
Setelah memeriksa keadaan Oma, Ziana pun kembali ke kamarnya. Lebih tepatnya, kamar dia dan Arsen. Saat tiba di kamar Ziana tidak menemukan Arsen di sana.
"Kemana dia?" Ziana melihat ke sekeliling dan hasilnya dia tidak menemukan keberadaan pria itu.
"Baik lah, karena dia tidak ada lebih baik aku mencari sesuatu yang di butuhkan Ardi" gumamnya. Ziana pun mencoba mencari sesuatu yang mencurigakan di dalam kamar itu.
Setiap sudut Zia periksa, dia tidak membiarkan satu senti pun terlewatkan dari pemeriksaannya.
"Tidak ada apa - apa, dimana ya aku bisa menemukannya?" gumam Ziana.
"Menemukan apa?"
Deg!
Ziana kaget saat mendengar suara yang berasal dari belakangnya itu.
Tap! Tap! Tap!
"Apa kau tuli? Apa yang sesang kau cari?"tanya Arsen yang saat ini berdiri di hadapan Ziana.
"Eh... I- itu aku mencari ikat rambutku, apa kau melihatnya?"tanya Ziana yabg berusaha mengontrol kegugupannya.
"Ikat rambut? Benerkah kau mencari itu, bukan yang lainnya?"tanya Arsen dengan tatapan penuh selidik.
"Apa maksud kamu yang lainnya? Lagi pula apa tang bisa aku cari di kamar mu ini?" balas Ziana dengan berani dia menatap wajah Arsen.
Arsen tidak menjawab, pria itu berjalan menuju lemari dan mengambil stelan jasnya.
"Kamu mau kemana?"tanya Ziana yang melihat Arsen berjalan ke kamar mandi dengan stelan yang dibawanya itu.
Arsen menghentikan langkahnya, berbalik dan menatap Ziana.
"Apa kau mau ikut?"tanya Arsen.
"Kemana?"
"Berburu." jawab Arsen enteng.
"Berburu? Kalau kamu pergi berburu, lalu kenapa kamu mengambil stelan jas bukannya baju yang untuk berburu?"Ziana tidak mengerti dengan jalan pikir pria yabg ada di hadapannya ini.
"Ini stelan berburuku"kata Arsen.
"Dasar aneh" ucap Ziana, berjalan menuju ranjang.
"Jadi, bagaimana? Apa kau mau ikut?"tanya Arsen
"Ogah, kau pergi saj sendiri, berburuh lah sendiri deng gayamu itu" balas Ziana, mulai menutup matanya.
__ADS_1
"Apa kau yakin?"tanya Arsen lagi.
"Sangat yakin."balas Ziana
Arsen pun mengedikkan bahunya dan berlalu ke kamar mandi.
~_~
Arsen sampai di kantornya, dia langsung masuk ke ruangannya dengan di ikuti sekretarisnya dari belakang.
"Bagaimana? Apa mereka sudah menyelesaikan semuanya? Apa ada kendala lagi?"tanya Arsen, membuka jasnya dan menyangkutkannya ke gantungan jas yang tidak jauh dari mejanya.
"Semuanya sesuai dengan keinginan kita bos, namun hanya ada beberapa perusahaan kecil yang belum melakukan pembayaran" jelas sang sekretaris sambil menyerahkan beberapa berkas kepada Arsen.
Arsen mengecek berkas tersebut dengan sangat jeli dan teliti.
"Mutasi saja mereka dan pastikan mereka tidak akan pernah mendapatkan pasokan barang dari mana pun"kata Arsen dengan nada dingin.
"Baik bos"
Setelah menanda tangani beberapa berkas itu, Arsen pun menyerahkan berkas itu kembali.
"Dan kamu beri pengumuman untuk semua perusahaan yang telah bergabung, untuk tidak memberikan bantuan dlaam bentuk apa pun pada mereka. Dan kalau sampai ketahuan, mereka juga akan bernasib sama"Kata Arsen.
"Baik bos,kalau begitu saya permisi" Arsen mengangguk, Sekretarisnya pun berjalan kelur ruangan itu.
Drrrtttt...
"Oma?"
Dengan cepat Arsen pun menerima panggilan itu.
"Halo oma, iya ada apa?"
'kamu dimana?' tanya Oma.
"aku lagi di kantor Oma"
'Kantor? Oh astaga, Ars, ini sudah jam berapa? Kenapa kamu masih di kantor jam segini' Oma tidak habis pikir dengan cucunya itu.
"Ada sedikit pekerjaan yang tidak bisa di tunda oma"
'Kamu ini terlalu gila kerja, apa kamu tidak capek? Ayo cepat pulang beristirahat dan habiskan waktu bersama waktu bersama istrimu!' ujar Oma, Arsen memutar bola matanya malas.
"Tapi Oma..."
' Tidak ada tapi - tapian, pokoknya dalam waktu 30 menit oma sudah melihatmu di rumah!' tgeas Oma Yun, tanpa mengucapkan salam Oma Yun langsung menutup panggilan secara sepihak.
__ADS_1
Arsen mendengus, " Ngapain aku berada di rumah, aku sangat bosan melihat wajah gadis itu" ucapnga kesal.
Walau pun kesal, namun Arsen tetap menuruti perintah Oma nya.
~_~
Ziana masih tidur di dalam kamarnya, dia tidak tahu kalau saat ini Arsen sedang mengutuknya sepanjang perjalanannya menuju rumah. Arsen beranggapan kalau Ziana lah orang yang sudah mengasut Omanya.
"Awas kau gadis aneh"
Malam ini Arsen sengaja tidak membawa supir, karena rencana nya malam ini dia tidak pulang dan akan menghabiskan waktunya di kantornya.
Tak butuh waktu lama Araen sampai di rumh, dan dia sudah di sambut oleh Oma Yun dan Sila yang sedang menonto tv.
"Assalamualaikum Oma" Arsen mencium tangan Omanya.
"Kamu sudah pulang? Ayo duduk sini!"Oma Yun menepuk sisi sofa sebelahnya.
Dengan patuh Arsen duduk di samping Omanya.
"Ada apa Oma menyuruh Ars untuk pulang cepat?"tanya Arsen dengan nada lembut.
"Nak, apa kamu tidak capek? Kmau baru pulang dari perjalanan jauh lo dan lagi pula kasihan istri kamu yang di tinggal sendiri" kata Oma.
"Oma aku tidak capek sama sekali, lagi pula Oma kan tahu sendiri kalau aku sudah biasa melakukan perjalanan jauh seperti itu dan masalah istri aku, dia sedang tidur dan tidak akan mau di ganggu. Makanya Ars memilih untuk ke kantor"
"Tetap saja, meski kamu sudah biasa, tapi Zia belum biasa. Ingat nak dia masih baru di keluarga kita, dia pasti merasa sangat canggung dengan kelurga barunya iniljelas Oma.
Arsen hanya diam, lagi pula menjawab pun percuma hanya akan menambah masalah.
"Baiklah, kalau gitu Ars ke kamar dulu" Arsen pun berdiri dari duduknya dan berlalu dari ruangan itu.
Dengan langkah lebarnya, Arsen sampai di depan kamarna dan masuk ke dalam kamarnya itu. Arsen tidak lupa untuk mengunci pintu.
Pria itu terkejut melihat keadaan Ziana yang sedang tidur dengan posisi mengangkang dan kepala terjuntai kebawa.
"Apa dia meninggal?"guma Arsen. Berjalan dengan perlahan, mendekati Ziana.
"Hei, gadia aneh, apa kau masih hidup?" Arsen menyentuh pipi Ziana dengan pelan.
"Hey! Gadis aneh! Jangan becanda!"seru Arsen.
Arsen berusaha menggoyangkan tubuh Ziana, namun hasilnya tetap sama.
"Baiklah, haya ini cara yang tersisa"kata Arsen, dengan cepat ia mengambil air yang ada di meja depan sofa.
Ciprat~ Ciprat~
__ADS_1
"Arrrgghh hujan - hujan!" teriak Zina.
Hahahaha....