ARSEN The Good Husband

ARSEN The Good Husband
Bab 27


__ADS_3

Sudah 4 jam Arsen duduk menjaga Ziana, namun pria itu seperti enggan untuk beranjak barang sebentar. Bahkan Bram sudah menyuruhnya untuk melakukan pemeriksaan karena tadi Arsen juga terkena beberapa serangan dari orang - orang itu.


"Tuan apa anda lapar? Apa perlu saya belikan makanan?"tanya Bram yang sudah khawatir dengan keadaan tuannya itu.


"Aku tidak lapar, kamu pergilah makan dan belikan juga untuk semuanya."


"Tapi tuan..."


"Apa telingamu itu sudah tidak berfungsi lagi?!"desis Arsen menatap Bram tajam.


"Jangan ganggu aku, dan tolong kamu pastikan mereka berempat di kurung di markas, setelah Zia sadar aku akan membuat perhitungan dengan mereka." ucap Arsen


"Baik tuan dan saya dapat kabar kalau Martin sudah berhasil di tangkap."kata Bram.


"Bagus, kurung mereka dan aku sendiri yang akan memberikan hukuman untuk mereka."


Bram menganghuk dan dengan sopan berlalu keluar daei ruangan itu.


Sekarang Arsen kembali menatap Ziana, dia tersenyum tipis sambil mengusap tangan gadis itu.


"Kau dengarkan, aku sudah berhasil menangkap bajingan itu dan aku harap kamu cepat sadar agar kamu bisa membalaskan semua perbuatan mereka kepada mu kemarin."kata Arsen. Tidak ada gerakan, yang terdengar hanya bunyi alat yang terhubung ke badan Ziana.


"Hei ayo bangunlah, kalau kau tidak mau mendapatkan hukuman dariku." masih tidak ada perubahan.


"Baiklah, kalau itu keputusanmu. Awas kau saat sadar nanti akan aku pastikan kau akan habis di tanganku!"ancam Arsen.


~_~


Oma mendatangi kamarnya Sila, dia penasaran kenapa Arsen belum juga membawa Ziana pulang. Bukankah gadis itu akan di rawat di rumah?


"Sila.... " panggil Oma di depan pintu kamar Sila


"Iya oma, " Sahut Sila, tak lama pintu kamar pun di buka oleh Sila.


"Iya Oma, ada apa?"tanya Dila berdiri di depan Oma.


"Tadi, bukan kah kamu bilang kalau Ars akan membawa Ziana pulang? "tanya Oma.


"Iya oma, tadi kak Ars mengatakanya."


"lalu kenapa mereka belum juga kembali? Ziana di rawat di rumah sakit mana?"tanya Oma dengan tidak sabaran.


"Oma yang sabar ya, tunggu Sila hubungi kakak dan menanyakan di mana mereka sekarang." kata Sila mengambil ponselnya yang di letakkannya di atas tempat tidur.

__ADS_1


"Ayo Oma kita duduk di sana aja" Sila mendorong kursi roda oma menuju ke sofa yang ada di balkon rumah.


"Cepat hubungi Ars!"perintah Oma saat melihat Sila sudah duduk di sofa.


"Iya" Sila pun mencari nomor ponsel kakaknya itu.


Deringan pertama.....


Deringan kedua....


Deringan ketiga.....


"Oma, kakak tidak mengangkatnya..."


"Kamu hubungi Bram saja, dia pasti sedang bersama dengan Ars!"potong oma.Sila pun mengangguk mengiyakan dan menghubungi Bram.


Deringn pertama....


Deringan kedua...


Deringan ke tiga...


'Iya , halo Sila..l"sapa Bram dari sebrang sana


'Iya Sila, tuan sedang bersama saya. Ada apa?" tanya Bram.


"Kapan kak Zia akan dibawa pulang? Kenapa la.a sekali?!"tanya Sila.


'Nona akan di bawa pulang saat dia sudah bisa melewati masa kritisnya' jelas Bram.


"Apa separah itu?"tanya Sila.


'Iya nona,' balas Bram


"Di mana kakak?"


'Tuan sedang menjaga nona di dalam ruang icu'


"Lalu keadaan kakak bagaimana, apa dia sudah di obayi juga?"tanya Sila dengan nada ketara khawatir.


'Belum nona, tuan tidak mau di periksa. Dia tidak mau meninggalkan nona Ziana barang sebentar'


"Apa? Kak Bram, kau ini bagaimana. Seharusnya kau memaksa kakak untuk diperiksa kalau tidak suruh saja dokternya memeriksa keadaan kakak dalam ruangan kak Zia!"suruh Sila,

__ADS_1


'Tapi no...'


"Aku tidak mau tahu pokoknya kakak harus di obati secepatnya dan kalau sampai terjadi sesuatu yang tidak di inginkan pada kak Ars, maka orang yang bertanggung jawab akan hal itu adalah dirimu dan akan aku pastikan kau akan mendapatkan hukuman yang tidak pernah kau bayangkan!"bentak Sila memotong ucapan Bram.


'Non...'


Tut... Tut...


Sila sudah mematikan sambungan telponyan, " Dasar kakak dan adik sama saja." dengus Bram kesal.


"Bagaimana mungkin aku bisa memaksa kakaknya itu? Dia seperti tidak mengenal kakaknya seperti apa." Bram hanya bisa pasrah dengan semua ini.


Dan dia akan menvoba saran dari Sila yaitu menyuruh dokter untuk memeriksa Arsen di dalam ruang Icu.


Sementara Sila, dia berusaha menjelaskan pada Oma bagaimana keadaan Ziana dan kakaknya sekarang.


"Oma, Sila mohon mengertilah. Kita sedang tidak boleh keluar sama kak Ars, jadi Oma harus sabar menunggu mereka pulang." jelas Sila yang sedari tadi terkena amukan Oma.


"Bagaimana oma bisa sabar Sil, sementara cucu dan cucu menantu oma sedang ada di rumah sakit" Oma Yun sudah mulai menangis dan sepertinya trauma oma akan kambuh lagi. Dengan sikap tenang Sila masuk kedalam kamar dan mengambil obat penenang untuk oma.


"Hiks.... Hiks... ARRGGGHHHH...."Teriak oma histeris.


"Hais, kenapa harus sekarang" dengus Sila, dengan ceat keluar kamar dan menyuntikan obat itu ke lengan oma. Dan seketika oma jadi tenang dan lemas.


"Maaf kan Sila Oma" ucap Sila pelan. Kemudian mendorong kursi roda oma masuk ke dalam kamarnya. Karena kamar oma berada di lantai bawah dan Sila sedang tidak ingin kemana - kemana. Walaupun menggunakan lift, tapi menurut Sila lebih baik omanya i kamarnya dan dia pun bisa memantaunya.


~_~


"Bagaimana sekarang? Apa yang harus di lakukan?"tanya seseorang berjas hitam pada pria yang sedang duduk di kursi kerja.


"Dasar bodoh? Kenapa kau tidak bisa mengatasi seorang gadis lemah seperti Ziana?!"bentak pria itu dari balik kursinya.


"Tapi tuan, anda tau sendirikan kalau gadis itu sangat keras kepala dan dia tidak takut apa pun."


Pria itu hanya diam, pria berjas itu tampak gelisa.


"Tuan..."


"Habisi Ziana, bagaimana pun caranya!"ucapnya menyela ucapan pria berjas.


"Tapi tuan..."


"Apa kau tidak punya telinga?! Pergilah!"seru pria itu tegas , dia pun tersenyum misterius.

__ADS_1


"Maafkan aku Zia, mungkin waktumu sudah habis bagiku dan aku akan mengirimmu ketempat kedua orang tuamu." gumamnya.


__ADS_2