
Ziana mendorong Arsen hingga jatuh dari tempat tidur.
"Arggghhh"teriak Arsen kesakitan.
"Apa kau sudah gila?"tanyanya menatap Ziana tajam.
"Kamu yang sudah gila, kenapa kamu tidur di ranjang bersama denganku dan kamu juga memelukku!"balas Ziana, menatap Aesen tak kalau sengit.
"Tc, dasar wanita gila. Apa kau tidak ingat kalau kau lah yang menarikku untuk tidur di sana"
"Jangan mengada - ngada, aku tidak mungkin seperti itu" sangkal Ziana.
"Aish... Bokongku sakit sekali"ringis Arsen.
"apa sesakit itu?"tanya Ziana yang mulai khawatir.
"Menurutmu?"
"Maaf, aku tidak sengaja... Lagian kamu juga sih, kenapa tidur dekat banget" Ziana melihat kondisi Arsen dari kejauhan.
"Tc, ayo bantu aku!" Arsen mengulurkan tangannya. Namun, Ziana malah menggelengkan kepalanya.
"Apa maksud gelengan itu?"
"Kau pasti ingin balas dendam padaku, jadi bangun lah sendiri"kata Ziana berlalu ke kamar mandi.
"tc, kenapa dia sangat berani padaku? Apa dia tidak tahu siapa orang yang sedang di hadapinya ini"guman Arsen menggeleng.
~_~
"Ida, tolong persiapkan kamar utama untuk menyambut cucu menantuku!"suruh Oma Yun pada Ida salah seorang pelayannya.
"Baik Oma" Ida mengangguk dan pamit undur diri untuk mempersiapkan semuanya.
"Sila!"Oma Yun sedikit berteriak untuk memanggil cucu bungsunya itu.
Dengan sidikit berlari Sila datang menghampiri Oma Yun.
"Iya, ada apa oma?"Tanya Sila saat sudah berdiri di samping Oma Yun
"Itu, nanti setelah Ida selesai menyiapkan kamar untuk kakakmu, tolong kamu atur sisanya ya"
"Kalau masaah itu oma tidak usah khawatir, Sila udah mempersiapkan semuanya"jawab Sila.
"Bagus! Kamu meang paling bisa di handalkan"kata Oma.
"Apa ada lagi yang Oma butuhkan?"tanya Sila.
"Tidak pergilah!"Sila pun pergi meninggalkan oma Yun yang sedang menikmati indahnya bunga di taman belakang.
~_~
"Omaaa aku pulang...." teriak Arsen yang berdiri di tengah rumah
__ADS_1
"Oh cucuku sudah pulang" kata oma Yun yang keluar dari kamarnya.
Arsen tersenyum dan menghampiri Oma Yun. "Bagaimana keadaan Oma" Arsen mencium tangan Oma dan di ikuti oleh Ziana yang sedari tadi mengekor di belakang Arsen.
"Semuanya baik. Bagaimana dengan bulan madu kalian?"tanya Oma yang masih memegang tangan Ziana.
"Semuanya juga baik Oma" jawab Ziana tersenyum kecil.
"Apa kalian sudah melakukannya?" Ziana menatap Oma bingung.
"Oma, apa Oma sudah makan?"Arsen mengalihkan pertanyaan.
"Sudah, apa kalian sudah makan?"tanya Oma yun.
"Belum Oma, dan kami sangat kelaparan sekarang, ya kan sayang?"tanya Arsen yang dengan sengaja memeluk pinggang Ziana. Tubuh Ziana tiba - tiba menegang saat merasakan sentuhan Arsen.
"I-iya"
"Ya sudah kalian bersih - bersih lah dulu, biar nanti Ida akan menyiapkan makanan buat kalian"
"Baik Oma, kalau gitu kita ke kamar dulu ya Oma" Arsen pun menggandeng tangan Ziana dan membawanya ke kamar.
Oma Yun tersenyum senang melihat kedekatan cucu dan cucu menantunya itu.
"Anak muda zaman sekarang, cepat banget lengketnya" ucap Oma menggeleng.
"Semoga hubungan mereka semakin lebih baik" Oma Yun pun pergi ke dapur, menyuruh Ida menyiapkan makanan.
"Ingat kesepakatan kita! Awas kalau sampai kau melanggarnya!" tegas Arsen dengan nada dingin.
"Atur aja sekuka hatimu, aku capek"balas Ziana masa bodoh, tanpa memperdulikan Arsen Ziana membaringkan tubuhnya di ranjang king size milik Arsen.
Setelah membersihkan dirinya masing - masing, Arsen pun mengajak Ziana turun kebawa untuk makan.
"Pergilah, aku malas makan. Aku mau tidur saja"kata Ziana kembali membaringkan tutubuhnya di ranjang.
"Jangan becanda, kalau kau tidak turun Oma bisa curiga"kata Arsen, tanpa pikir panjang pria itu menarik Ziana dan menggendongnya membawanya turun kebawa.
"Hey apa yang kau lakukan! Turunkan aku!"kata Ziana meronta - ronta.
"Diam lah, nanti kau bisa jatuh!" kata Arsen.
"Tidak, turunkan aku!"kata Ziana
"Diam, atau aku akan menjatuhknmu dari lantai dua ini!"ancam Arsen dan dengan seketika Ziana pun diam.
Arsen tersenyum kecil, melihat ekspresi Ziana yang ketakutan itu. Arsen membawa Ziana ke meja makan, suasan rumah terlihat sangat sepi, karena Sila dan Tasya yang masih berada di kampus mereka.
"Ayo kita makan,aku sudah lapar" Arsen menarik kursi di sebelah Ziana.
"Makanlah, aku akan menemanimu." kata Ziana
"Kau juga harus makan"
__ADS_1
"Aku tidak lapar"
"Aku bilang makan ya makan! Aku tidak suka penolakan."kata Arsen dengan nada tidak bisa di bantah.
"Tc, Iya - iya, dasar sok berkuasa"dengus Ziana pelan.
"Kau bilang apa?"tanya Arsen yang mendengar ucapan Ziana.
"Tidak, ayo makan" Ziana mulai mengambil makanan dan memakannya. Arsen hanya diam memperhatikannya.
"Kenapa?"tanya Ziana yang merasa risih di tatap seperti itu.
"Apa kau tidak akan mengambilkan makanan untukku?"
"Kau kan punya tangan, jadi ambil lah sendiri!"balas Ziana melanjutkan makannya.
"Apa aku harus menerangkan apa tugas istri? Ayo ambilkan aku makanan!"
"Nggak mau,ambil sendiri"
"Ambikan atau aku akan...."
"Tc," Ziana langsung mengambil piring Arsen dan mengambilkan pria itu makanan. Bagaimana tidak, Arsen tiba -tiba mengeluarkan pisau lipat yang entah dari mana datangnya dan pria itu memainkan pisau itu di depan wajahnya.
"Gitu dong, kan enak kalau kamu nurut gini" ucap Arsen , menyimpan pisaunya kembali.
Merekapun menikmati makannya dengan keadaan diam, Ziana benar - benar tidak mengeluarkan suaranya sedikitpun dia takut salah bicara dan nyawanya akan melayang.
Setelah selesai makan Arsen langsung ke ruang kerjanya. Sementara Ziana, dia pergi ke kamar Oma untuk memeriksa keadaan Oma Yun.
Tok... Tok... Tok..
"Masuk aja!"sahut Oma dari dalam
"Oma, lagi ngapain?"tanya Ziana yang.sedang berjalan mendekati Oma yun yang sedang duduk di sofa.
"Ini, oma sedang melihat foto masa kecil ketiga cucu Oma. Ayo sini duduk, kita lihat sama - sama, sekali Oma akan mengenalkan keluarga kita pada kamu"kata Oma.
Ziana dengan senang hati duduk di sebelah Oma Yun. Melihat satu persatu foto yang ada di dalam Album foto yang di pegang oma Yun.
"Apa kamu tahu, bocah menggemaskan ini siapa?"tanya Oma Yun. Ziana pun menggeleng.
"Ini Arsen nak, dia sangat menggemaskan saat kecil"
"Oma serius kalau ini dia?"tanya Ziana yang tidak percaya.
"Iya, kenapa? Apa kamu tidak percaya?"tanya Oma yu , dan Ziana menggeleng, Oma Yun tersenyum dan melanjutkan melihat fotonya.
"Dia terlihat sangat berbeda, kemana wajah polos ini sekarang?"tanya Ziana saat melihat foto Arsen saat remaja.
"Di mata Oma dia selalu polos dan menggemaskan"ucap Oma, Ziana hanya tersenyum.
'yang benar sjaa, muka menyeramkan seperti itu di bilang menggemaskan'batin Ziana.
__ADS_1