?
"Ya allah aku harus bagaimana?"ucap Ziana mengusap wajahnya gusar.
Bukannya dapat solusi Ziana malah semakin pusing.
"apa aku lalui saja, tapi aku sangat tidak bisa kalau berdekatan terus dengan pria yang menyeramkan seperti dia." ucap nya.
"Siapa yang kamu bilang menyeramkan?"tanya seseorang tiba c tiba. Ziana sangat kaget dan dengan perlahan dia memutar kepalanya ke belakang.
__ADS_1
Deg!
Tepat di belakangnya Arsen berdiri sambil bersedakap dada. Arsen mendekati Ziana yang masih bengong melihatnya..
"Apa kamu tuli, aku bertanya siapa pria yang menyeramkan yang kamu bilang tadi?"tanya Arsen lagi.
"eh... Maaf, aku akan ke kamar dulu" Ziana berdiri dan hendak melangkah.
"Jangan pernah mengabaikanku" ucap Arsen menarik tangan.Ziana hingga gadis itu jatuh dan terduduk di pangkuannya..
Ziana memberontak, ingin turun. Namun, Arsen tidak mau melepasknanya..
"Kua belum menjawab pertanyaanku."kata Arsen menatap mata Ziana yang tengah melihatnya..
"Lepaskan aku mau mandi!" ucap Zoya, berusah melepaskan dekapan Arsen.
"Tidak semudah itu, ada syaratnya"kata Arsen tersenyum smirk.
"syarat? Apa?"tanya Ziana.
"Cium aku"Jawab Ziana.
" AAPAAA" Teriak Ziana.
~_~
"Oma, apa ini tidak terlalu keterlaluan?"tanya Sila ya hanya di balas
"Tidak, mungkin memang seperti ini lah jodoh nya"balas Oma Yu
"Oma, Oma... "
~_~
Arsen membawa Ziana untuk kembali ke kamar nya. "Mandi dan tidurlah, aku akan keluar sebentar!"kata Arsen. Bukan nya menjawab Ziana malah mengabaikan pria itu.
'kalau bukan karena misi Ardi, aku nggak akan sudi mau menikah dengan pria sepertinya' batin Ziana.
"Jangan menatapku seperti itu, nanti kau malah jatuh dalam pesonaku" sindir Arsen yang mendapati Ziana sedang menatapnya.
"Percaya diri sekali" dengus Ziana
"Sudah pergilah sana!" usir ziana.
"Ingat syarat yang ku berikan tadi" kata Arsen sambil memakai jaket.
"Dalam mimpi..." ketus Ziana yang di balas dengan senyum smirk oleh Arsen.
"jangan menungguku, tidurlah " ucapnya yang hendak pergi.
"Siapa juga yang aka menunggumu" dengus Ziana.
Arsen tidak menanggapinya dan dia pun berlalu keluar dari kamarnya dengan wajah yang sangat sulit di artikan.
"Ya allah, apa yang harus aku lakukan?!"teriak Ziana.
__ADS_1
"Kenapa aku bisa terjebak begini sinmh, siapa sebenarnya yang telah melakukan ini semua" dengusnya.
"Aku harus menyelesaikan semua misiku dan aku akan pergi meninggalkan pria menyeramkan itu dan keluarganya yang tidak jelas ini"