
Tadi pagi Bram dapat kabar dari anak buahnya, kalau mereka telah menemukan lokasi penyekapan Ziana.
Tidak mau membuang - buang waktu lebih lama lagi, Arsen pun bergegas pergi ke tempat penyekapan itu.
Saat tiba di lokasi, Arsen menoleh ke arah Bram. Seakan mengerti , Bram pun berjalan menjauh dari Arsen.
Di dalam ruangan itu begitu banyak pintu, dan Arsen membuka setiap pintu dan mencari keberadaan Ziana di dalam nya.
"Ini pintu terakhir, aku harap kamu ada di dalam" ucap Arsen.
Arsen membuka pintu itu dengan paksa, betapa kagetnya dia mendapati Ziana yang sedang terduduk lemas dengan luka lebam di mana mana.
"Zia..." Ziana menggelengkan kepalanya seakan memberikan kode. Arsen yang mengertipun, menjadi was - was dan mengguk pada Ziana.
"A... Ars..." lirih Ziana yang terdengar sangat memilukan bagi Arsen.
Arsen melangkah dengan hati - hati, mendekati Ziana. " Ziana.." panggilnya, dan langsung mendekap tubuh Ziana.
Blam!!!
Seketika pintu tertutup dan keluarlah 4 orang pria bertubuh besar dari balik pintu.
"Ars..."Arsen menutup mulut Ziana dan menggeleng.
"Kamu jangan takut." bisik.
"Mau apa kalian?"tanya Arsen.
"Kami menginginkan kematian kalian berdua." jawab salah satu pria.
"Tc, Benarkah..."Arsen bersikap setenang mungkin, melindungi Ziana adalah pioritasnya saat ini.
"Apa pun yang terjadi, kamu tetap lah di belakangku." kata Arsen, Ziaa pun mengangguk.
"Hati - hati" ucap Ziana. Arsen mengeluarkan pisto dari saku celananya.
"Sebenarnya aku sangat malas menyakiti orang hari ini, tapi karena kalian yang memintanya... Ya apa boleh buat." ujar Arsen, yang mendaatkan tatapan remeh dari ke empat pria itu.
"Haha... Sepertinya kau tidak takut dengan kami"
"Hey... Seharusnya itu kata - kata dari ku." Arsen tetap berisikap siaga.
"Banyak omong."
__ADS_1
Dorrrr!
Pria yang bertubuh paling besar menembakkan pelurunya ke arah kaki Arsen. Untung Arsen dapat menghindarinya.
"Hei,santai bro..." ucap Arsen.
"Kalian jangan buang - buang waktu lagi, cepat habisi mereka!" seru pria yang sepertinya, dia adalah bos dari mereka.
Mereka pun mulai menerjang Arsen dan Ziana. Awalnya Arsen merasa sangat kewalahan, karena dia harus melindungi Ziana yang sudah tidak berdaya.
Bugh!
Salah satu pukulan pria itu mengenai Ziana, hingga gadis itu terhuyung dan terjatuh.
"Awww..." teriak Ziana.
"BRENGSEK!!! BERANINYA KAU!!!"Umpat Arsen, dengan sekali pukulan pria itu langsung jatuh pingsan dengan darah yang mengalir di hidungnya.
"Bukan kah, sudah ku bilang untuk santai!"ucap Arsen menendang perut pria itu.
"Ars.... " panggil Ziana. Arsen menoleh dan mendekati Ziana.
"Kau tidak apa - apa? Bertahan lah sebentar, aku akan menyelesaikan semuanya dengan cepat." ucap Arsen.
Setelah memastikan semua pria itu tumbang,Arsen pun menghampiri Ziana .
"Ayo, bertahan lah." Arsen membantu Ziana untuk berdiri.
"Kau lihat, mereka semua tumbang, dan aku hanya mmbutuhkan waktu 30 menit" ucap Arsen sombong.
"Dasar sombong!"dengus Ziana.
Ziana melihat ke empat pria itu dan betapa kagetnya dia saat melihat ada satu orang pria yang masih sadar dan mengarahkan pistolnya pada Arsen.
"ARSEN!!" teriak Ziana.
DORRR!!!
~_~
Sila berlari ke kamar Oma, dia tidak sabar ingin memberikan kabar pada Oam kalau Ziana, cucu menantu ke sayangan omanya itu telah di temukan.
"Oma.... Oma, aku punya kabar baik."kata Sila,
__ADS_1
"Sila, kamu kenapa lari - lari gitu?"tanya Oma, saat melihat Sila yang terengah - engah.
"Itu oma... Itu, kak Zia... Kak Zia.."ucap Sila terpotong - potong.
"Sila, sebaiknya kamu tarik napas dulu. Selesaikan dulu itu napasnya, oma tidak mengerti kamu ngomong apa.lkata Oma.
"Baiklah, tunggu sebentar" Sila pun menenangkan dirinya lebih dulu.
"Udah baiklah. Oma, kak Zia sudah di temukan..."
"Benarkah itu? Sekarang dimana dia?"potong Oma tidak sabaran.
"Oma, sabar dulu. Dengarkan dulu perkataan Sila sampai selesai." kata Sila.
"Baik lah, ayo cepat katakan"
"Kak Zia sudah di temukan dan sekarang di sedang di rawat di rumah sakit." jelas Sila.
"Dirawat? Dia kenapa , sampai di rawat?"tanya Oma.
"Kata kak Ars, kak Zia kena tembakan"
"Apa? Kalau begitu, ayo kita ke rumah sakit sekarang." kata Oma.
"Tidak oma, kak Ars tidak memperbolehkan kita untuk keluar rumah. Lagi pula sekarang kakak sedang mengurus proses pengomatan kak Zia di rumah."jelas Sila.
"Rawat di rumah? Kenapa tidak di rumah sakit saja?"tanya oma penasaran.
"Kakak masih takut oma, katanya lebih aman di rumah dari pada di rumah sakit."
"Baiklah, sekarang suruh Ida untuk mempersiapkan kamar dan makanan!" seru Oma.
"Baik oma."
~_~
"Dasar gadis bodoh!"umpat Arsen. Dia masih tidak habis pikir. Kenapa Ziana sampai senekat itu menghadang peluru yang seharusnya untuknya itu.
"Sudah tahu lemah, kenapa malah sok kuat pake acara melindungiku segala!" lanjutnya.
Arsen memegang tangan Ziana yang tidak di infus. Hati Arsen di iris - iris saat melihat wajah gadis itu yang penuh dengan luka lebam.
"Apa yang telah mereka lakukan padamu? Kenapa mereka melakukan ini." ucapnya.
__ADS_1
"Akan aku pastika, mereka tidak akan aku ampuni." siapa pun yang melihat mata Arsen sekarang, di yakini kalau mereka akan lari ketakutan. Karena saat ini Arsen benar - benar sedang marah.